Silahkan Baca Penyangkalan

Bagi pembaca blog ini -terutama bagi yang baru pertama kali berkunjung- yang ingin berinteraksi dengan berkomentar atau hal lain, silahkan baca halaman “Disclaimers / Penyangkalan” di bagian atas.

Pastikan Anda memahami apa yang tertulis di sana.

Terima kasih.

Kepentingan Buruh vs Kepentingan Masyarakat

Kemarin, buruh di kawasan Bekasi memblokir jalan tol Jakarta-Cikampek. Masuk dari pintu keluar Cibitung, ribuan buruh memaksa pengguna jalan tol menunggu berakhirnya aksi mereka selama berjam-jam. Akibatnya, kemacetan merebak jauh dan mengular hingga ke ibukota. Tindakan para buruh itu memaksa kabinet bersidang darurat dan akhirnya mengabulkan tuntutan para buruh. Padahal, PTUN Jawa Barat sebelumnya telah memenangkan gugatan Apindo Bekasi atas SK Gubernur Jawa Barat No.561/Kep.1540-Bansos/2011 soal UMK Bekasi.

Ini ironis. Bagaimana hukum positif ternyata bisa dimentahkan dengan keputusan kabinet yang terdesak oleh demo jalanan. Apalagi mengingat kerusuhan yang terjadi di Bima, Nusa Tenggara Barat, dimana massa yang jelas-jelas dikerahkan oleh pihak tertentu berhasil membuat kekacauan tanpa mampu ditangani aparat.

Oke. Taruhlah ada pihak yang keliru tidak mengakomodir aspirasi rakyat. Misalnya Bupati Bima yang mengeluarkan izin pertambangan bagi PT SMN. Namun itu tidak lantas membenarkan tindakan anarkis dalam menyikapinya. Entah apa sebabnya, aparat kepolisian tampak ragu menindak kerusuhan tersebut. Demikian pula dalam hal demo di Bekasi. Padahal, tindakan buruh Bekasi tersebut sudah merugikan kepentingan masyarakat.

Meski mungkin para buruh bisa dibilang sedang memperjuangkan kepentingannya, namun “nya” di sini berarti golongan sendiri. Sama saja misalnya bila ada ormas (organisasi massa) yang berdemo atau bentrok, tentu itu disebut untuk golongannnya sendiri. Di luar buruh yang berdemo, ada masyarakat lain yang tidak tersangkut-paut dengan kepentingan para buruh.

Lebih jauh, demonstrasi para buruh itu menimbulkan suasana tidak kondusif. Indonesia yang tengah membutuhkan investasi asing bisa jadi akan kembali terpuruk. Padahal, peringkat ekonomi dan hutang kita baru saja dinaikkan oleh berbagai lembaga pemeringkat internasional seperti “Standard and Poor”.

Rupanya para buruh kerap berpikiran pendek dengan hanya memikirkan diri sendiri. Memperjuangkan UMK memang bagus, namun perhatikanlah siapa yang mengusung agenda tersebut. Lihatlah bendera-bendera yang berkibar dalam demonstrasi, bukankah mereka adalah LSM? Kenapa buruh mau dijadikan ‘alat’ bagi kepentingan LSM? Kalau mau negara kita maju, maka satu-satunya cara menyelesaikan permasalahan apa pun termasuk sengketa perburuhan adalah melalui jalur hukum. Bukan dengan memaksakan kehendak melalui demonstrasi, apalagi kerusuhan.

 

Foto: ANTARA/Widodo S. Jusuf

Memuliakan Tetangga

Dua hari berturut-turut, tetangga di kompleks perumahan orangtua saya meninggal. Tadi pagi pun ada seorang lagi Hamba Allah yang dipanggil berpulang. Kali ini, saya tidak serepot kemarin. Karena posisi rumahnya yang tetangga jauh, maka saya sebatas menshalatkan jenazah saja dan tidak ikut mengantar hingga ke pemakaman. Sementara karena yang kemarin adalah tetangga dekat, kami berupaya membantu lebih baik untuk meringankan kedukaan keluarganya.

