Maaf

LifeLearner yang baik, saya selaku pemilik blog LIFESCHOOL mohon maaf. Kesibukan saya sedang sangat tinggi akhir-akhir ini. Dan ada miskomunikasi antara saya dengan asisten pribadi saya. Padahal tiap hari saya sudah menyiapkan tulisan. Semoga Anda semua berkenan dengan ‘rapelan’ posting yang akan segera saya update.

Terima kasih.

Stigma

SKB tiga menteri (Mendagri, Menag, Jaksa Agung) tentang Ahmadiyah akhirnya keluar juga. Munarman yang sempat buron telah menyerahkan diri. Pemerintah meski seolah terdesak oleh Munarman dan laskar Islamnya, tampaknya cukup bijak dengan mengeluarkan SK yang tidak keras. SK tersebut hanya melarang Ahmadiyah menyebarkan ajarannya, namun tidak membubarkan atau membekukan organisasi keagamaan itu.

Toh, ada saja yang menafsirkan SKB tersebut harus ditindaklanjuti dengan pelarangan Ahmadiyah. Walau SKB tersebut secara implisit tidak menyebutkannya. Malah kemarin kepada sebuah stasiun televisi, seorang ulama meminta agar warga Ahmadiyah dibina. Dan selama dibina, KTP-nya harus ditulis Ahmadiyah, bukan Islam!

Astaghfirullah. Saya terkejut pada usulan tersebut. Itu adalah perkataan yang sangat stigmatis. Bagi yang sudah lupa atau malah belum tahu, Orde Baru pernah menerapkan stigma semacam. Stigma itu berupa tanda “ET” dalam KTP semua orang yang pernah menjadi tahanan politik atau tapol. ET adalah singkatan Eks-Tapol. Apakah kita mau mengulangi hal semacam itu?

Bangsa ini baru saja memperingati 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Ini merupakan penanda kesepakatan bangsa untuk menjadi satu nation bernama Indonesia. Kesepakatan ini mengesampingkan perbedaan suku bangsa, agama, ras, dan golongan. Apakah kita akan membiarkan diri mundur 100 tahun ke belakang lagi?

Sirik

Dalam konteks ajaran agama Islam, sirik atau ejaan aslinya “syirik” adalah menyekutukan Tuhan dengan apa pun.Ini termasuk dosa besar bagi muslim. Namun dalam konteks bahasa Indonesia “yang ancur en ngaco”, sirik adalah “kata gaul” untuk “iri hati”. Buat anak muda, dikatain “sirik aja lo” berarti “iri hati saja sih kamu.”

Semua orang pasti menolak kalau dikatakan punya sifat buruk. Dan iri hati ini tentu sifat buruk. Bahkan juga masuk dalam dosa bagi muslim. Tapi seringkali kita melakukannya dalam kehidupan.

Satu tanda iri hati yang paling jelas adalah “tidak senang kalau orang lain senang, dan sebaliknya justru senang kalau orang lain susah”. Ciri fisiknya biasanya mata akan menyipit dan kalau di sinetron, ditambah bibir mencibir. Sebenarnya, sirik itu tanda tak mampu. Bila kita pernah mengatakan kalimat semacam “gitu aja gue juga bisa”, “huh, dia sih orang kaya, pantes sukses”, “anak kemarin sore aja tahu apa”, dan yang senada,  berarti kita masuk kategori iri hati.

Saya sendiri sering sekali begitu. Apalagi yang tampak di permukaan seringkali berbeda dengan kenyataan. Makanya ada istilah don’t judge the book by the cover. Jangan hakimi sesuatu dari tampaknya saja. Kalau ada orang berjenggot dan berjubah, belum tentu dia lebih saleh daripada yang tidak. Kalau ada yang terlihat hidupnya lurus, belum tentu begitu dalam kesehariannya.

Pokoknya, dalam hidup ini, kita tidak berhak menghakimi. Biarlah itu jadi urusan Sang Maha Pengadil di Hari Penghakiman kelak.

