Pencitraan

Di berbagai forum dan situs politik yang saya ikuti, sedang ramai-ramainya membahas masalah Pilpres 2009 yang baru lalu. Ada saling ledek, tapi banyak juga yang mencoba melakukan analisa. Dari analisa itu, saya tertarik justru pada analisa yang menyatakan SBY menang karena berhasil melakukan pencitraan.

Ini merupakan istilah yang banyak dipakai dalam pemasaran dan periklanan, akan tetapi tentu sejatinya berakar pada filsafat post-modernisme. Seperti saya tulis di blog-website pribadi saya (klik di sini), pencitraan berarti kita percaya pada adanya suatu bayangan atau imaji yang berbeda dibandingkan aslinya. Bila Fuji Film punya tagline “Seindah Warna Aslinya”, maka pencitraan haruslah membuat “Lebih Indah Dari Warna Aslinya”.

Dalam hal ini, menurut Derrida, maka ada simulacrum yang diproyeksikan agar diserap oleh publik. Dan meski bisa jadi mengandung fakta-fakta atau kebenaran, namun simulacrum tetaplah bukan kenyataan atau realitas. Rumit dan panjang menceritakan ini, tapi saya cuma hendak menyoroti bahwa pencitraan bisa terjadi sengaja atau tidak sengaja. Bagi seorang capres, tentu pencitraannya harus dengan sengaja. Sementara bagi kita orang awam, seringkali tidak sengaja.

Saya ambil contoh saya sendiri. Tadi malam saya melakukan meeting informal dengan dua pihak. Satu orang teman lama saya, satu lagi kelompok bisnis. Dari teman lama saya, saya terkejut mendapatkan pencitraan yang amat jauh dari realitas saya. Demikian pula partner saya mendapatkan pencitraan yang juga jauh dari salah seorang anggota kelompok bisnis tersebut. Pendeknya, terjadi salah penilaian. Mereka melakukan kesalahan “judge the book by its cover”. Dan kesalahan itu bisa berlarut menjadi penyikapan yang salah terhadap kami dalam interaksi inter-personal bila tidak diluruskan.

Walau keduanya saya maklumi karena memang lamanya kami tak pernah bertemu untuk yang pertama, dan justru baru pertama kali bertemu untuk yang kedua, tapi tetap saja harus diluruskan. Saya akan mengirimkan e-mail kepada keduanya agar bisa mengerti pencitraan mereka yang salah tentang kami. Karena ini lebih baik daripada TBC (ini istilah orangtua zaman dulu untuk mengistilahkan “memendam perasaan”).

Dan pencitraan salah itu sempat pula dilakukan oleh tim sukses SBY, namun, dari bocoran e-mail yang tersebar seolah itu sengaja dilakukan sekedar untuk “test the water”. Walau begitu, hasil akhir yang entah sudah dilakukan koordinasi sebelumnya atau tidak, ternyata tidak terpengaruh oleh pencitraan salah itu.

Harus diingat, bila pencitraan itu bertujuan membuat sesuatu yang baik menjadi tampak lebih baik, itu positif. Tapi akan jadi negatif bila memoles keburukan sehingga tampak baik. Semoga saja itu tidak terjadi 8 Juli kemarin.

(oleh: Bhayu M.H., diposting di: http://www.lifeschool.wordpress.com)

Life Must Goes On

BMH Mencontreng 080709

Pasca Pilpres usai, reaksi pemilih bermacam-macam. Apalagi mereka yang termasuk pendukung salah satu capres. Meski belum resmi diumumkan, namun berdasar pengalaman hasil quick count biasanya tak jauh beda dengan hasil resmi dari KPU. Makanya, kemarin SBY pun sudah mengucapkan “pidato kemenangan” awal. Tentu saja, pendukung pasangan yang kalah berupaya membuat strategi baru agar kekalahannya bisa diterima atau malah diminimalisir. Protes dilancarkan, bukti adanya ketidakberesan dalam proses penghitungan suara disiapkan, mungkin juga ada jurus lain yang belum dikeluarkan. Hanya saja saya berharap, semoga kekisruhan seperti di Iran tidak terjadi. Karena kita percaya, sekali lagi, bangsa ini terlalu besar untuk dikorbankan bagi kepentingan para elite politik semata.