Di dalam Islam agama yang saya anut, tetangga harus dihormati karena ia adalah orang terdekat dan tercepat yang akan menolong kita dalam keadaan darurat. Keluarga inti yang terdiri dari ayah-ibu dan anak biasanya sedikit. Sementara keluarga batih lain seperti paman atau bibi (kakak atau adik ayah atau ibu), kakek-nenek atau sepupu biasanya tidak tinggal berdekatan. Sehingga, apabila terjadi musibah terutama kedukaan tentu yang pertama bereaksi adalah tetangga.

Saya lantas teringat pada sabda manusia termulia, kekasih Sang Tuhan Sejati, Rasulullah Muhammad SAW berikut:

من كا ن يؤمن با الله و اليوم الآ خر فلا يؤ ذ جا ر ه و من كا ن يؤمن با الله واليوم الآ خر فليكرم ضيفه من كا ن يؤمن با الله و اليوم الآ خر فليقل خيرا أو ليصمت

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia mengganggu tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia memuliakan tamunya, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berkata baik atau diam (hadits riwayat Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas adalah tuntunan bagi Muslim untuk ber-mu’amalah atau berinteraksi dengan sesama manusia. Bahasa ‘gaul’-nya adalah “hablum minannas“. Di dalam Islam, seorang Muslim tidak cuma harus berhubungan dengan Tuhan melalui ibadah (hablum minallah), tapi juga dengan sesama manusia dan lingkungan (hablum minal ‘alam).

Saya sendiri termasuk bodoh dan tolol bila harus berhubungan dengan manusia. Interpersonal saya tidak terlalu bagus. Itu karena saya ini sombong. Betul.

Kalau Anda baca blog saya dan merasa terinspirasi, bagus. Alhamdulillah. Tapi saya sungguh bukan inspirator, apalagi motivator. Karena bila saya termasuk “golongan” mereka, saya harus “ja-im” (jaga image). Karena itu saya tak pernah bilang di sini -atau di mana pun- bahwa saya ini perfect. Saya justru menyebutkan bahwa saya punya begitu banyak kelemahan, alih-alih seorang yang “Super” atau “Luar Biasa”.

Karena saya tahu kelemahan saya, maka saya berusaha bekerja lebih keras. Ini termasuk dalam hal memuliakan tetangga. Saya berupaya tidak mengganggu mereka dan tentu saja cawe-cawe saat mereka memiliki keperluan, baik itu musibah maupun kesenangan. Kalau pun ada pamrih, saya cuma berharap mendapatkan bantuan serupa saat saya mengalami keperluan. Itu saja.

Mengingat saya sombong, maka saat berinteraksi dengan tetangga saya berupaya keras meredam kesombongan itu. Kalau tidak, nantinya saya akan dimusuhi lingkungan. Tahu sendiri kan kalau gosip sudah menyebar? Haduh, susah menghentikannya. Karena itu, mari kita memuliakan tetangga. Jangan defensif dan juga merasa tidak memerlukan mereka ‘mentang-mentang’ kita berhasil dalam karir di kantor atau malah kaya karena usaha kita. Justru tetangga itulah yang bisa diandalkan saat kita sedang ada keperluan. Percayalah!

Musibah & Tetangga

Musibah memang bisa datang kapan saja. Kemarin, saat hujan deras kembali melanda ibukota, seorang petinggi di sebuah media menelepon saya. Ia membatalkan janji pertemuan dengan saya dan dengan murah hati menawarkan dua opsi penggantinya. Alasannya terdengar sederhana tapi bisa dimengerti: hujan. Selain mengkuatirkan kemacetan, ia juga mengkuatirkan keselamatan. Tentu saja karena pohon yang akhir-akhir ini kerap bertumbangan.

