Silahkan Baca Penyangkalan

Bagi pembaca blog ini -terutama bagi yang baru pertama kali berkunjung- yang ingin berinteraksi dengan berkomentar atau hal lain, silahkan baca halaman “Disclaimers / Penyangkalan” di bagian atas.

Pastikan Anda memahami apa yang tertulis di sana.

Terima kasih.

Dapatkan Buku Inspiratif Ini!

Buku inilah yang diperkenalkan di acara peringatan hari ulang tahun ketujuh

Indonesia-Young-Entrepreneurs (IYE!) di @america-Pacific Place

hari Rabu, 11 April 2012.

21 orang pengusaha berbagai bidang share mengenai jatuh-bangun-pahit-getir berjuang membangun bisnis, hingga akhirnya berhasil menang dalam pertarungan hidup, cuma ada di buku ini! Simak pengalaman mereka, hindari kesalahannya, dapatkan pembelajarannya, tiru kesuksesannya.

Kontak Editor Bhayu M.H. untuk mendapatkannya!

Derita Rakyat

Hari ini media massa terutama televisi gencar memberitakan mengenai 6 Tahun Lumpur Lapindo. Selain masalah ganti rugi yang belum selesai, dampak lingkungan juga masih belum dievaluasi. Itu baru soal Lapindo. Masih banyak masalah lain seperti sengketa lahan yang hari ini menjadi perhatian harian Kompas hingga menjadi kepala berita (headline).

Sebenarnya, setiap hari jutaan rakyat kita terus berjuang. Saksikan saja acara televisi seperti “Orang Pinggiran” di Trans7, lihatlah bagaimana rakyat kecil kesulitan mencari sesuap nasi. Untuk mendapatkan uang Rp 5.000 ,- saja setengah mati. Tentu kalau kita mau membuka mata, tiap hari saat kita berangkat atau pulang bekerja atau menempuh pendidikan kita akan melewati orang-orang semacam itu. Mereka yang oleh Iwan Fals disebut “orang-orang kalah”.

Seorang “teman dekat” saya pernah berkata, pasti ada yang salah di hidup mereka sehingga mereka bisa begitu. Artinya, mereka mungkin malas saat sekolah sehingga menjadi “kalah”. Dulu sekali, seorang “sahabat” sewaktu SMA juga pernah berkata senada. Saat ada pengemis datang, ia berkata sinis, “Ngapain kita ngasih mereka? Kita yang capek-capek nyari uang enak aja mereka minta.” Saya hampir yakin, dua orang berbeda itu sudah lupa pada apa yang mereka katakan.

Tapi saya tidak. Karena justru ucapan mereka membuat saya berpikir.

Agak sulit mencari jawabannya karena ini problema filsafat dan agama. Ada masalah takdir, ada masalah ikhtiar. Itu bahasa agama. Dari bahasa filsafat, ada problema teodesi dan freewill versus God’s destiny. Rasanya manusia tidak akan bisa menemukan jawaban valid kecuali memilih yang sesuai seleranya saja.

Saya akhirnya memandang bahwa pandangan kedua orang itu keliru. Kenapa? Karena bila kita orang beragama, Tuhan memerintahkan adanya “sedekah” atau apa pun istilahnya, yang intinya adalah memberi kepada orang-orang yang sedang menderita tadi. Bila kita tidak percaya Tuhan pun, semestinya ada kebajikan dalam memberi kepada yang kurang mampu. Namun, di atas semua itu, justru menjadi tanggungjawab pemerintah untuk menyejahterakan warganya. Ini tentu sesuai konsep “welfare state” yang dianut oleh hampir semua negara saat ini.

Karena itu perlu dibuat satu sistem jaminan sosial memadai, agar derita rakyat bisa berkurang. Saya makin memahami pentingnya hal ini setelah membaca buku Dinna Wisnu, Ph.D. berjudul Politik Sistem Jaminan Sosial yang launching-nya sempat saya hadiri beberapa waktu lalu. Meski begitu, bukan berarti pemerintah harus mengambil tanggung-jawab PT Minarak Lapindo Jaya dan PT Lapindo Brantas dalam membayar ganti rugi bagi rakyat dengan mengambil anggaran negara. Karena bila begitu, berarti selain membiarkan pihak yang seharusnya bertanggung-jawab lepas tangan, pemerintah justru menyengsarakan rakyat lainnya yang seharusnya mendapatkan jatah dari anggaran itu.