Bagi saya, meski masuk sebagai tim sukses capres yang di luar dugaan kalah dengan selisih banyak, saya sendiri tidak terlalu sedih. Malah, dengan gembira menggunakan hak pilih saya. Walau belum tentu juga saya mencontreng capres dimana saya menjadi tim suksesnya. Karena saya diminta membantu atas dasar keahlian saya dan bukan karena afiliasi politik saya. Dulu, di tahun 2004, saya pun dengan bebasnya menggunakan hak pilih itu walau juga bergabung sebagai tim sukses salah satu capres yang lain.

Kegembiraan itu tetap sama ketika tadi pagi saya melihat para bakul sayur tetap santai mempersiapkan dagangannya. Supir angkot memanaskan mobilnya. Pegawai berangkat ke kantor seperti biasa. Seolah mereka tak peduli akan dipimpin oleh siapa bangsa ini 5 tahun ke depan. Atau malah terlalu percaya hidup akan (atau harus) terus berjalan seperti biasa?

Apakah mereka golput? Saya tidak tahu. Memang menurut data sementara, jumlah golput bahkan mengalahkan gabungan suara pemilih pasangan Mega-Prabowo ditambah JK-Wiranto sekaligus. Menurut artikel di Tempo Interaktif, KPU menyatakan paling tidak terhitung 49.677.076 orang yang masuk Daftar Pemilih Tetap tidak menggunakan hak pilihnya. Secara mudah, mereka disebut golput. Walau istilah ini agak salah kaprah karena di masa Orde Baru gerakan ini dimulai Arief Budiman dkk. di tahun 1971 sebagai bentuk perlawanan kepada rezim. Golput menjadi “OPP” keempat disamping ketiga OPP (Organisasi Peserta Pemilu) resmi. Yang pasti, saya tidak golput lho. Lihat saja foto narciss saya di atas. Hehehe.

Satu yang jelas, saya masih optimis: harapan itu masih ada. Bangsa bernama Indonesia ini masih tegak berdiri. Walau ancaman “Balkanisasi” masih di depan pintu, saya percaya dengan niat baik dan kerja keras kita semua Indonesia akan makin jaya.

Life Must Goes On, demikian pula dengan keberlangsungan bangsa kita. Jangan sampai perbedaan pandangan menghancurkan sendi-sendi kebersamaan kita. Semoga!

(oleh: Bhayu M.H., diposting di: http://www.lifeschool.wordpress.com)

Foto oleh: Yoice

Ayo, Tandai Pilihanmu!

surat-suara-pilpres

Hari ini, nasib bangsa ini 5 tahun ke depan ditentukan. Usai sudah segala bentuk kampanye dalam upaya membujuk pemilih menentukan suaranya. Namun kerja besar baru akan dimulai. Siapa pun calon yang menang, ia merupakan pilihan rakyat. Masalah adanya kekurangan dalam kinerja KPU dan potensi adanya kecurangan, biarlah itu menjadi urusan para elite politik kita. Tugas kita sebagai rakyat justru menunaikan hak kita sebagai warga negara: datanglah ke TPS, dan tandai dengan mencontreng pilihan kita. Tidak memilih pun adalah hak Anda. Namun sekali lagi, tunaikanlah hak Anda dengan tetap datang ke TPS. Karena inilah esensi demokrasi, yaitu rakyat yang menggunakan hak suaranya. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Indonesia di tangan Anda!

(oleh: Bhayu M.H., diposting di http://www.lifeschool.wordpress.com)

Sehari Menjelang Pilpres

logo-pemilu-2009-small

Setelah sekian lama hiruk pikuk kampanye, kini sampailah bangsa ini ke puncaknya: Pemilihan Presiden atau Pilpres. Ketiga pasang kandidat sudah mengetengahkan program, visi, misi hingga janji. Tinggal kitalah yang akan menentukan. Meski bisa saja ada kecurangan, namun kita harus berprasangka baik. Walau memilih adalah hak, dan tidak memilih adalah juga hak, akan tetapi hargailah mereka yang bahkan ingin punya hak tapi tak terpenuhi.

Maka, siapa pun pilihan Anda, datanglah ke TPS esok hari. Contreng yang mana saja sesuai hati nurani. Andaikata tidak berkenan pada ketiganya sekali pun, tetap datanglah ke TPS. Gunakan hak Anda untuk tidak memilih ketiganya dengan mencontreng ketiganya, itu lebih baik daripada tidak datang. Karena surat suara yang tidak digunakan akan potensial disalahgunakan pihak yang ingin mengail di air keruh.