Dan benar saja, ada pohon tumbang lagi yang bahkan memakan korban jiwa. Kali ini seorang supir bajaj yang masih seusia saya. Kasihannya, Pemda DKI Jakarta sudah menyatakan tidak akan memberi santunan. Alasannya? Pohon yang tumbang bukan di pinggir jalan, melainkan di halaman kantor swasta. Haduh!

Pagi ini, kebetulan saya pulang ke rumah orangtua. Dan alangkah terkejutnya saya ketika mendapati petugas keamanan tengah menyiapkan bambu untuk “bendera kuning”. Lebih terkejut lagi saat tahu yang meninggal adalah tetangga depan rumah. Orangtua saya memang belum mengabari karena jarak waktu wafat dengan kedatangan saya cuma 2 jam. Dan saya agak repot karena di saat bersamaan harus menyiapkan pekerjaan untuk dua klien sekaligus. Kalau Anda pernah mempersiapkan prosesi pemakaman, tentu tahu dong kerepotannya seperti apa?

Kerepotan makin bertambah karena saya adalah anak tunggal dari keluarga biasa saja. Kami tak punya banyak pembantu, bahkan tak ada saudara di dekat kami. Alhamdulillah, lingkungan tempat saya dibesarkan memiliki tetangga yang sangat ramah, baik dan guyub. Selain ayah saya tokoh di lingkungan, saya sendiri juga cukup aktif saat remaja baik di Remaja Masjid maupun Karang Taruna. Sehingga, bahu-membahu antar tetangga sudah jadi kelaziman.

Ini berbeda dengan lingkungan perumahan yang cenderung individualistis. Beberapa hari lalu, di GenFM penyiarnya menanyai pendengar radio tersebut secara acak. Pertanyaannya sederhana: “kenalkah kamu dengan tetanggamu?” Ternyata, banyak yang tidak tahu. Saya bersyukur saya bukan sekedar mengenal tetangga dekat, namun juga tetangga satu kompleks yang jauh. Itu karena saya -alhamdulillah- relatif “gaul” di lingkungan sedari kecil.

Itu juga andalan saya apabila keluarga kami yang ditimpa musibah (naudzubillah min dzalik, tapi bagaimanapun kematian itu insya Allah terjadi bukan?). Bantuan dari tetangga sangat penting dalam kedukaan seperti itu. Karena persiapan pemakaman dan prosesi lain termasuk acara keagamaan tidak akan mungkin bisa ditangani sendirian oleh keluarga. Apalagi saya yang anak tunggal dan tidak memiliki keluarga dekat di Jakarta.

 

Bertindak Adil Pada Pelaku

Tragedi kecelakaan di kawasan Tugu Tani Jakarta Pusat yang merenggut nyawa 9 orang pejalan kaki dan mencederai 3 orang lainnya telah menghentak kita. Pelakunya dikabarkan dalam kondisi mabuk sepulang pesta di malam minggu. Kejadiannya sendiri Minggu (22/1) pagi, dimana banyak warga Jakarta yang datang ke kawasan sekitar Monas untuk berolahraga. Karena pelaku kesulitan mengendalikan kendaraan, akhirnya mobil berhenti setelah menabrak halte di depan Kementerian Perdagangan.

Sontak aneka reaksi muncul. Namun reaksi paling umum adalah mengutuk pelaku. Wanita berusia 29 tahun tersebut sayangnya memang tampil sempurna sebagai ‘villain’. Ini karena yang bersangkutan tampak tidak merasa bersalah saat diwawancara sejumlah stasiun televisi usai kejadian.

Bagi saya, kita harus bertindak adil pada pelaku. Pelaku sendiri diberitakan adalah anak yatim dan mulai terlihat ‘lepas kontrol’ setelah ayahandanya meninggal. Padahal, di lingkungan keluarga dan rumahnya ia dikenal sebagai anak yang baik.

Jangan salah, saya tidak hendak membela pelaku. Saya hanya menginginkan agar kepadanya diberikan hukum yang adil. Bukankah prinsip “justice for all” itu termasuk kepada pelaku?

