Di berbagai forum dan situs politik yang saya ikuti, sedang ramai-ramainya membahas masalah Pilpres 2009 yang baru lalu. Ada saling ledek, tapi banyak juga yang mencoba melakukan analisa. Dari analisa itu, saya tertarik justru pada analisa yang menyatakan SBY menang karena berhasil melakukan pencitraan.
Ini merupakan istilah yang banyak dipakai dalam pemasaran dan periklanan, akan tetapi tentu sejatinya berakar pada filsafat post-modernisme. Seperti saya tulis di blog-website pribadi saya (klik di sini), pencitraan berarti kita percaya pada adanya suatu bayangan atau imaji yang berbeda dibandingkan aslinya. Bila Fuji Film punya tagline “Seindah Warna Aslinya”, maka pencitraan haruslah membuat “Lebih Indah Dari Warna Aslinya”.
Dalam hal ini, menurut Derrida, maka ada simulacrum yang diproyeksikan agar diserap oleh publik. Dan meski bisa jadi mengandung fakta-fakta atau kebenaran, namun simulacrum tetaplah bukan kenyataan atau realitas. Rumit dan panjang menceritakan ini, tapi saya cuma hendak menyoroti bahwa pencitraan bisa terjadi sengaja atau tidak sengaja. Bagi seorang capres, tentu pencitraannya harus dengan sengaja. Sementara bagi kita orang awam, seringkali tidak sengaja.
Saya ambil contoh saya sendiri. Tadi malam saya melakukan meeting informal dengan dua pihak. Satu orang teman lama saya, satu lagi kelompok bisnis. Dari teman lama saya, saya terkejut mendapatkan pencitraan yang amat jauh dari realitas saya. Demikian pula partner saya mendapatkan pencitraan yang juga jauh dari salah seorang anggota kelompok bisnis tersebut. Pendeknya, terjadi salah penilaian. Mereka melakukan kesalahan “judge the book by its cover”. Dan kesalahan itu bisa berlarut menjadi penyikapan yang salah terhadap kami dalam interaksi inter-personal bila tidak diluruskan.
Walau keduanya saya maklumi karena memang lamanya kami tak pernah bertemu untuk yang pertama, dan justru baru pertama kali bertemu untuk yang kedua, tapi tetap saja harus diluruskan. Saya akan mengirimkan e-mail kepada keduanya agar bisa mengerti pencitraan mereka yang salah tentang kami. Karena ini lebih baik daripada TBC (ini istilah orangtua zaman dulu untuk mengistilahkan “memendam perasaan”).
Dan pencitraan salah itu sempat pula dilakukan oleh tim sukses SBY, namun, dari bocoran e-mail yang tersebar seolah itu sengaja dilakukan sekedar untuk “test the water”. Walau begitu, hasil akhir yang entah sudah dilakukan koordinasi sebelumnya atau tidak, ternyata tidak terpengaruh oleh pencitraan salah itu.
Harus diingat, bila pencitraan itu bertujuan membuat sesuatu yang baik menjadi tampak lebih baik, itu positif. Tapi akan jadi negatif bila memoles keburukan sehingga tampak baik. Semoga saja itu tidak terjadi 8 Juli kemarin.
(oleh: Bhayu M.H., diposting di: http://www.lifeschool.wordpress.com)
Filed under: About Human/Tentang Manusia, Politic/Politik | Tagged: citra, Derrida, fakta, iklan, Pemasaran, perasaan, realitas, SBY, simulacrum, sukses | Leave a Comment »