Jujur saja, saya kuatir akan terjadi sesuatu hal yang tidak kita inginkan bersama sebagai bangsa bila Pilpres besok berjalan tidak lancar. Bangsa ini terlalu besar untuk menjadi korban dari permainan politik para elite. Jadi, andaikata pun calon yang kita dukung gagal memenangkan Pilpres, seyogyanya kepentingan bangsa tetap menjadi nomor satu. Mudah memang bicara (atau menulis), kenyataannya saya melihat sendiri kepentingan pribadi dan golongan begitu kental mewarnai setiap pemilihan penguasa. Mulai dari Pilkada, Pemilu legislatif, hingga Pilpres. Maka, bukan tidak mungkin pula ada upaya memaksakan kehendak dari golongan tertentu.

Seperti halnya pewacanaan Pilpres cukup satu putaran. Apabila memang rakyat menghendaki satu putaran saja dengan kemenangan salah satu calon lebih dari 50 %, tidak mengapa. Tapi demi menghemat 4 trilyun lantas demokrasi dikorbankan, tentu tidak bijak. Padahal, anggaran Pemilu kali ini sudah dihemat 25 trilyun karena pemerintah tidak menyetujui seluruh anggaran yang diajukan KPU. Apalagi ada upaya memenangkan calon tertentu dengan mewacanakan calon tersebut satu-satunya yang paling memungkinkan untuk menang. Sampai-sampai ada seloroh, kalau calon yang itu dipasangkan dengan sandal jepit pun pasti menang. Ya, kenapa tidak? Biar saja negara kita punya pimpinan negara sandal jepit toh?

Negara ini masih belajar berdemokrasi. Mayoritas rakyat masih memilih berdasarkan emosi. Ini mirip dengan modus konsumsi masyarakat yang emotional buying sehingga impulsif. Makanya, iklan yang diketengahkan baik capres maupun produk industri banyak yang menggunakan aspek emosional ini. Fakta apalagi berupa angka dan data terlalu rumit bagi rakyat kebanyakan. Mereka lebih suka melihat figur ala Superman, atau minimal mirip Pandita Ratu. Raja yang mengayomi rakyatnya dengan patronisme kebapakan. Mungkin kita masih perlu puluhan tahun untuk mengubah pola pikir macam ini.

Toh, langkah sudah kita mulai. Walau Pemilu tahun ini sangat memprihatinkan kualitasnya, nasib bangsa kita tergantung padanya. Apabila terjadi kekosongan kekuasaan (vacuum of power), bisa terjadi kondisi chaos. Ini bisa berujung pada pemerintahan junta militer atau intervensi asing. Tentu keduanya tidak kita inginkan. Karena itu, terlepas dari isu apa pun yang dikemukakan elite politik untuk memenangkan calon presiden yang didukungnya, kita sebagai rakyat harus berupaya keras menjaga persatuan bangsa ini. Jangan mau diadu-domba semata demi kekuasaan.

God Bless Indonesia. (Tidak cuma A.S. dong yang merasa berhak diberkati Tuhan).

(oleh: Bhayu M.H., diposting di: http://www.lifeschool.wordpress.com)

Merasa Kecil

Diterima sebagai ‘kacung’ dalam tim sukses (timses) salah satu calon presiden membuat saya merasa kecil. Betapa tidak, begitu banyak orang besar yang tergabung di dalamnya. Tidak cuma tokoh partai politik, tapi juga pejabat negara, mantan pejabat atau pengusaha kelas kakap. Saya melihat fakta bahwa begitu banyak masalah bangsa, tapi juga begitu banyak orang yang merasa bisa menyelesaikannya.

Padahal, seperti dikatakan seorang petinggi tim sukses saat memarahi saya (hehe), tidak ada Superman. Sayangnya, semua orang di timses tampaknya seperti Superman saja. Meminjam istilah seorang asisten pribadi calon wakil presiden kami, semua orang di timses adalah komandan. Artinya, semuanya maunya memerintah, bukan diperintah.