Hidup Tak Semudah Bicara

Itu betul. Ada tindakan yang harus diambil setelah bicara. Namun, memang ada orang yang profesinya bicara. Kalau ia tak bicara, malah salah. Siapa mereka? Itulah guru. Mereka yang terkategori guru selain guru sekolah formal mulai TK sampai perguruan tinggi (yang disebut dosen) juga semua yang mengajar dan mengingatkan. Di sini termasuk para pelatih atau trainer, instruktur, motivator bahkan pemuka agama yang kerap berkhotbah.

Dalam Islam, dakwah bisa dengan bil lisan, namun yang lebih baik bil hal atau dengan tindakan. Suri tauladan yang baik akan membuat suatu tindakan mudah ditiru yang lain.

Mendengar orang lain bicara, bisa jadi membosankan. Karena memang kebanyakan kita inginnya bicara dan jarang mau mendengar. Padahal, Tuhan menciptakan dua telinga dan satu mulut justru agar kita lebih banyak mendengar. Termasuk juga dua mata untuk melihat yang berarti mengamati hal lain di luar diri kita. Juga dua tangan dan dua kaki untuk bertindak dan melangkah.

Para motivator kerap mengingatkan bahwa kita harus begini atau begitu. Ada yang terinspirasi, tapi ada yang malah gusar. Sebutlah seperti orang yang membuat gambar seperti ilustrasi di atas. Ia secara spesifik menyerang motivator Mario Teguh.

Serangan kepada Mario Teguh itu sudah pernah dijawab oleh beliau. Dan saya sependapat. Kalau kita bersikap seperti tulisan di atas, justru kita sendiri yang rugi. Kita cuma sibuk mengkritik dan tidak setuju pada orang lain, sementara tidak mampu meresapi apa yang positif dari orang lain. Tentu efeknya adalah kita cuma bicara saja, tidak bertindak. Malah, kita lebih buruk dari yang kita kritik.

Hidup memang tak semudah bicara, namun bicara kerap menyelesaikan masalah. Bukankah ada yang namanya diplomasi dan negosiasi? Justru dari situlah perjanjian atau kesepakatan dimulai. Tanpa bicara, hidup akan lebih sulit. Walau kita tahu bahwa hidup tak semudah bicara (atau menulis).

 

 

Ilustrasi: ulpina wordpress.com

 

Grazie Internazionale!

Permainan FC Internazionale Milano semalam di Gelora Bung Karno begitu menawan. Tidak hanya kemampuan individu yang memukau, tapi juga permainan kolektif sebagai tim yang padu. Masih ditambah kepiawaian sang pelatih meracik strategi dan ketenangan pemain saat menghadapi tekanan di lapangan. Semua itu membuat timnas Indonesia plus atau Indonesia Selection nyaris tak berkutik.

Meski berhasil menyarangkan dua gol dan barisan depan cukup ngotot bermain, tampak sekali kualitas kita memang masih di bawah tim papan atas Italia itu. Mungkin malah lima atau enam level di bawah. Kesalahan tak perlu dari barisan belakang malah dua kali membuahkan gol bagi lawan. Aksi individu yang cenderung “pamer” juga kerap diperagakan beberapa orang, terutama Oktovianus Maniani.

Yeah, saya bukan pengamat atau pakar, saya cuma penonton. Bahkan bukan penikmat karena seringkali saya memilih tidur kalau ada pertandingan tengah malam (kecuali kalau semifinal-final atau tim kesayangan saya MU main).

Saya cuma melihat, bahwa sepakbola bisa memberi banyak inspirasi. Sebenarnya, setiap jenis olahraga memiliki nilai-nilai positif. Sebutlah seperti sportivitas, kerjasama tim, hingga semangat untuk menang. Namun, karena sepakbola memiliki jumlah penonton yang banyak, maka aura dari stadion terasa menggemuruh. Apalagi kalau kita menyaksikan langsung. Kalau LifeLearner cinta pada negara ini, lagu kebangsaan “Indonesia Raya” yang dinyanyikan bersama 100.000 orang terasa menggetarkan dada.

