Alhamdulillahirabbil’alamiin. Syukur pada Tuhan selalu saya panjatkan, walau terkadang cuma sampai sebatas bibir dan tak sampai ke hati dan pikiran. Senantiasa belajar bersyukur itu ternyata tak semudah bicara. Sulit. Apalagi kalau kondisi kita sedang terjepit dan terhimpit.
Lucunya, saat kita sedang merasa sendirian, kalau kita dekat pada Tuhan niscaya Ia akan mengirimkan penolong. Macam-macam cara datang dan asalnya, yang terkadang membuat kita sendiri terkejut. Tentu terkejut karena senang. Bak orang berulangtahun dikejutkan dengan surprise party.
Semalam, saya berbincang dengan seorang “guru” saya hingga hampir shubuh. Tak terasa sekitar enam jam habis untuk berbincang-bincang. Apa yang saya suka dari beliau? Meski memiliki sejumlah pengalaman dan kelebihan, namun beliau tidak menonjolkan diri. Malah, beliau memposisikan dirinya seolah setara dengan saya. Dan ternyata, saya malah merasa diuwongke dan lebih mampu menyerap pembelajaran darinya.
Saya yang rumongso sudah cukup bersyukur, ternyata masih belum. Syukur tak bisa dengan teriak-teriak seperti di kelas motivasi, tapi justru dalam hening di malam sepi. Di saat orang lain tertidur, justru kita “berkencan” dengan Tuhan. Satu yang terasa kurang dari apa yang sudah saya lakukan justru satu kata yang terlihat tak terkait, tapi sebenarnya sangat erat kaitannya, yaitu “pasrah”.
Sebagai orang yang rumongso pinter, saya kerap menomorsatukan otak dan bukan hati. Saya membuat berbagai rencana matang. Celakanya, saya kerap lupa pada pepatah “manusia merencanakan, Tuhan menentukan”. Sehingga, saat rencana saya itu harus berubah, berbelok apalagi sampai berhenti, saya terkejut. Kali ini, terkejutnya tak senang karena tak siap.
Belajar bersyukur dan belajar pasrah pada kehendak Tuhan, membuat hidup saya lebih damai. Setidaknya, saya mampu bangun pagi dengan segar meski baru tidur setelah shubuh. Bahkan dengan semangat mengejar untuk hadir di sebuah seminar, lantas melanjutkan aktivitas dengan mengambil dokumen tender di sebuah BUMN, dan kembali ke kantor untuk bekerja plus menyempatkan diri menulis posting ini. Untuk kemudian nanti malam menghadiri presentasi bisnis sebagai calon investor sebuah bisnis yang dirintis oleh seorang motivator ternama. Saya merasa masalah yang sebenarnya belum selesai seperti dilepaskan bebannya oleh Tuhan dari pundak saya. Sehingga saya bisa maksimal berkarya tanpa perlu resah, gelisah dan galau lagi.
Akhirnya, saya yakin, Tuhan akan menolong. Segalanya akan kembali baik, walau mungkin tidak seperti sediakala, dan mungkin tidak segera. Maka saya tampilkan gambar ilustrasi yang saya unduh dari account Facebook “guru” saya yang lain, Ibu Lies Sudianti. Dalem kan?
Filed under: Daily Life/Kejadian Sehari-hari, Inspiration/Inspirasi | Tagged: hati, otak, pasrah, syukur, Tuhan | Leave a Comment »