Euro 2008

Horee! Musim bola sudah tiba! Siapa jagoan Anda? Tinggal pilih saja. Di grup A ada Swiss, Republik Ceko, Portugal, dan Turki. Di grup B ada Austria, Jerman, Kroasia, dan Polandia. Sementara grup C yang kali ini jadi ‘grup neraka’ dihuni oleh Italia, Prancis, Belanda, dan Rumania. Terakhir adalah grup D yang berisikan Yunani, Swedia, Spanyol, dan Rusia.

Pentingkah sebenarnya Euro 2008 ini? Bagi negara pesertanya, jelas penting. Karena tidak cuma mempertaruhkan gengsi bangsa, tapi juga ada unsur bisnisnya. Tapi buat kita yang tidak terlibat, apakah juga penting?

Ternyata jawabannya ya. Lihatlah betapa gegap gempitanya media menyambut perhelatan ini. Tiga stasiun televisi berbagi hak tayang. Media cetak terutama yang bersegmen berita olahraga pun tak mau ketinggalan. Buku panduan dicetak banyak-banyak. Nonton bareng pun digelar di mana-mana.

Untuk yang terakhir ini, kemarin saya membaca kolom “Politika” mas Budiarto Shambazy di Kompas. Ia dengan cerdik menghubungkan nasionalisme dan nonton bareng. Menurutnya, karena prestasi tim nasional kita tak bergigi, perhatian penggemar beralih ke Piala Eropa 2008. Tapi yang lebih patut digarisbawahi adalah kalimat penutupnya yagn mengatakan bangsa ini gemar nasionalisme nonton bareng. Mereka senang jadi penonton yang pasif saja, suka yang heboh-heboh, dan gampang dialihkan perhatiannya.

Inilah yang saya lihat dari manajemen isyu media massa. Seakan media kita begitu mudah disetir. Sebagai wahana pembentuk opini publik, redaksi media massa begitu mudah teralih. Baru saja minggu sebelumnya ramai memberitakan demo anti kenaikan harga BBM, lantas teralih pada insiden Monas, sekarang malah sibuk membahas peristiwa di negeri orang.

Tentu saja ini merupakan suatu fenomena di zaman modern. Pemanfaatan media secara sengaja atau tidak sengaja untuk mengalihkan isyu publik merupakan dampak dari teori hegemoni Gramsci. Ia mengatakan bahwa pemikiran intelektual dari setiap masyarakat adalah kunci menuju sukses setiap dominasi hegemoni. Dan pemikiran intelektual ini tercermin dari pemberitaan media massa.

Ini diperkuat dengan “Uses & Gratifications model” dari Denis McQuail. Teori ini menerangkan mengapa kita mengkonsumsi media. Menurutnya ada empat sebab:

  1. Kebutuhan untuk meniru tingkah laku kita dengan contoh dan nilai yang ada di media. Ini menerangkan mengapa kita membeli t-shirt tim kesayangan kita.
  2. Kita membutuhkan perasaan berinteraksi dengan orang lain. Ini menerangkan fenomena nonton bareng atau sekedar nonton televisi di rumah, tapi serasa ikut euforia penonton di stadion.
  3. Kita membutuhkan rasa aman. Dengan menjadi pendukung tim yang kita anggap kuat, kita merasa jadi bagian dari mereka.
  4. Kebutuhan untuk hiburan baik sebagai sarana pelepasan emosi maupun pelarian dari kenyataan hidup. Ini sepertinya sedang terjadi di Indonesia, apalagi di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi.

Tak heran, Wakil Presiden Jusuf Kalla sampai sempat-sempatnya hadir di studio televisi saat siaran langsung upacara pembukaan. Ini menunjukkan, betapa bangsa ini ternyata sangat membutuhkan hiburan sekaligus panutan. Dan terpaksalah itu dicari dari benua seberang. Nikmati sajalah, mumpung siarannya gratis toh?