Tentu saja, karena semalam hanya laga persahabatan, tidak ada lagu kebangsaan yang dinyanyikan (lagipula ini timnas negara lawan klub). Namun nuansa GBK seolah berubah jadi Giuseppe Meazza, homebase stadion FC Internazionale Milano. Tentu saja karena para Internisti yang hadir lengkap dengan aneka atribut termasuk mengibarkan bendera dan meneriakkan yel-yel ala Italia. Bahkan ada banyak suporter yang hafal “lagu kebangsaan” milik il Nerazzuri yaitu , “Amala! Pazza Inter! Amala!”, walau hanya terdengar sayup-sayup dinyanyikan.

Kita patut berterima kasih pada FC Internazionale Milano yang tetap berkenan hadir di Indonesia dan bukan hanya memberikan pelajaran mengenai banyak hal, tapi juga hiburan. Mereka tidak terpengaruh pada aneka isyu tentang Indonesia, terutama yang sedang ramai adalah Lady Gaga (Terus terang saya heran kok tidak ada yang demo ya? Padahal kan sepakbola menampakkan “aurat” dan Italia adalah negara tempat Tahta Suci Vatikan berada? Kok tidak ada ormas premanisme berkedok agama yang menuduh ajang ini “Kristenisasi”? Hahaha). Apa yang ditunjukkan semalam adalah satu sejarah panjang bagaimana mengelola talenta dengan profesionalisme dan kedisiplinan hingga membuahkan hasil yang gemilang. Semoga bukan hanya pecinta sepakbola dan PSSI yang belajar, tapi juga bangsa ini. Grazie Internazionale!

Ulang Tahun

Hari ini, biro konsultan SDM & psikologi yang saya kelola (BAHTERA JIWA HR & Psychology Consultant) berulangtahun. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kami tidak mengadakan peringatan apa-apa. Namun, kami justru memulai langkah baru dengan lebih banyak berbagi. Karena kemampuan kami juga terbatas, maka sebatas itu pulalah upaya kami.

Seperti saya tuliskan kemarin, walaupun kecil, namun sebisa mungkin kita berkontribusi bagi bangsa. Meski konteks bangsa di sini tentu juga termasuk komponen kecilnya seperti lingkungan terdekat kita. Mulai berdisiplin diri saat di jalan saja sudah termasuk kontribusi, apalagi kalau bisa lebih baik bukan?

Momentum ulangtahun selain dijadikan refleksi, juga saat tepat untuk berkontribusi dan berbagi. Bila secara individu kita bisa menyumbang ke rumah ibadah atau ke panti asuhan misalnya, sebagai lembaga tentu sumbangannya juga ke institusi atau komunitas. Ini juga satu bentuk rasa syukur kami masih diberi “umur panjang” mengingat begitu beratnya cobaan yang datang belakangan ini.

Justru alhamdulillah di tengah badai yang menghadang, sinar mentari benderang menjelang. Hal ini membuat kami bisa berlayar kembali dengan tenang.

Kalau Anda membaca posting saya belakangan ini, memang terkesan banyak galau. Namun, alhamdulillah seperti saya tuliskan pertolongan datang. “Esa hilang, dua terbilang”, itulah yang terjadi pada kami. Justru kehilangan sedikit untuk memperoleh banyak.

Karena berharap pada “keajaiban sedekah”, maka kami pun mencoba “bersedekah” lebih banyak lagi. Dan syukurlah itu terbukti. Bahkan sedekah dalam konteks korporasi ternyata juga membuahkan hasil. Maka, jangan ragu bersedekah ya LifeLearner… ;)

Berbuatlah Sesuatu Untuk Bangsa Kita

Kemarin, saya menutup posting dengan “3-M” ala Aa’ Gym. Sebenarnya, ungkapan itu bukan khas atau orisinal darinya. John C. Maxwell dalam bukunya Developing The Leader Within You (1993) juga pernah mengungkapkan hal serupa. Tentu saja dalam bahasa Inggris: “Start Early, Start Small, Start Now”.  Sehingga singkatannya jadi “3-S”. ;)

Tapi itu tak masalah. Terinspirasi siapa pun saya rasa bukan plagiat. Karena itu saya selalu berusaha jujur dengan mencantumkan dari siapa saya terinspirasi dalam setiap kutipan. Alih-alih mendaku itu milik saya.