Kejadian pada hari Minggu lalu adalah kecelakaan lalu-lintas. Tidak ada yang menghendakinya terjadi, termasuk pelaku sendiri. Maka, bila ada suara (saya membaca di media cetak ada anggota DPR yang berkomentar) agar pelaku dijerat pasal pembunuhan apalagi pembunuhan berencana, saya kira itu tidak adil. Bayangkan beratnya beban yang harus ditanggung bukan saja oleh pelaku, tapi juga oleh keluarganya terutama ibunya. Hukum yang pantas diterapkan kepadanya adalah kelalaian yang menyebabkan hilangnya nyawa. Kalau mau dijerat lagi justru dengan penggunaan psikotropika dan ketidakmampuan menunjukkan surat-surat yang sah untuk dapat mengemudi di jalan umum (SIM dan STNK).

Saya kira juga tidak pada tempatnya membuat guyonan ‘kreatif’ seperti gambar yang terpampang sebagai ilustrasi. Meski berniat untuk bahan ‘guyonan’, namun itu tidak pantas. Keluarga korban jelas menderita, namun keluarga pelaku pun begitu. Tak perlu-lah menambah beban mereka dengan cara picik seperti ini. (catatan: Foto kreasi atau gambar aslinya beredar via BBM group. Saya menambahkan tanda silang merah -seperti rambu larangan lalu-lintas- sebagai tanda ketidaksetujuan saya pada joke kasar seperti ini).

Tahun Keberuntungan

Rasanya tak ada tahun baru yang mengkaitkan langsung dengan keberuntungan. Kecuali tentu saja tahun baru China. Rasanya, setiap kali imlek datang, selalu saja harapannya adalah agar keberuntungan menyertai kita. Apapun shio yang sedang menyertai tahun baru yang datang, harapannya tetap sama. Tentu saja keberuntungan dimaksud terutama terkait dengan rezeki.

Bicara mengenai sejarah, kalender China tidak memiliki sejarah faktual yang jelas seperti halnya sistem penanggalan Masehi atau kalender Gregorian. Bahkan kalender Islam pun memiliki sejarah faktual jelas. Justru awal mula penggunaan kalender China berasal dari mitologi. Meski ada catatan yang mengatakan kalender China dimulai pada masa dinasti Han. Mitologi ini menggambarkan bahwa hewan mitologis yang disebut  Nián (年) akan datang dan memakan cadangan makanan di pemukiman warga. Tidak hanya aneka jenis makanan yang dimakan, bahkan manusia terutama anak-anak pun dimangsanya. Secara tidak sengaja ada yang melihat monster itu takut pada anak yang mengenakan pakaian berwarna merah. Oleh karena itulah kemudian warna merah digunakan tiap tahun baru China untuk menakutinya. Warga juga terbiasa menyalakan kembang api dan petasan untuk mengusir makhluk mitologis itu. Pada akhirnya, seorang pendeta Tao kuno bernama Hongjun Laozu berhasil menangkap Nián dan diubah menjadi gunung yang dinamai sama dengan penangkapnya.

Karena diawali mitologi yang menyebutkan upaya penyelamatan cadangan makanan dan manusia, maka mitos datangnya keberuntungan pun dilekatkan. Karena itu pula di China dan negara-negara lain dimana imigran asal China menetap tahun baru ini dirayakan dengan berbagai festival. Di China sendiri festival tahun baru dinamai “Festival Musim Semi” yang merupakan arti harfiah dari Chūnjié (春節). Festival berlangsung cukup lama, biasanya selama 15 hari yang diakhir dengan “festival lampion”. Hari kelima belas ini dikenal dengan nama “Cap Go Meh” (十五冥 元宵节 ).