Menang Tanpo Ngasorake

Bagi Anda yang orang Jawa, mungkin sudah tahu peribahasa tersebut. Lengkapnya adalah Sugih Tanpo Bondho, Digdoyo Tanpo Adji, Nglurug Tanpo Bolo, Menang Tanpo Ngasorake. Terjemahannya: “Kaya Tanpa Harta, Sakti Tanpa Ajian, Menyerbu Tanpa Pasukan, Menang Tanpa Merendahkan.” Mungkin masih ada yang ingat, Soeharto almarhum beberapa kali menyebut peribahasa ini dalam konteksnya memperlakukan Soekarno. Biasanya disusul dengan peribahasa lain Mikul Duwur, Mendem Jero. Artinya “Mengangkat jasa seseorang Tinggi-tinggi seraya membenamkan kesalahannya dalam-dalam.” Keempat peribahasa pertama termasuk yang jadi judul posting ini terdapat dalam Serat Wedhatama karya Sultan Mangkunegoro IV.

Ungkapan tadi sebenarnya bukan cuma peribahasa, namun merupakan falsafah hidup orang Jawa. Dalam kajian filsafat, meski termasuk minor dan belum diakui, filsafat Jawa termasuk kategori filsafat Timur. Di dalamnya ada Cina, Jepang, dan India. Salah satu perbedaan mendasar filsafat Barat dan Timur adalah filsafat Timur dijadikan pula sebagai pegangan hidup atau way of life bagi masyarakatnya. Artinya, ia dijadikan semacam agama pula bagi mereka yang meyakini.

Dalam hal ini, seringkali kita dalam kehidupan yang keras ini begitu ingin mengalahkan lawan. Dengan kekerasan kalau perlu. Baru-baru ini saya pun harus menghadapi sejumlah tantangan. Namun ternyata, cuma dengan bersabar dan membiarkan waktu berlalu, saya telah menang tanpo ngasorake karena telah juga berhasil nglurug tanpo bolo. Tentu saja, itu bukan berarti pasif dan diam. Saya dan tim menyiapkan jurus rahasia ala Khoo Ping Hoo. Beberapa sudah dilepaskan, tapi masih banyak yang belum. Dan ternyata ada lawan saya yang sudah kelenger walau saya belum bergerak, baru pasang kuda-kuda.

Ini jadi pelajaran bagi saya -dan semoga juga bisa untuk LifeLearner-, bahwa terkadang diam akan membawa pada kemenangan.  Bersiasat dalam keheningan akan mampu membawa kejayaan. Seperti juga diajarkan Sun-Tzu, kita harus menyerang dalam kegelapan dan keheningan agar membawa kemenangan. Unsur pendadakan sangat penting. Seperti dipraktekkan Nazi Jerman dengan Blitzkrieg-nya atau malah musuhnya Sekutu yang melakukan Normandy Invasion. Hidup adalah perang, dan kita harus menang! Ci Vis Pacem Para Bellum!

Obama, Akhirnya…

Hari Sabtu ini kita jalan-jalan ke Amerika Serikat. Di negeri superpower itu tengah dilangsungkan prosesi suksesi Presiden. Kedua aliansi partai politik utama di A.S. yaitu Demokrat dan Republik masih menempuh prosedur internalnya untuk mencari kandidat terbaik yang akan diajukan dalam Pemilu 4 November 2008 mendatang. Republik telah lebih dulu menyelesaikan prosedurnya dan menetapkan John Mc.Cain sebagai kandidat mereka. Sementara di kubu Demokrat tampaknya Obama telah memenangkan pemilihan, walau resminya masih akan ditetapkan dalam konvensi tanggal 25-28 Agustus 2008 mendatang.

Sebenarnya, ketiga kandidat Presiden akan mengukir sejarah andaikata terpilih. John Mc.Cain dari Republik akan jadi Presiden A.S. tertua yang terpilih. Sementara Hillary Clinton akan jadi wanita pertama yang jadi Presiden A.S. Dan Obama tentu saja akan jadi warga negara A.S. keturunan Afro-Amerika pertama yang menduduki tahta tertinggi negara multikultur itu.