Nah, berbuat sesuatu untuk bangsa kita juga dimulai dari hal-hal kecil. Sehingga kita tidak “selfish” dan narsis mengurusi diri sendiri (dan keluarga) melulu. Apa langkah konkretnya?

  1. Bergaul dengan lingkungan. Coba, apakah Anda kenal nama tetangga kanan-kiri-depan-belakang Anda? Radio GenFM pernah iseng bertanya pada pendengarnya, namun ternyata banyak yang tidak kenal. Saya juga punya pengalaman saat sebagai Pemred Buku Tahunan SMA saya harus berkeliling mengedarkan buku dari rumah ke rumah. Ternyata banyak sekali yang tidak tahu nama tetangganya. Makin elite kompleksnya, makin sulit mencarinya. Di kampung, malah mudah karena masih cukup guyub. Nah, di lingkungan ini ada berbagai kegiatan terutama saat ada peringatan hari besar. Berpartisipasilah. Ikut panitia 17-an sudah merupakan kontribusi bagi bangsa walau skalanya RT atau RW.
  2. Dayagunakan kompetensi dan keahlian Anda. Seringkali, apa yang kita anggap biasa, ternyata luar biasa bagi orang lain. Misalnya di kantor Anda ahli akuntansi, bantulah orang yang kurang mengerti seperti bendahara RT. Atau kalau perlu, ajukan diri sebagai bendahara sekalian. Juga misalnya keahlian komputer, bantulah anak-anak di sekitar Anda agar dapat belajar gratis.
  3. Berjejaring dan berkomunitas. Ada banyak manfaat dari ini. Secara pribadi menambah teman selalu menguntungkan. Bukankah satu musuh terlalu banyak, seribu teman terasa kurang? Selain itu, dengan berkomunitas kita juga makin kuat seperti pepatah “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. Bersama-sama, lebih mudah berkontribusi bagi bangsa. Misalnya komunitas bersepeda yang berhasil menyadarkan pemerintah perlunya jalur khusus bagi pesepeda dan mengkampanyekan gerakan hidup sehat dengan mengurangi polusi.
  4. Bersuaralah. Apabila ada yang kurang baik atau tidak memuaskan dari layanan publik, bersuaralah. Sampaikan pada instansi bersangkutan atau tulis surat pembaca. Saya sendiri beberapa kali melakukan ini dan alhamdulillah ada perbaikan walau instansi bersangkutan tidak pernah mengkonfirmasi kepada saya.
  5. Jaga fasilitas umum dan taati peraturan. Coba perhatikan, berapa banyak orang Indonesia yang melakukan ini di jalan raya? Lampu merah diterobos, menyeberang tidak pada tempatnya, tidak menyiram toilet umum seusai digunakan, membuang sampah sembarangan, dan aneka tindakan tercela lainnya. Tahukah Anda, ketidakpedulian pada hal-hal “kecil” semacam ini akan membawa kita pada ketidakacuhan yang lebih besar.
  6. Penuhi kewajiban sebagai warga negara. Bila Anda warga negara yang baik, ada sejumlah kewajiban yang harus dipenuhi seperti memiliki KTP dan surat-surat lain. Termasuk pula membayar pajak. Terkait dengan nomor lima di atas, masih banyak di antara kita yang cuek dan baru mengurus hal-hal semacam itu bila terkena teguran petugas.
  7. Intinya, lakukan apa saja sesuai keahlian, keinginan dan kemampuan kita. Dan yang terpenting, luangkan waktu! Percayalah, ini justru investasi bagi kualitas hidup Anda sendiri. Kenapa? Karena orang akan mengenal Anda sebagai pribadi hebat yang bukan hanya taat tapi juga mampu berguna bagi bangsa dan sesama rakyat. Dengan begitu, bila suatu saat Anda butuh pertolongan, banyak yang siap menolong. Sip kan?

Indonesia Harus Bangkit!