Kaisar Kuning Huángdì (皇帝)

Sebenarnya, tahun baru China tidak memiliki angka penomoran yang jelas. Hal ini karena sejarah kemunculan kalender ini kurang jelas. Namun, para ahli kerap menisbahkannya pada kaisar China yang bernama Huángdì (皇帝), yang diperkirakan memerintah pada tahun 2697–2597 atau 2696–2598 (karena sumber sejarah menyebutkan berbeda). Karena itu, sistem penanggalan China menyebutkan angka berbeda-beda untuk tahun baru yang di tahun Masehi jatuh pada 23 Januari 2012 ini. Ada yang menghitung 4710, 4709,  atua 4649. Di Indonesia bahkan disebutkan 2563.

Namun kaisar ini bukanlah Shi Huangdi yang dikenal sebagai Kaisar China pertama. Kaisar Huángdì yang terkait dengan sistem kalender China ini disebut dengan Kaisar Kuning, dan merupakan salah satu generasi awal dinasti Han. Ia adalah salah satu dari Sānhuáng wǔdì (三皇五帝) atau bila diterjemahkan adalah “Tiga Pendiri dan Lima Kaisar” China. Ini adalah para tokoh pahlawan semi-mitologis yang dianggap sebagai pendiri China dan bersifat setengah dewa.

Dalam sejarah China, memang agak tercampur antara fakta sejarah dengan mitologi. Ini karena para kaisar tentu dianggap sebagai dewa atau setengah dewa. Dan kemunculan para kaisar ini memang biasanya diwarnai penciptaan mitologi untuk mendukung kekuasaannya. Hal ini karena tidak selalu pergantian antar kaisar berlangsung damai, seringkali harus dengan perang dan pembunuhan kaisar sebelumnya. Karena itu legitimasi dari mitologi diperlukan.

Terlepas dari sejarah penetapan kalender China, tiap kali tahun baru datang, memang warga China selalu mengharapkan keberuntungan. Ini karena selain mitologi Nián tadi, harus dimengerti bahwa di masa kuno China belumlah bersatu dan justru kerap dilanda perang antar kerajaan. Maka, bila tahun baru datang, rakyat sejenak melupakan kesulitan hidup dan merayakannya sembari berharap di tahun yang baru bisa lebih beruntung.

Di era modern saat ini, China berbentuk Republik Rakyat China dan sudah menjelma menjadi kekuatan ekonomi dunia. Warga China dan keturunannya yang tersebar di berbagai negara dunia menjadikan tahun baru ini penting karena mereka merayakannya dengan semangat untuk meraih rezeki lebih banyak lagi. Dengan keberuntungan yang diharapkan membesar, maka tentu roda perekonomian dunia diharapkan turut berputar. Maka, semoga kita semua selamat dan banyak rezeki: Gōngxǐ fācái.

Hari Raya Imlek

恭喜发财

Gōng xǐ fā cái

Selamat Tahun Baru China 2563

迎春接福

(Sambutlah Tahun Baru ini dan Songsong Kebahagiaan)

Wisata Kuliner

Di televisi, saat ini banyak program kuliner. Baik yang sekedar wisata kuliner atau masak-memasak. Saya tidak mengomentari yang kedua. Kenapa? Karena yang ini biasanya host atau pembawa acaranya sudah kompeten. Namun yang pertama, saya cukup heran kenapa justru lebih banyak yang sebaliknya.

Host paling bagus tentu saja Bondan “Mak Nyus” Winarno. Selain sebagai pelopor acara wisata kuliner di TV, beliau justru memulainya dari mailing-list (milis) “Jalan Sutra”. Milis ini anggotanya ribuan sehingga menjadi terkenal, terutama bagi penggemar wisata kuliner bisa berbagi pengalaman. Seringnya kopi darat (kopdar) membuat jaringan makin erat. Walau terus-terang saya tidak tahu bagaimana kelanjutannya sekarang.

Kelebihan Bondan dari host lain adalah kemampuannya menerangkan cara memasak, membandingkannya dengan masakan lain, ditambah pengetahuan mengenai sejarah masakan itu sendiri. Namun, bagi saya yang paling oke adalah kemampuan yang saya sebut “bumbu terbalik”. Cuma dengan mencicipi kuliner, ia mampu menerka bumbu apa saja yang digunakan dalam proses memasaknya.