Andaikata Obama terpilih, tentu akan terjadi perubahan mendasar dari sejumlah kebijakan pemerintah A.S. Namun yang penting bagi negara di luar A.S. termasuk kita di Indonesia adalah bagaimana Presiden A.S. mendatang akan menetapkan kebijakan luar negerinya. Hingga saat ini, dalam sejumlah pernyataannya Obama mengeluarkan ‘kisi-kisi’ tentang rencana kebijakan luar negerinya. Antara lain:

  • Menjamin dukungan terhadap Israel dalam segala konflik yang terjadi tentang negeri itu.
  • Akan menarik pasukan A.S. secara bertahap dari Irak. Namun tidak menyebutkan jelas bagaimana dengan pasukan pendudukan A.S. di negara lain seperti Afghanistan.
  • Beberapa kali berupaya meyakinkan A.S. akan menjadi negara yang memperhatikan sekutu-sekutunya.
  • Belum mengeluarkan statement tentang perdagangan dengan China mengingat negara itu kini membanjiri banyak negara termasuk A.S. dengan produk murahnya.

Sekedar catatan, Obama dikritik lemah dalam kebijakan politik luar negerinya. Hal ini antara lain pernah diulas oleh majalah Time edisi 18 Desember 2007. Kritikan yang sebenarnya dilansir oleh Hillary Clinton sebagai tanggapan atas pernyataan Obama sendiri. Ia meragukan pernyataan Obama yang mengatakan bahwa empat tahun masa kecilnya di Indonesia telah membantu dirinya mengembangkan pandangan terhadap dunia dan memberikannya pijakan bagi tataran dunia. Hillary Clinton meragukan anggapan bahwa hidup di luar negeri pada usia 10 tahun akan mampu mempersiapkan seseorang menghadapi permasalahan dunia yang kompleks sebagaimana akan dihadapi oleh seorang Presiden A.S.

Sebenarnya masalah kebijakan luar negeri Obama tidak semata soal latar-belakang multi rasnya dan pengalamannya tinggal di Indonesia. Jadi, baiknya Anda sendiri yang menilainya dari pernyataan Obama yang dilansir dalam kampanye di Des Moines, Iowa pada 10 November 2007. Kutipan ini diambil dari situsnya sendiri http://www.barackobama.com.

“When I am this party’s nominee, my opponent will not be able to say that I voted for the war in Iraq; or that I gave George Bush the benefit of the doubt on Iran; or that I supported Bush-Cheney policies of not talking to leaders that we don’t like. And he will not be able to say that I wavered on something as fundamental as whether or not it is ok for America to torture — because it is never ok… I will end the war in Iraq… I will close Guantanamo. I will restore habeas corpus. I will finish the fight against Al Qaeda. And I will lead the world to combat the common threats of the 21st century: nuclear weapons and terrorism; climate change and poverty; genocide and disease. And I will send once more a message to those yearning faces beyond our shores that says, “You matter to us. Your future is our future. And our moment is now.”

Nyamuk

Sesungguhnya ALLAH tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari RABB mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud ALLAH menjadikan ini untuk perumpamaan?” Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan ALLAH, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-NYA petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan ALLAH kecuali orang-orang yang fasik. [Al-Qur'an surat Al-Baqarah (2):26].

Sebagai orang yang masih berjuang, saya kerapkali harus tidur di kantor. Kebetulan salah satu kantor saya dikelilingi tanah kosong bersemak yang potensial jadi sarang nyamuk. Akibatnya, tak jarang malam-malam saya harus bergulat dengan nyamuk. Meski sudah disemprot obat nyamuk, toh mereka seakan tak ada habisnya. Tak heran, karena dulu saya pernah membaca jumlah nyamuk di dunia 5 kali lipat jumlah manusia. Bila saat ini jumlah umat manusia 5 milyar orang, berarti ada 25 milyar ekor populasi nyamuk di bumi!