Tim Piala Thomas Indonesia gagal melaju ke semifinal untuk pertama kalinya sepanjang sejarah. Ini seolah menyusul kegagalan timnas sepakbola Indonesia (PSSI) dalam turnamen invitasi Al-Nakbah International Tournament di Palestina hari Selasa (22/5) lalu. Memang, rasanya bangsa ini seperti terus menerus terpuruk. Harian Kompas malah menulis kepala berita (headline) menyedihkan: “Kita Terpuruk Kian Dalam“.

Di luar itu, kita melihat konflik para elite terus mewarnai panggung politik nasional kita. Massa pendukung Thaib Armain yang saat ini menjabat Ketua DPD Partai Demokrat Maluku Utara nyaris melukai Anas Urbaningrum dan Edhie Baskoro Yudhoyono selaku Ketua Umum dan Sekjen DPP Partai Demokrat. Ini memalukan karena selain Thaib Armain masih menjabat Gubernur Maluku Utara, Edhie alias Ibas adalah putra bungsu Presiden SBY. Bagaimana bisa pihak aparat keamanan kecolongan sejauh itu? (Jadi ingat insiden melintasnya tukang kebun dengan sepedanya di depan podium acara dimana Presiden SBY berada).

Belum lagi kisruh “tak perlu” cuma gara-gara Lady Gaga. Buat apa sampai ada yang merasa perlu menggelar dzikir akbar untuk menolak seorang penyanyi? Memangnya dia siapa? Kenapa tidak menggelar acara serupa waktu Obama datang? Bukankah Amerika Serikat sering dipandang sebagai musuh Islam? Satu jawaban pasti: ada agenda tersembunyi titipan dari otak intelektual untuk meributkan dan mem-blow up masalah kecil itu.

Tapi benarkah kita benar-benar terpuruk? Kalau saya mencermati linimasa para selebritis Twitter, tampaknya mereka hampir tak peduli pada hal-hal itu. Yang diurus cuma seputar dirinya dan hobby-nya saja. Tentu saja, itu karena mereka berada dalam “dunia kecil” yang aman dan nyaman. Ada yang sibuk cerita soal anaknya yang baru masuk playgroup mahal, ada yang iseng membahas hal “nggak penting” seperti “aku laper nih tuips”, sampai seorang yang saya kenal cerita dia sedang “makan siang bersama ini dan itu”. Padahal, para seleb Twitter itu punya ribuan follower, bahkan ada yang motivator, mengapa tidak ada yang peduli pada masalah bangsa? Malah banyak perbincangan “japri” yang seharusnya bisa lewat SMS saja.

Di sisi lain, dari Twitter pula saya tahu bahwa banyak program positif digagas dan dikerjakan oleh banyak pihak. Ada yang bidang wirausaha, ada yang keilmuan, ada yang inovasi bisnis, macam-macam. Artinya, anak bangsa meski secara sporadis dan terpisah, berusaha membuat Indonesia bangkit. Memang sih, pemerintah melalui berbagai kementerian, BUMN dan pemerintah daerah juga membuat aneka program. Sayangnya, cukup banyak yang terkesan “muka proyek” belaka dan hanya bertujuan menghabiskan anggaran.

Walau begitu, kita harus terus yakin bahwa Indonesia adalah negara besar. Kita harus bangkit dari keterpurukan. Segala upaya sesuai bidang kita harus dilakukan. Jangan cuma bekerja untuk mencari nafkah nine to five saja, tapi berkontribusilah bagi bangsa. Seperti nasehat Aa’ Gym, mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, mulai saat ini juga! (Contoh konretnya? Baca tulisan besok ya…)

Tips Mengatasi Problema Pribadi

Tahun 2005, sebuah musibah menimpa “dunia kecil” saya. Rasanya dunia runtuh. Tapi saya tidak lantas trauma dan takut “langit akan runtuh” seperti Kepala Desa Abraracourcix dalam komik Asterix. Hidup harus terus berjalan. Celakanya, saya ternyata belum lulus dari kelas mata pelajaran kehidupan yang itu. Sehingga bulan April lalu saya mengalami kegagalan lagi saat ujian ulang. Bila dulu saya mendapatkan nilai “D” sehingga harus mengulang, kini malah rasanya saya dapat “E” atau malah “F”. Bisa jadi saya tak boleh lagi mengikuti kelas tersebut, kecuali atas kebijakan “pimpinan sekolah” yaitu Tuhan.

