Saya & Wanita Pasangan Saya #05

loyalty

Biarpun saya dibilang oleh wanita sahabat saya yang juga sebenarnya pernah menjadi TDW saya sebagai “goblok!”, itulah saya. Beliau yang kini menjadi pegawai  sebuah lembaga negara sekaligus fotografer hebat itu tentu tidak tahu alasan saya “setia buta” kepada wanita. Alasannya adalah karena saya membela ibu saya. Ya. Ayah saya selingkuh dan punya istri kedua, tentu tanpa seizin ibu saya. Bahkan, saat sedang ‘panas-panasnya’, beliau sempat hendak membunuh ibu saya. Andaikata saya tidak ada di tempat dan melompat mencegahnya, bisa jadi kejadian mengerikan itu terjadi. (Pasti, beliau berdua membantah adanya kejadian ini, apalagi kalau ditanya oleh adik-adiknya (paman-bibi saya). Tapi demi ALLAH, itu benar terjadi. Biar ALLAH sajalah saksi saya). Sejak itulah, saya bersumpah kepada ALLAH SWT akan setia kepada pasangan saya. Satu hal lagi, semua paman saya –dari pihak ibu- ternyata punya WIL (Wanita Idaman Lain). Hanya satu orang almarhum kakak ibu saya (orang Jawa menyebutnya Pakde) yang tidak. Jadi, “darah selingkuh” itu ada di keluarga besar kami.

Maka, saya berkeras pada prinsip untuk “setia sampai mati” kepada pasangan. Walaupun ujungnya ternyata dari dua orang pasangan saya, malah saya yang dikhianati sampai hampir mati bunuh diri.

Seperti saya bilang, dua kisah percintaan saya itu akan dijadikan novel, jadi tidak perlu saya tuliskan secara detail di sini. Intinya adalah, saya selalu memilih wanita hebat untuk jadi pasangan saya, walau itu sekedar TTM atau HTS, apalagi lebih.

Sebab saya terpuruk selain saya “setia sampai mati” kepada pasangan, saya juga “all out” membantunya. Pasangan saya, selain saya bantu di pekerjaan, saya juga bantu di studinya. Pasangan pertama saya, AMP, saya bantu menuliskan skripsinya. Ia menginap di kost saya hampir sebulan bersama seorang sahabat wanitanya. Saya bantu teori dari sisi filsafat, hingga akhirnya skripsinya mendapatkan pujian dan nilai A. Intinya, skripsinya itu 70 % saya yang membuatkan. Pasangan kedua saya, YPP, saya bantu menyelesaikan studi S-2-nya. Hampir tiap berangkat-pulang kuliah saya antar-jemput, saya bantu begadang membuatkan tugas. Tapi, celakanya, di saat wisuda keduanya, saya malah dilarang menghadiri karena saat itu mereka sudah punya selingkuhan. Jahat ya?

 

(Bersambung besok)

Catatan: Tulisan ini pertama kali diterbitkan dalam satu kesatuan sebagai note di FaceBook pada 17 Agustus 2014. Dengan memohon maaf terpaksa saya hapus dari sana karena pribadi kepada siapa saya tujukan tulisan ini telah meninggal dunia pada 29 Desember 2014. Akan terasa ‘sadis’ bila tetap saya cantumkan dengan ‘tag’ kepada account-nya. Di sini pun, nama beliau saya hapus demi menghindari “ghibbah”. Tetapi karena tulisan ini penting bagi saya, terutama sebagai penjelasan bagi “orang bodoh yang sok tahu”, maka sengaja dimuat kembali berdekatan dengan Valentine’s Day. 🙂 

Ilustrasi: journeywithmyself.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s