Saat saya bergadang menyelesaikan pekerjaan, saya kerap memperhatikan mereka. Baik yang sudah mati bergelimpangan kena semprotan obat nyamuk atau tepukan tangan, maupun yang masih terbang dengan riang. Dan saya seakan diberi kesempatan untuk merenungkan ayat di atas. Ternyata, binatang yang kita pandang remeh, pengganggu bahkan penyebar penyakit itu adalah pejuang!

Coba pikirkan, betapa mereka rela mati dalam mencari makan! Tak bisa dipungkiri, makanan nyamuk satu-satunya adalah darah. Dan karena darah berada dalam tubuh makhluk hidup lain yang tidak rela diambil, maka semua nyamuk senantiasa terkena ancaman pembunuhan. Apakah komunitas nyamuk lantas berhenti mencari makanannya yang berupa darah dan beralih jadi makan nasi pecel? Tentu tidak! UN alias United Nyamuk tetap sepakat untuk makan darah. Meski itu berarti harus tetap menghadapi resiko mengorbankan nyawa sesama mereka.

Itulah yang saya pikirkan dan koneksikan dalam kehidupan kita. Seringkali sulitnya keadaan dalam mencari rezeki membuat kita seolah hendak menyerah saja. Padahal, kesulitan itu bahkan tidak sampai melukai kita, apalagi mengancam jiwa kita.  Jadi, kenapa musti berhenti dan menyerah? Tidak ada pilihan lain selain terus maju dan berjuang mencari rezeki.

Apalagi kita sebagai manusia dianugerahi banyak kelebihan dibandingkan nyamuk, terutama akal-budi. Dengannya kita bisa meng-up grade kemampuan kita. Kalau nyamuk, dari zaman Ice Age sampai The Day After Tommorow (dua-duanya judul film bow!) kemampuannya mencari rezeki ya begitu-begitu saja. Makanya, jangan putus asa. BBM boleh naik, tapi kita harus tetap berjuang! Masa’ kalah sama nyamuk?

Isyu Media Seputar Insiden Monas 1 Juni 2008

Sejak hari Minggu kemarin, laporan utama media massa diwarnai oleh pro-kontra seputar peristiwa penyerangan sekelompok massa beratribut FPI dan KLI atas aksi damai yang dilakukan AKKBB. Penyerangan itu sendiri adalah sebuah fakta, namun yang berkembang kemudian melebar menjadi masalah-masalah lain. Sebagai seorang yang biasa melakukan media analysis atau analisa media, saya mencoba menggambarkan isyu-isyu yang berkembang seputar peristiwa tersebut.

  • Kelompok penyerang: Ada yang menyebut FPI, namun seorang lelaki bernama Munarman menyebut itu adalah KLI. Faktanya, kedua kelompok terlibat. Hanya saja, saya meragukan apakah yang disebut KLI itu ada massanya.
  • Munarman yang mantan Ketua YLBHI justru menggeser isyu kepada pencemaran nama baik terhadap dirinya yang dilakukan oleh Koran Tempo edisi Senen, 2 Juni 2008. Dalam konferensi pers yang dilakukannya bersama Habib Rizieq Shihab sang Ketua FPI, ia bahkan menuntut Goenawan Mohammad untuk sujud kepadanya.
  • Habib Rizieq Shihab menyatakan akan melawan setiap penangkapan terhadap laskar.
  • Kelompok penyerang mengatakan kalau penyerangan disebabkan kelompok yang diserang membela Ahmadiyah. Mereka mengatakan Ahmadiyah adalah organisasi kriminal. Sebenarnya ini tidak membenarkan apa pun, tapi dalih ini menunjukkan kelompok penyerang merasa berhak menghukum yang diserang.
  • FPI meminta pemerintah membubarkan Ahmadiyah. Kalau tidak bahkan ada ancaman pembubaran paksa oleh FPI.
  • Tanggapan balik oleh pihak di luar FPI yang sebenarnya bukan termasuk AKKBB. Misalnya Gus Dur yang mengeluarkan pernyataan keras. Karena Gus Dur adalah ‘wali’ yang jadi panutan bagi Nahdliyin, pernyataannya direspons dengan kesiapan sayap paramiliter NU yaitu Banser untuk membubarkan FPI.
  • Berbagai kelompok ikut-ikutan menuntut agar FPI dibubarkan.
  • Munarman yang mengaku sebagai Panglima Komando Laskar Islam menghilang. Berbagai isyu berhembus.
  • Pihak kepolisian menetapkan Munarman sebagai DPO dan memperlakukannya bak tersangka tindak kriminal biasa.
  • Sejumlah anggota FPI termasuk Ketuanya Habib Rizieq Shihab ditangkap. Pro-kontra penangkapannya berkembang. Dukungan kepadanya datang dari sejumlah ulama dan tokoh masyarakat.
  • Terjadi eskalasi potensi konflik horizontal antar umat Islam.