Sementara host lain, aduh, ada yang cuma makan saja. Lantas semua pada akhirnya berkomentar “enak”, “lezat” atau semacamnya. Paling banter komentarnya ditambahi rasa seperti “pedas”, atau “panas”. Malah, ada host yang cara makannya menjijikkan, sampai mengeluarkan air liur dan berbunyi. Mungkin karena ada masukan, sekarang ‘diperhalus’. Caranya? Hostnya memakai kostum binatang atau tokoh kartun, lengkap dengan riasan wajah yang nggak banget! Hahaha. Gak nyambung banget. Meski terkadang ditemani artis cantik, tetap nggak nolong.

Bisa jadi karena acara tersebut dibuat oleh PH (Production House) dan pihak stasiun televisi tinggal membeli dan menayangkan, maka kurang kontrol kualitasnya. Mestinya, kalau ukurannya rating, acara semacam itu nilainya rendah. Tapi kok ya sampai sekarang banyak yang masih tayang ya?

Kenapa tidak mencari orang yang jago makan tapi juga mengerti tentang kuliner ? Karena kalau cuma makan doang, lantas komentar “enak”, semua orang juga bisa dong.

NB: Sewaktu bekerja di sebuah majalah gaya hidup terkemuka dahulu, saya sering meminta bantuan kekasih saya saat itu yang selain jago masak juga lumayan wawasannya dalam soal kuliner. Termasuk ia cukup memadai dalam soal “bumbu terbalik”. Itu karena saya menyadari keterbatasan saya. (thank’s to AMP, mantan saya. Hehe.). Daripada memaksakan semua kuliner dibilang “enak” kan?

Persepsi & Sejarah

Beberapa hari lalu saya menyaksikan film “The Five Days of Wars” besutan sutradara Renny Harlin. Dalam film tersebut digambarkan situasi pertempuran antara pihak Russia dengan Georgia. Setting-nya memang kisah nyata, meski karakter dan plotnya fiktif. Mengambil setting perang yang disebut “Perang 5 Hari Russia-Georgia” atau “Perang Ossetia Selatan” di tahun 2008 (resensi silahkan baca di website Resensi-Review Bhayu).

Sebagai penyuka sejarah dan kemiliteran, saya cukup heran kenapa saya kok melewatkan detail perang yang satu ini. Padahal saya merasa cukup tahu (perhatikan: merasa tahu tidak sama dengan benar-benar tahu) mengenai banyak sejarah perang terutama di abad pertengahan. Ternyata, seperti digambarkan dalam film ini, dunia memang dikondisikan tidak peduli. Apalagi saat perang tersebut berlangsung, tengah dihelat Olimpiade Beijing 2008 yang menyita perhatian dunia.

Dalam kerangka menuliskan resensi, saya kemudian mencari data di internet tentang perang tersebut. Ternyata, ada dua versi mengenai penyebab perang. Versi Russia menyebutkan, pihak Georgia yang memulai perang dengan mengirimkan pasukannya ke wilayah Ossetia Selatan yang memberontak. Sementara versi Georgia menyebutkan mereka cuma mempertahankan wilayahnya justru dari serbuan Russia.

Di sini kembali saya menengarai betapa persepsi sangat memainkan peran. Apalagi politik sebenarnya adalah “seni mencapai tujuan”. Artinya, tujuan bisa dicapai dengan beragam jalan, termasuk memanipulasi persepsi. Dalam konteks perang, biasanya ada adagium “sejarah ditulis oleh pemenang”. Nah, masalahnya di zaman modern ini, informasi bisa dimanipulasi bahkan oleh pihak yang kalah. Di sini kemudian terjadi distorsi informasi.