Saya melihat, kinerja timses kami memang luar biasa sibuk. Tapi jujur saya bingung, sibuk ngapain ya? Karena yang bergerak sebenarnya kebanyakan relawan, bahkan dengan uang masing-masing. Timses lebih sibuk wira-wiri (bahasa Jawa: mondar-mandir) ke sana-ke mari dan berwacana di media massa. Ada pula yang sibuk menggarap logistik, tentu karena ini merupakan pekerjaan ‘kopro banjir’: basah. Sementara yang menggarap massa  di akar rumput diserahkan pada tim khusus yang dikomandoi para mantan jenderal. Organ parpol pendukung memang bekerja, tapi tidak seefektif diharapkan. Akibatnya koordinasi agak membingungkan bagi saya yang cuma ‘kacung’ ini.

Saya makin merasa kecil saat melihat uang yang ditaburkan di depan mata saya, sementara saya tidak kebagian banyak (hehe, curhat colongan). Ada yang dalam rangka tugas parpol menginap di hotel bersama rombongan selama empat hari dan menghabiskan lebih dari seratus juta rupiah. Ya jelas, menginapnya saja di presidential suite dan kamar utama lain. Sementara saya, mencari uang puluhan juta rupiah saja musti ngos-ngosan selama berbulan-bulan. Tambahan lagi, uang yang dihabiskan orang tadi sebenarnya uang pribadinya, bukan uang parpol. Itu membuat saya makin takjub. Berarti di rumahnya orang ini mungkin punya kebun duit ya?

Belum lagi saya melihat properti milik para petinggi parpol dan simpatisannya yang dipinjamkan bertebaran di mana-mana. Ternyata, di tengah-tengah masih banyak orang belum punya rumah, ini malah banyak properti nganggur milik para superkaya. Tidak ada yang salah memang, mereka bisa jadi memang bekerja keras. Cuma, saya takjub dengan fakta itu.

Saya makin merasa kecil saat melihat kiprah para anggota timses. Betapa memang saya ini bukan apa-apa. Ada yang cuma dengan SMS saja pendapatnya sudah jadi berita. Ada yang mampu menggelar acara kampanye besar dengan menghadirkan artis terkenal. Ada yang menguasai beragam isu dan permasalahan sehingga seolah tahu segalanya.

Karena itu, saya mencoba memasrahkan diri kepada Yang Maha Besar. Karena tahu dibandingkan orang lain saya cuma cecunguk, apalagi di hadapan-Nya. Sehingga dengan merasa kecil, semoga saja saya dibesarkan dalam pemeliharaan-Nya.

(oleh: Bhayu M.H., diposting di http://www.lifeschool.wordpress.com)

Isu & Fakta

Menjelang Pilpres ini, banyak sekali isu yang bermunculan. Saling sindir dan kritik antar kandidat di panggung kampanye dan Debat Capres yang disiarkan langsung oleh televisi membuat kita tahu betapa banyaknya hal yang harus direspon. Belum lagi isu yang dilontarkan oleh tim sukses masing-masing kandidat membuat masyarakat disuguhi perang isu di media.

Dari sekian banyak isu yang mengemuka, kebanyakan justru berupa tudingan lisan tanpa bukti fakta tertulis. Salah satu contoh yang paling santer adalah soal agama yang dianut oleh Herawati,  istri Budiono sang cawapres SBY. Saya sesungguhnya tidak peduli apa agamanya, karena sebenarnya yang akan dijadikan wapres kan suaminya. Bahkan, bila Budiono seagama dengan istrinya pun sebenarnya tidak menjamin ia akan lebih buruk atau lebih baik.

Akan tetapi ada soal isu yang kekurangan fakta di sini. Pihak yang menyatakan istri Budiono itu non-muslim cuma punya cerita, demikian pula dengan yang membantahnya. Bantahan dari Ir. Tifatul Sembiring Presiden PKS malah membuat kening lebih berkerut. Untuk meyakinkan bahwa Herawati beragama Islam ia menyatakan bahwa guru ngajinya adalah kader PKS. Ini mencuatkan pertanyaan lain, bukankah PKS adalah partai baru? Apakah kemudian bisa disimpulkan bahwasanya ke-Islam-an Herawati juga baru? Bila ya, sebaru apa? Kalau memang dia Katolik atau Islam, ya tampilkan faktanya. KTP atau ijazah atau akta kelahiran atau paspor misalnya.