Terus terang, saya sebenarnya sudah tidak berminat lagi melanjutkan apa yang sudah saya capai. Tapi seperti saya bilang, ternyata Tuhan segera mengirim “Paracleitos”-nya. Bahkan, dengan gegap-gempita. Sehingga saya sampai ternganga dibuatnya. Begitu banyak pertolongan dan penolong yang datang, bahkan ada yang dari jauh. Sehinga tak ayal saya merasa seolah saya ini “makhluk Tuhan paling seksi”, meminjam judul lagunya Ahmad Dhani yang dinyanyikan Mulan Jameela.

Kali ini, sulit bagi saya untuk mengingkari fakta bahwa Tuhan sayang saya. Padahal, dulu di tahun 2005 saya bahkan sempat berputus asa dari rahmat Tuhan. Tapi saya segera ingat, bahwa Tuhan saya telah berfirman:

“…dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (Al-Qur’an, surat Yusuf (12):87)

Saya pun mengubah banyak kebiasaan demi “tidak berputus asa”. Karena saya yakin janji Tuhan, bahwa seberat apa pun ujian yang diterima, pasti masih dalam batas kesanggupan kita. Hal itu seperti difirmankan-Nya:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”(Al-Qur’an, surat Al-Baqarah (2):286)

Alih-alih berputus asa, saya mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan masalah. Tidak ada waktu terluang untuk bermuram durja. Menyadari masalah dasar dari dua kejadian itu, saya bertekad “membalas dendam”.  Saya menggunakan pisau analisa ilmiah untuk membedah problema pribadi. Caranya, saya menganggap saya adalah obyek kajian penelitian. Sehingga saya “peneliti” beda dengan saya “yang diteliti”. Hasilnya, langkah-langkah konkret untuk memperbaiki keadaan. Hal ini termasuk mengubah sejumlah kebiasaan yang buruk atau kurang efektif.
Nah, bagi Anda yang sedang menghadapi problema pribadi, ini sekedar tips kecil. Mengatakan (atau menuliskannya) dan membacanya mudah, tapi melaksanakannya perlu keteguhan dan konsistensi. Ini dia:
  1. Percaya pada kasih sayang Tuhan. Dia akan menolong kita. Apalagi kalau posisi kita dizalimi dan terjepit.
  2. Bersyukur pada apa yang masih ada, walau kehilangan sesuatu.
  3. Pasrah pada kehendak-Nya, namun terus berikhtiar memperbaiki sesuatu. Ikhlas itu satu terapi psikologi yang ampuh untuk mengatasi masalah.
  4. Keluar dari “dunia kecil” kita, coba hal-hal dan kebiasaan baru.
  5. Analisa masalah bak itu masalah orang lain. Bayangkan Anda sedang menasehati orang lain. Bisa gunakan cermin atau introspeksi. Tidak apa bicara sendiri pada tahap ini.
  6. Bertindak! Tindakan adalah hal penting di sini. Jangan biarkan energi Anda habis untuk melamun atau bermuram durja. Bersedih boleh. Bahkan menangis pun ok. Tapi jangan berlarut-larut karena kita harus terus bergerak.
  7. Bila sulit tidur, lakukan sesuatu yang berguna. Buat diri Anda lelah. Niscaya akan mudah tidur.
  8. Temui ahli. Jangan asal curhat, walau di tahap awal bolehlah curhat pada sahabat. Namun untuk dapat solusi, Anda harus menemui ahlinya. Kalau problema pribadi kita terkait hukum misalnya, tentu kita juga harus menemui ahli hukum. Termasuk menemui dan meminta bantuan “orang kuat” kalau perlu untuk memproteksi kita.
  9. Perbaiki silaturahmi dengan pihak yang dianggap perlu. Kita tidak bisa memuaskan “kepala” semua orang, tapi setidaknya cobalah buat inner circle dalam hidup kita selalu puas pada kita.

