Saya & Wanita Pasangan Saya #06

171102331

Dimana-mana, di pesta, di café, bahkan di perjalanan dengan kereta api atau pesawat, saya mudah saja berkenalan dengan wanita. Saya bisa mengobrol asyik, tapi setelah saya tindaklanjuti, ternyata kebanyakan mereka tidak sesuai dengan kriteria saya. Walau secara fisik menarik. Apa sih kriterianya?

Ada benang merah dari semua pasangan saya, itulah kriteria wanita pilihan saya. Mereka selalu punya kompetensi luar biasa secara SDM, mereka pintar sehingga menjadi hebat di bidangnya, tapi juga punya kualifikasi sebagai seorang wanita dan ibu yang baik. Kompetensinya pasti mahir berbahasa Inggris, luwes dan supel dalam pergaulan, sangat giat bekerja hingga kerap lupa waktu, berwawasan luas (mengerti banyak hal di luar bidang pekerjaan dan akademisnya), senang membaca, senang seni-budaya, dan punya minat luas terhadap kehidupan (tidak melulu rutinitas kehidupan belaka). Kualifikasi sebagai wanita dan ibu, mereka pasti sangat disukai dan menyukai anak-anak, menyayangi binatang, pandai memasak, bisa merawat orangtua, dan mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan baik. Mereka juga harus sabar luar biasa, karena pada dasarnya saya bukan orang yang sabar.

Dan satu yang pasti, mereka harus mau jadi “pasangan ganda campuran” bagi saya. Saya tidak mau istri yang cuma “menadahkan tangan” meminta nafkah pada suami. Saya ini “feminis laki-laki”, saya ingin wanita maju. Kenapa? Karena kembali pada orangtua saya, Ibu saya yang sarjana hukum UI dahulu dilarang bekerja oleh Ayah saya. Dan saat terjadi perselingkuhan, beliau terpaksa mempertahankan biduk rumah tangga karena tidak mampu mencari nafkah. Walau saya mendorong karena saya sudah bekerja, tapi beliau tetap menolak. Dan masalah “dilarang kerja oleh suami” tiga puluh tahun lalu pun diungkit-ungkit kembali. Akibatnya, kondisi di rumah kami pun jadi bak “bara dalam sekam”. Dan korban paling menderita adalah saya, karena saya anak tunggal mereka. Apalagi sayalah yang pertama kali menemukan bukti perselingkuhan ayah saya. Astaghfirullah.

(Bersambung besok)

Catatan: Tulisan ini pertama kali diterbitkan dalam satu kesatuan sebagai note di FaceBook pada 17 Agustus 2014. Dengan memohon maaf terpaksa saya hapus dari sana karena pribadi kepada siapa saya tujukan tulisan ini telah meninggal dunia pada 29 Desember 2014. Akan terasa ‘sadis’ bila tetap saya cantumkan dengan ‘tag’ kepada account-nya. Di sini pun, nama beliau saya hapus demi menghindari “ghibbah”. Tetapi karena tulisan ini penting bagi saya, terutama sebagai penjelasan bagi “orang bodoh yang sok tahu”, maka sengaja dimuat kembali berdekatan dengan Valentine’s Day. :) 

 

Ilustrasi: jobs.aol.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s