Bagi saya, sekali lagi tidak penting bila ternyata memang Herawati terbukti Katolik atau Islam. Yang bagi saya lebih penting adalah penutupan fakta tadi.Isu dibantah dengan isu. Jadinya, masyarakat diharapkan menyeleksi sendiri mana yang benar. Yang dipertaruhkan adalah kredibilitas penyebar isu itu. Sesuai asas patronisme, diharapkan masyarakat percaya kepada patronnya, meski ia bicara tanpa fakta.

Soal agama Herawati tadi cuma satu contoh saja. Sebenarnya kalau dilakukan media monitoring atas semua isu yang bertebaran di masyarakat terutama lewat media massa, akan sangat banyak yang tanpa fakta. Kalaupun ada “fakta”, keasliannya diragukan. Bahkan, tak jarang yang terlihat asli pun dibantah. Akhirnya, terjadi pengaburan fakta. Tak heran, bahkan untuk peristiwa sejarah besar seperti Serangan Umum 1 Maret 1949, Peristiwa 30 September-1 Oktober 1965, Tragedi Trisakti 12 Mei 1998, dan lain-lain juga terjadi pengaburan fakta.

Makanya, saya tidak yakin kalau cuma isu DPT, bakal dipandang penting oleh yang punya kepentingan. Apalagi isu penundaan Pemilu. Wong isu SARA saja cuma dianggap “test the water” saja kok. Jangan-jangan, isu disintegrasi bangsa pun bernasib serupa…

(oleh: Bhayu M.H., diposting di: http://www.lifeschool.wordpress.com)

Mohon Maaf, Ada Kesibukan Tambahan…

Mohon maaf bagi LifeLearner karena blog ini belum terupdate. Hal ini disebabkan saya ada kesibukan tambahan terkait Pemilihan Presiden 2009 dan kesibukan rutin mencari ’segerobak berlian’. Saya akan update segera dalam waktu dekat. Terima kasih atas pengertian dan kunjungannya…

Perjuangan Pers Mahasiswa

5173_114758331982_760411982_2811403_731343_n

Kemarin, secara tak sengaja saya melihat posting undangan di FB ini oleh Mario, salah seorang adik angkatan saya di UI. Isi postingannya, ada perayaan HUT Suara Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang diadakan Sabtu sore di Galeri Nasional, Jakarta. Meski tidak ada undangan resmi, lagipula HP saya yang nomornya mereka tahu sedang rusak, maka saya putuskan meluncur ke sana. Saya pikir, hebat juga bisa menyewa Galeri Nasional untuk acara ulang tahun. Sesampai di sana, masih sepi, saya pun dengan pe-de masuk ke ruangan utama. Lho, kok malah pameran lukisan Basuki Abdullah? Setelah bingung tanya-tanya, ternyata acara diadakan di ruangan aula di belakang ruang utama. Yah, masih lumayan lah. Untung nggak pakai malu, he!

Meski dibuka dengan game yang basi, dilanjutkan dengan FGD (Focus Group Discussion) yang nggak kalah jayusnya, inti acara adalah kangen-kangenan antar generasi. Sayangnya, saya cukup kecewa, ternyata masalah-masalah yang dihadapi tidak beranjak dari saat saya menjabat sebagai Pemimpin Redaksi – Pemimpin Umum dahulu. Malah, saya dapat informasi bahwa kini Rektorat UI yang dipimpin rektor muda berprestasi yang bervisi jauh ke depan ternyata malah kembali otoriter. Misalnya adanya keharusan untuk draft penerbitan disetujui dulu sebelum dicetak. Saya terus terang heran, kenapa malah di masa reformasi ini kebijakan kontrol pers ini diberlakukan.

Tadinya, saya berharap ada kabar gembira dari adik-adik penerus perjuangan kami dulu. Ternyata masalah klasik yaitu dana terus melanda. Apalagi kini rektorat menghentikan subsidi dana sehingga harus mandiri 100 %. Ini akibat sampingan dari UU BHMN/BHP. Masih banyak lagi perjuangan pers mahasiswa untuk eksis. Apalag di era kebebasan pers, pers umum bisa menyajikan berita tanpa kontrol pemerintah. Praktis, kritisisme yang dulu dimiliki pers khusus semacam pers mahasiswa tidak lagi eksklusif. Karena itu, seharusnya pers mahasiswa mencari penyiasatan. Ya, saya sudah berikan sejumlah nasehat kemarin. Tapi sepertinya saya harus segera merealisasikan sejumlah buku saya yang tertunda terus itu. Minimal, bisa jadi acuan agar tiap kali datang ke acara semacam ini tidak ditanya hal yang sama terus.