Informasi yang digunakan dan disebarluaskan sangat tergantung pada kepentingan masing-masing pihak. ‘Medan perang’-nya lantas bergeser menjadi di benak recipient komunikasi. Pertempuran pecah di ranah persepsi. Karena itu, bahkan berita yang seharusnya fakta pun bisa dimainkan agar bisa memenangkan “perang informasi” tersebut.

 

Bermanfaat Untuk Orang Lain & Bersikap Ramah

Dalam tulisan bersifat ‘curcol’ kemarin, saya menuliskan bahwa saya mendapatkan ‘kepuasan’ karena meski sedikit, apa yang saya lakukan di blog ini telah memberi manfaat bagi orang lain. Karena saya beragama Islam, maka saya teringat pada sebuah hadits dari manusia termulia, junjungan kami Rasulullah Muhammad SAW. Hadits tersebut sebagaimana dikutip oleh Imam Suyuthi dalam bukunya Al-Jami’ush Shaghir berikut:

عن جابر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « المؤمن يألف ويؤلف ، ولا خير فيمن لا يألف ، ولا يؤلف، وخير الناس أنفعهم للناس

Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Apa yang saya amalkan selama ini mencoba menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Meski lebih sering apa yang saya tawarkan ditampik oleh pihak yang saya tawari manfaat, namun setidaknya saya sudah mencoba. Melalui blog ini, kemungkinan ditolak kecil karena tentu saja sifatnya searah (Kecuali tentu bagi para penulis comment yang tak setuju dengan tulisan saya. Karena seringnya mereka kasar dan tidak jelas identitasnya, saya sampai membuat disclaimer). Saya memberi dan terus memberi. Kalau ada yang mau mengambil hikmahnya, silahkan. Kalau tulisan saya memberi manfaat, alhamdulillah.

Karena itu kontak dengan pembaca seperti Bung Wiero Djampang (ini nama pena Bung Aang Suherman, TKI yang bekerja di Arab Saudi) sungguh membuat saya terharu. Ia yang di dunia nyata tidak mengenal saya, di blog ini kami menjalin silaturahmi. Komentar-komentarnya di beberapa tulisan saya membuat saya yakin bahwa apa yang saya lakukan ini memang bermanfaat.

Kekurangan saya justru pada bagian pertama hadits itu, yaitu bersikap ramah. Saya ini aslinya tegas dan galak. Kalau mengenal saya secara pribadi, jangankan orang biasa, polisi bahkan Paspampres saja pernah saya bentak (tapi itu tentu kasuistis). Saya berprinsip “berani karena benar”. Sementara kalau salah, saya jelas takut. Misalnya saya lupa membayar mie ayam dari tukang mie ayam di depan kantor saya, maka saat ditagih saya ‘takut’ dan langsung membayar tanpa banyak negosiasi. :D

Akibat kurang ramah itu, banyak kenalan malas berinteraksi lebih lanjut dengan saya. Selain kurang ramah, saya juga tahu saya dianggap sombong dan belagu oleh beberapa orang. Bahkan saya pernah dengar hansip di lingkungan kantor saya pernah mengatai saya ‘rese‘ karena saya beberapa kali marah saat ada mobil lain parkir di depan pintu pagar sehingga menghalangi saya masuk garasi.

Saya juga tahu sejumlah kelemahan saya lainnya sehingga terus terang teman saya tidak banyak. Yang ada adalah kolega, rekan bisnis dan kenalan. Sahabat? Lebih sedikit lagi. Karena itu, saya berupaya memperbaiki diri terus-menerus setiap hari. Terutama dengan makin mendekatkan diri pada Tuhan saya. Karena dengan begitu saya merasa tiap detik terus diawasi dan diingatkan oleh-Nya. Insya ALLAH, dengan begitu saya bisa makin bermanfaat bagi orang lain.

bhayu mh

Eksis

Kemarin sore, saya bertemu seseorang yang menampung sumbangan buku untuk sebuah SD di Maluku. Ternyata sumbangan itu diorganisir oleh Komunitas Blogger Maluku. Kebetulan karena memiliki sejumlah stok buku, saya menyumbang beberapa. Sayang, penerimaan orang tersebut kurang baik sehingga saya terus terang agak menyesal menyumbang. Bahkan kalau tidak ingat pada penerima sumbangan nun jauh di timur Indonesia yang membutuhkan, saya nyaris membatalkan sumbangan.