Demikian, semoga berguna. Ingat, hanya kita sendiri yang merasakan hidup kita. Baik-buruknya cuma kita yang dapat faedah dan mudharat-nya. Karena itu, lakukan yang terbaik. Isi hidup dengan sebanyak mungkin memberi manfaat bagi orang lain.

Syukur & Pasrah

Alhamdulillahirabbil’alamiin. Syukur pada Tuhan selalu saya panjatkan, walau terkadang cuma sampai sebatas bibir dan tak sampai ke hati dan pikiran. Senantiasa belajar bersyukur itu ternyata tak semudah bicara. Sulit. Apalagi kalau kondisi kita sedang terjepit dan terhimpit.

Lucunya, saat kita sedang merasa sendirian, kalau kita dekat pada Tuhan niscaya Ia akan mengirimkan penolong. Macam-macam cara datang dan asalnya, yang terkadang membuat kita sendiri terkejut. Tentu terkejut karena senang. Bak orang berulangtahun dikejutkan dengan surprise party.

Semalam, saya berbincang dengan seorang “guru” saya hingga hampir shubuh. Tak terasa sekitar enam jam habis untuk berbincang-bincang. Apa yang saya suka dari beliau? Meski memiliki sejumlah pengalaman dan kelebihan, namun beliau tidak menonjolkan diri. Malah, beliau memposisikan dirinya seolah setara dengan saya. Dan ternyata, saya malah merasa diuwongke dan lebih mampu menyerap pembelajaran darinya.

Saya yang rumongso sudah cukup bersyukur, ternyata masih belum. Syukur tak bisa dengan teriak-teriak seperti di kelas motivasi, tapi justru dalam hening di malam sepi. Di saat orang lain tertidur, justru kita “berkencan” dengan Tuhan. Satu yang terasa kurang dari apa yang sudah saya lakukan justru satu kata yang terlihat tak terkait, tapi sebenarnya sangat erat kaitannya, yaitu “pasrah”.

Sebagai orang yang rumongso pinter, saya kerap menomorsatukan otak dan bukan hati. Saya membuat berbagai rencana matang. Celakanya, saya kerap lupa pada pepatah “manusia merencanakan, Tuhan menentukan”. Sehingga, saat rencana saya itu harus berubah, berbelok apalagi sampai berhenti, saya terkejut. Kali ini, terkejutnya tak senang karena tak siap.

Belajar bersyukur dan belajar pasrah pada kehendak Tuhan, membuat hidup saya lebih damai. Setidaknya, saya mampu bangun pagi dengan segar meski baru tidur setelah shubuh. Bahkan dengan semangat mengejar untuk hadir di sebuah seminar, lantas melanjutkan aktivitas dengan mengambil dokumen tender di sebuah BUMN, dan kembali ke kantor untuk bekerja plus menyempatkan diri menulis posting ini. Untuk kemudian nanti malam menghadiri presentasi bisnis sebagai calon investor sebuah bisnis yang dirintis oleh seorang motivator ternama. Saya merasa masalah yang sebenarnya belum selesai seperti dilepaskan bebannya oleh Tuhan dari pundak saya. Sehingga saya bisa maksimal berkarya tanpa perlu resah, gelisah dan galau lagi.

Akhirnya, saya yakin, Tuhan akan menolong. Segalanya akan kembali baik, walau mungkin tidak seperti sediakala, dan mungkin tidak segera. Maka saya tampilkan gambar ilustrasi yang saya unduh dari account Facebook “guru” saya yang lain, Ibu Lies Sudianti. Dalem kan?

Be a Bad Boys

Semalam, saya sempat menyaksikan acara Mario Teguh Golden Ways yang mengangkat tema “Bad Boys Keren”. Saya mengerti ide dasarnya, tapi Mario Teguh tampak kesulitan mengekstrasikan ide tersebut. Hal itu nampak antara lain saat menjawab pertanyaan dari seorang pelajar yang mengatakan dirinya adalah “good boy” yang selalu menurut pada orangtua. Pelajar tersebut mengatakan apakah dirinya harus berubah menjadi “bad boys” agar bisa sukses.