Yang jelas, isyu tentang insiden Monas, pro-kontra pembubaran FPI, tuntutan penerbitan SKB tentang pembubaran Ahmadiyah, dan menghilangnya Munarman, telah mampu mengalihkan media dari isyu kenaikan harga BBM dan demo penolakannya. Padahal, beberapa demo tetap berlangsung dan masyarakat tetap dibuat susah oleh kenaikan harga BBM.

Memilih Nama Usaha

Hari ini saya hendak sedikit keluar dari hingar-bingar pemberitaan media. Saya hendak membahas sedikit mengenai dunia usaha atau wiraswasta. Satu soal kecil saja, yaitu memilih nama usaha.

Dalam dunia bisnis, nama sangat penting. Bukan asal pilih dan jelas tidak sesuai dengan ungkapan terkenal Shakespeare “apalah arti sebuah nama”. Nama ini dalam konteks manajemen pemasaran dikenal sebagai brand atau merek.

Bila Anda perhatikan, yang dikenal orang adalah brand, bukanlah nama perusahaan pembuatnya. Jarang yang tahu kalau Anggur kolesom cap Orang Tua dan biskuit Tango, yang produk dan segmentasinya jelas berbeda, ternyata dibuat oleh perusahaan yang sama: PT Artha Boga Cemerlang. Ini hanya satu contoh ekstrem. Jadi harap diperhatikan bahwa satu perusahaan yang sama bisa memproduksi brand berbeda. Ia cukup meletakkannya dalam divisi. Bila kemudian ternyata dipandang perlu, bisa saja divisi tadi dimekarkan menjadi anak perusahaan. Tapi tetap sah saja kalau dibiarkan tetap dalam divisi misalnya demi alasan efisiensi.

Yang saya perhatikan, rekan-rekan usahawan yang baru mulai tidak memperhatikan adagium dasar dalam manajemen pemasaran yang dikenal dengan Unique Selling Proposition (USP). Lupakan dulu provokasi para motivator yang menganggap itu sudah basi. Nyatanya, ‘teori basi’ ini tetap dipakai semua ahli pemasaran. Dalam teori ini, sebelum menentukan usaha, Anda harus mampu menjelaskan dalam satu kalimat apa yang menjadikan produk Anda unik sehingga layak dijual. Jadi, nama Anda harus menunjukkan keunikan dibanding produk atau jasa sejenis.

Apa yang kerap terjadi, banyak teman yang baru memulai usaha ingin cepat terkenal. Tapi terkenal secara pribadi bukan produknya. Ia memilih nama dirinya sendiri sebagai nama usaha. Ini sebenarnya boleh saja, asal didahului riset. Honda, Toyota, Ford, adalah nama-nama pendiri perusahaan tersebut. Tapi ada pula Microsoft, IBM, LG, atau Guess yang bukan nama pendirinya. Jadi, apa parameternya nama Anda bisa dipakai atau tidak sebagai nama usaha?

Buat saya, kalau kita adalah penemu atau inovator sesuatu yang kita jual, boleh dan amat kuat kalau nama kita jadi merek. Misalnya kalau seorang bernama Sastro adalah penemu roket dengan blue energy (yang kemarin ternyata bohong itu), maka ia akan bagus memakai namanya sebagai merek. Maka perusahaannya bisa saja bernama Sastro Rocket Inc.