Sebenarnya penyebab orang tersebut bertingkah seperti itu adalah masalah eksistensi. Hal inilah juga yang membuat saya kurang nyaman bergabung dengan komunitas blogger. (Sekedar info, meski saya beberapa kali menghadiri sejumlah perhelatan blogger, namun hingga sekarang eksistensi saya dipinggirkan. Saya juga tidak pernah diundang sama sekali dalam acara blogger apa pun, kecuali saya mendaftar sendiri sebagai peserta dan membayar.). Umumnya orang menulis blog alias nge-blog antara lain untuk menunjukkan eksistensinya. Saya sendiri awalnya begitu. Namun makin hari saya sadar bahwa alih-alih eksistensi saya dihargai, saya justru dipinggirkan. Hanya saja, saya tetap menulis karena justru ada ‘kepuasan’ lain yaitu bisa berbagi dan membantu orang lain. Seperti Anda lihat, top post di blog ini adalah yang bersifat membantu pembaca.

Saya tidak beruntung pernah sekolah di luar negeri saat internet muncul, sehingga terlambat mengetahui adanya blog bahkan internet. Inilah keuntungan sejumlah “blogger selebritis” yang lebih dulu punya account daripada mereka yang hanya ngendon di Indonesia. Saya juga tidak punya teman-teman banyak yang menjadi pembaca blog setia tiap saya menulis. Meski sebenarnya tulisan tersebut tidak bermutu dan tidak bermanfaat bagi khalayak di luar kelompoknya. (Tahu kan, bahwa kita paling senang mengetahui informasi terkait ‘dunia kecil’ kita?). Saya juga tidak beruntung dikenal orang karena ‘pencitraan’ diri palsu. Misalnya saya tahu ada blogger yang dikagumi karena katanya “menulis setiap hari”. Padahal, faktanya tidak.

Namun justru melihat statistik blog saya, kebanyakan pengunjung justru orang yang mencari dari mesin pencari. (soal ini Anda bisa mampir ke sister website LifeSchool-Indonesia). Karena itu berarti mereka memang mencari informasi yang dibutuhkan. Bahkan saya mendapati ada dua buku yang menjadikan blog ini rujukan (Penulisnya tidak melaporkan,  tapi masih lumayan jujur mencantumkan sumbernya. Saya menemukannya dengan bantuan Tuhan secara kebetulan di toko buku). Kalau yang copy-paste saya dapati ada pada beberapa tulisan bersifat tips (Kalau yang ini mereka jelas tidak jujur karena tidak mencantumkan sumber). Bahkan saya mendapati ada dosen yang menulis makalah ilmiah berdasarkan tulisan di blog ini (Karena ilmiah, maka rujukannya jelas dicantumkan).

Maka, meski saya pernah menerbitkan sendiri tulisan di blog ini melalui penerbit yang dimiliki keluarga saya, saya memilih untuk tidak berkoar-koar. Sementara justru orang yang menerima sumbangan buku saya tersebut tampak bangga sekali dengan buku yang katanya berasal dari kumpulan tulisannya di blog. Padahal, kalau saya mau, di blog ini terdapat lebih dari 1.500 tulisan. Bisa jadi berapa buku ya?

Akhirul kalam, tulisan bersifat ‘curcol’ ini saya akhiri dengan sebuah kesadaran baru, bahwa eksistensi kita di mata Tuhan lebih penting. Biarlah komunitas blogger tidak mau mengakui saya. Biarlah orang lain menganggap eksistensi saya tak berharga. Yang penting saya terbukti telah berguna bagi sesama. Insya ALLAH ada pahalanya. Aamiin.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 108 other followers