Jawaban Mario Teguh adalah kita harus membedakan antara kesan dan realitas. Apa yang dilihat orang lain adalah kesan, dan itu yang harus dijaga pertama kali. Di dalam kita memang anak baik, namun, saat berada di luar kita harus mampu mengaktualisasikan diri. Sebenarnya, ada analogi mudah untuk ini, yaitu dengan menggunakan film Catatan Si Boy (1987). Di film itu, karakter Boy dikisahkan sebagai remaja yang “punya segalanya”. Ia bukan hanya kaya, tapi juga pintar dan rajin beribadah. Di sisi lain, ia juga “nakal” karena gemar bertindak yang “menyerempet bahaya”. Misalnya berkelahi atau kebut-kebutan.

Ada pula film Bad Boys (1995 dan 2003) yang dibintangi Will Smith dan Martin Lawrence. Di situ, mereka berdua berperan sebagai Mike Lowery dan Marcus Burnett, detektif bengal yang malah jadi andalan karena keberaniannya dalam memecahkan kasus.

Jadi, yang mau disampaikan oleh Mario Teguh dari “Bad Boys” itu adalah kemampuan untuk berani menerobos situasi. Apa yang dipandang tak mungkin oleh orang lain justru dipandang bisa oleh bad boys. Aturan pun bisa diterobos asalkan untuk tujuan mulia dan kebaikan bersama. Bad boys melihat potensi berhasil lebih besar daripada kemungkinan gagal. Jadi, ia berprinsip berani mencoba untuk setiap kesempatan. So, be a bad boys!

Simak juga tulisan saya yang menjadi HeadLine di Kompasiana hari ini, berjudul PR Bangsa di 14 Tahun Reformasi.

Ah, Cuma Gitu Doang? Gue Juga Bisa!

Sewaktu gol dari Wayne Rooney ke gawang Chelsea ditahbiskan sebagai gol terbaik dalam perayaan 20 tahun Liga Inggris, berbagai komentar bermunculan di internet. Ada yang dituliskan di kolom “comment” di bagian bawah berita, ada yang meributkannya di forum. Umumnya, mereka melecehkan gol itu dan menganggapnya “biasa”. Kecuali tentu saja para penggemar klub Manchester United, fans Rooney atau sedikit orang yang obyektif.

Saya kenyang menghadapi orang macam ini. Karena sejak lahir hingga sekarang saya terus berinteraksi dengan orang ini. Ia selalu “rumongso iso” dan sebaliknya “ora iso rumongso”. Setiap tindakan, perbuatan apalagi sekedar perkataan orang lain selalu dicelanya. Pokoknya, tak ada yang baik selain dirinya sendiri. Ia merasa dirinya bak dewa tertinggi yang tak terkalahkan. Tapi apakah itu benar? Tentu saja tidak. Tidak ada satu pun yang mengakui klaimnya kecuali dirinya sendiri.

Maka, ketika baru-baru ini saya bertemu dengan orang-orang macam ini, saya tertawa dalam hati. Kepada orang lain, mereka mendaku diri hebat. Padahal, orang lain tahu seperti apa kualitasnya sebenarnya. Ada seorang yang berpendidikan maksimal di perguruan tinggi, merasa mampu mengerjakan bermacam hal. Ketika istrinya dengan santai bilang, “Mana, buktinya nggak jalan…”, apa reaksinya? Ya, betul. Gusar! Ada lagi yang tidak tamat saat mengambil kuliah program pascasarjana, lantas menganggap program studi semacam itu tidak ada gunanya. Ia berpendapat pengalamannya lebih hebat daripada para profesor dan praktisi pengajarnya dulu. Oke deh… Tapi kita semua tahu kan bagaimana faktanya?

Namun, itu semua justru menjadi cermin bagi saya. Tentu agar tidak meniru mereka. Agar saya tetap rendah hati, kapan pun, di mana pun. Jangan cuma rendah hati di hadapan orang yang lebih tinggi, baik dari segi status sosial, pendidikan, kekayaan ataupun pengalaman, tapi juga tetap rendah hati di hadapan semua orang tanpa kecuali. Karena kita semua tahu bukan arti dari pepatah “tong kosong nyaring bunyinya”? Jangan jadi seperti itu ya….

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 155 other followers