Tapi kalau kita cuma pedagang atau menjual barang produksi atau hasil rakitan dari perusahaan lain, alangkah baiknya memakai nama barang atau jasa yang kita jual itu. Atau minimal berasosiasi atau berhubungan dengan barang atau jasanya. Misalnya kita berdagang komputer, cari nama yang berbau “high-tech” (jadi ingat Pak Habudi-nya Republik BBM). Jangan pakai nama Combro Computer. Meski sama-sama ada “Com”-nya. :)

Tentu saja, kalau nama perusahaan, Anda bisa menggunakan nama apa saja yang Anda anggap ‘hoki’ atau membawa keberuntungan. Jadi nama PT Bendot Berjaya Abadi sah saja digunakan untuk memproduksi biskuit merek “Mak Glek”. Yang penting, dengan nama brand Anda, akan memudahkan konsumen untuk mengingatnya. Inilah yang diincar oleh semua prinsipal saat diadakan survei mengenai Top of Mind Brand Name.

Agama versus Kebebasan

Sejak abad pertengahan para filsuf dan agamawan kerap berdebat panjang: apakah agama menghalangi kebebasan manusia? Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Tergantung sudut pandangnya. Bila menjawab ya, maka menjadi atheis atau minimal apatis adalah pilihan tepat. Tapi bila tidak, maka bisa jadi akan jadi radikalis ultra kanan atau kerap dijuluki fundamentalis.

Apa yang terjadi pada saat terjadi hari Minggu kemarin merupakan salah satu bentuk dilema itu. Antara mereka yang mengusung kebenaran versi agamanya sendiri dan mereka yang mengusung kebebasan manusia. Di sinilah muncul apa yang disebut sebagai “claim of truth”.

Sebenarnya, klaim kebenaran ini terjadi di setiap bidang. Bahkan dalam ilmu pengetahuan dikenal prinsip verifikasi atau sebaliknya falsifikasi ala Karl Popper.  Artinya setiap ilmuwan yang merasa menemukan teorema akan mengklaim teorinya benar sampai dibuktikan sebaliknya oleh orang lain.

Nah, dalam agama, masalahnya adalah tiap agama merasa dirinya benar. Rumitnya, kebenarannya diklaim berasal dari Yang Maha Benar: Tuhan. Apalagi para pengikut teguh (true believer) akan percaya sampai mati bahwa agamanya adalah yang paling benar. Ini kemudian membawa para penganut agama menuju sikap kefanatikan. Fanatik ini merupakan suatu sikap “pokoknya”. Apa pun kata orang lain, pokoknya….

Bagi saya yang masih merasa muallaf ini,  tentu saya yakin agama saya yang paling benar. Tapi itu dalam tataran teologis. Dalam tataran muamalah, harus diingat implementasinya beragam. Kesulitan penerapan inilah yang mengakibatkan munculnya aneka penafsiran. Termasuk siapa yang berhak menentukan benar atau salah tadi.

Apa yang selama ini selalu dipertanyakan orang di luar agama saya adalah, kenapa citra agama saya begitu lekat dengan kekerasan? Saya pun terpaksa berapologi. Padahal, di abad pertengahan, citra kekerasan itu milik agama lain. Sejarah panjang inkuisisi misalnya, menunjukkan kekerasan tiada terkira itu. Dan jelas, sebagai manusia kita semua mengutuk dan menolak kekerasan. Saya rasa agama mana pun jelas akan menolak dikatakan mengajarkan kekerasan.

Rupanya, kini ada sekelompok orang yang bernafsu memerintah bumi dengan mandat dari langit. Dengan begitu, mereka bisa dengan mudah mengklaim kebenaran adalah milik kelompoknya sendiri. Padahal, andaikata diminta menunjukkan SK Pengangkatan mereka sebagai penegak kebenaran langit dari Tuhan, tentu saja mereka tidak akan sanggup.

Wallahu’alam bishawab.