Keterangan foto: Saya (ketiga dari kanan) berpose bersama para Pemimpin Umum (PU) Suara Mahasiswa dari berbagai angkatan.

Foto oleh: Gayuh “Chibi” Utami Nugroho

Michael Jackson in Memory

image.axd

Black or White

I took my baby on a saturday bang
Boy is that girl with you
Yes we’re one and the same
Now I believe in miracles
And a miracle has happened tonight
But if you’re thinkin’ about my baby
It don’t matter if you’re black or white

They print my message in the Saturday Sun
I had to tell them I ain’t second to none
And I told about equality
And it’s true either you’re wrong or you’re right
But if you’re thinkin’ about my baby
It don’t matter if you’re black or white

I am tired of this devil
I am tired of this stuff
I am tired of this business
Sew when the going gets rough
I ain’t scared of your brother
I ain’t scared of no sheets
I ain’t scared of nobody
Girl, when the goin’ gets mean

(Rap)
Protection for gangs, clubs, and nations
Causing grief in human relations
It’s a turf war on a global scale
I’d rather hear both sides of the tale
See, it’s not about races just places, faces
Where your blood comes from
Is where your space is
I’ve seen the bright get duller
I’m not gonna spend my life being a color

Don’t tell me you agree with me
When I saw you kicking dirt in my eye
But, if you’re thinkin’ about my baby
It don’t matter if you’re black or white

I said if you’re thinkin’ about my baby
It don’t matter if you’re black or white
I said if you’re thinkin’ of being my baby
It don’t matter if you’re black or white

I said if you’re thinkin’ of being my brother
It don’t matter if you’re black or white

Alright, alright
Ooh ooh, alright
Yeah, yeah, yeah, now
Alright, alright
Ooh, ooh, sure ‘mon
Yeah, yeah, yeah, now
Alright

It’s black, it’s white
It’s tough for you to get by
Yeah, yeah, yeah
It’s black, it’s white
It’s black, it’s white
It’s tough for you to get by
It’s black it’s white

{Song written by Michael Jackson & Bill Bottrell, 1991}

Catatan Bhayu M.H.: Agak berbeda dari biasanya, pada hari Sabtu ini saya tidak memuat puisi melainkan lagu. Mengenang Michael Jackson alias Mikaeel yang wafat kemarin, hari ini saya tampilkan lirik lagu “Black or White” yang dirilis dalam album Dangerous tahun 1991. Meski memiliki beat cepat dan riang, sesungguhnya makna lagu ini dalam. Michael mengangkat persoalan rasisme yang kerap mengemuka dan berbagai perbedaan yang menyebabkan manusia berseteru. Ia mengharapkan agar manusia bisa bersatu tanpa memandang segala perbedaan seperti warna kulit. Seperti halnya cinta yang muncul saat kita memandang seorang bayi yang suci.

Kehormatan Manusia

mjackson

Suatu saat, para sahabat sedang berkumpul di sebuah majelis di dalam masjid. Tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan sebelumnya Rasulullah SAW memasuki masjid. Sontak para sahabat tergopoh-gopoh berdiri untuk menyambut dan menghormati pemimpin mereka. Tapi Rasulullah melarang mereka memberikan penghormatan berlebihan kepadanya. Dan para sahabat pun urung berdiri.

Sementar, di dunia banyak orang berlomba-lomba untuk meraih kehormatan. Banyak yang tidak menolak saat orang lain berebut mencium tangannya atau berdiri menghormatinya. Malah juga tidak sedikit yang jelas meminta orang lain memberi penghormatan berlebihan. Padahal, kehormatan sejatinya diraih karena apa yang secara konsisten dilakukan dalam hidup. Bukan karena permintaan secara instan.Ia adalah hasil atau akibat, bukan sebab atau cara.

Hidup merupakan jalan panjang meraih kehormatan. Militer Indonesia sampai menempatkannya sebagai semboyan “kehormatan adalah segala-galanya”. Di sini berarti nilai kehormatan amat penting, karena bahkan nyawa pun akan dikorbankan demi mempertahankan kehormatan. Kehormatan yang bukan sekedar status, tapi juga pengakuan dari orang lain dan dunia.

Hari ini, saya membaca berita bahwasanya kemarin salah satu penyanyi favorit masa kecil saya meninggal dunia. Ya, dialah Michael Jackson. Rasanya saya masih punya beberapa kasetnya, bahkan seri khusus yang bergambar patung dirinya. Saya kagum terutama kepada profesionalitasnya sebagai penyanyi. Lagu-lagunya selalu jadi hits, sudah begitu aksi panggungnya tak ada tandingannya di masanya. Gerakan-gerakan tarinya mengilhami koreografer seluruh dunia. Siapa penggemar pop dan penari yang tak tahu “Moonwalk” ciptaannya itu?

Sayangnya, semasa hidupnya ia kesepian. Jacko kecil kehilangan masa kanak-kanak yang indah, karena sudah terjun ke dunia hiburan sejak usia belia. Meski ia mendapatkan kemasyhuran dan kekayaan karena kerja kerasnya di dunia hiburan, namun ia gagal mendapatkan kehormatan. Pernah misalnya, ia mengeluh diperlakukan polisi dengan tidak senonoh saat diperiksa dalam kasus perundungan seksual kepada anak di bawah umur. Perlakuan polisi itu antara lain memfoto alat kelaminnya! Astaga!

Kehormatan memang sulit diperoleh, apalagi dipertahankan. Jacko mencoba meraihnya dengan berbagai cara. Termasuk membuat patung dirinya di tujuh kota berbeda di tujuh negara. Patung raksasa yang serupa dengan patung penguasa diktator ala Saddam Hussein itu seolah membuat dirinya jadi penguasa dunia. Namun, kehormatan itu tak kunjung diraihnya. Hidupnya tidak tenang dirundung berbagai persoalan, terutama masalah psikologis. Dan semua itu menyeret kehormatannya jatuh ke jurang terdalam.

Alhamdulillah-nya Michael Jackson memutuskan menjadi mua’llaf di akhir hidupnya dan mengganti namanya jadi Mikaeel. Salah satu koran terlaris di Inggris, Daily Mail, pada 21 November 2008 memberitakan kalau ia menjadi muslim dalam upacara di rumah teman dekatnya Steve Porcaro di Los Angeles. Dengan demikian Michael Jackson mengikuti jejak kakaknya Jermaine Jackson yang telah masuk Islam semenjak 1989. Sebelum memeluk Islam, Jacko dibesarkan dengan norma dan tata cara Saksi Jehovah. Ketertarikannya kepada Islam selain disebabkan sering berdiskusi dengan Jermaine juga karena ia berinteraksi dengan mu’allaf lain terutama David Wharnsby, penulis lagu asal Kanada dan produser Phillip Bubal.

Untunglah Tuhan memilih memanggilnya segera setelah ia masuk Islam. Hal itu merupakan sebuah keberuntungan, karena sebuah kehormatan telah berhasil ia raih setelah hampir sepanjang usia ia tidak mampu meraihnya. Duka begitu banyak orang, bahkan sampai menyebabkan Google dan Twitter sempat hang, semoga membuat jalannya makin mudah karena do’a mereka yang tulus mencintainya. Mereka yang menghormatinya karena perbuatan positif yang dilakukannya selama hidup. Ia akan diingat sebagai legenda yang penuh karya, “King of Pop” yang inspiratif. Bukan sebagai pencabul anak-anak yang sakit jiwa, yang sebenarnya justru harus kita kasihani. Dengan kematiannya, kisah hidupnya ditutup. Setitik noda dalam hidupnya niscaya tidak akan merusak susu sebelanga yang pernah ditaburkannya. Semoga ALLAH SWT merawatnya dan mengganti masa kecilnya yang hilang. Aamiin.

Keterangan Foto: Michael Jackson berbaju hitam tampak mengenakan semacam kafiyeh, keluar dari kediaman seorang konglomerat muslim Timur Tengah. Tanggal pasti pengambilan foto dan sumber asli tidak diketahui.

(oleh: Bhayu M.H., diposting di http://www.lifeschool.wordpress.com)