Ilmu Laduni

Kemarin (dan juga dalam posting tanggal 1 Agustus 2013 lalu), saya sempat menyinggung sepintas mengenai “ilmu laduni”. Bagi yang tidak percaya pada “dunia lain”, ini kemustahilan. Mereka yang “sok rasional” menganggap ini “tahayul” dan “bohong besar”. Padahal, di sisi lain, mereka juga percaya pada hal-hal gaib. Tuhan adalah hal gaib terbesar yang dipercaya, malah ditahbiskan dengan sila pertama dasar negara.

Kalaupun merasa tidak dekat dengan Tuhan -meski di Indonesia secara resmi atheis dianggap tabu- pasti setiap orang pernah men ggunakan listrik. Listrik itu hal gaib lho. Ia memang dihasilkan secara ilmiah dengan teori fisika tertentu. Ditemukan oleh penemu yang ilmuwan dengan mengedepankan rasio. Mulai masa Yunani Kuno yang masih konsep oleh Thales dari Miletos, hingga akhirnya berhasil diwujudkan dengan serangkaian percobaan oleh nama-nama besar seperti Heinrich Hertz, James Watt, Michael Farraday, Alessandro Volta, André-Marie Ampère, Nikola Tesla hingga Thomas Alva Edison. Tapi, hingga sekarang, kita bisa ajukan pertanyaan sederhana: “Siapa pernah melihat listrik?”

Kalau Anda mengira percikan seperti serat-serat tipis berwarna biru adalah listrik, Anda keliru. Itu lonjakan elektron akibat bertemunya kutub yang bertentangan. Kalau tidak percaya, coba kupas kabel aktif yang menancap di stop kontak, kemungkinan besar Anda akan tersetrum. Tapi adakah serat-serat biru itu terlihat? Jadi, listrik meski diyakini ada, adalah hal gaib. Gaib di sini pengertiannya adalah yang tidak kasat mata.

Jadi, kegaiban itu niscaya. Bagi yang percaya agama, kitab suci semua agama penuh hal-hal gaib. Mulai dari cerita soal malaikat, setan atau jin. Mereka semua tak terlihat di dunia kita -dunia manusia- tapi diyakini adanya.

Nah, ilmu laduni itu adalah ilmu yang berkaitan dengan hal-hal tersebut. Di Indonesia, ia diberi istilah marketing: ilmu paranormal. Di dunia Barat, lazim dikenal sebagai “parapsychology”. Seringkali masyarakat kita merendahkannya menjadi “ilmu mistik” atau malah “ilmu perdukunan”. Padahal, semua orang-orang suci justru memperoleh wahyu dari Tuhan dengan ilmu laduni ini. Nabi Ibrahim a.s. misalnya, memperoleh wahyu untuk menyembelih Nabi Ismail a.s. justru melalui mimpi. Kalau beliau tidak punya ilmu laduni, bagaimana memverifikasi mimpi itu sebagai perintah Tuhan?

Seperti halnya ilmu di dunia fisik kita, ilmu laduni sebagai ilmu dunia gaib pun banyak macam dan sumbernya. Bila kita belajar ilmu di dunia fisik dari sekolah, di dunia gaib ada para guru spiritual yang akan mengijazahkan. Walau, ada orang-orang tertentu yang dipilih Tuhan untuk menerima ilmu laduni tertentu tanpa guru. Misalnya ada yang sejak lahir sudah bisa melihat dunia gaib. Berarti matanya tetap tidak tertutup saat aqil baligh, karena semua bayi yang masih murni diyakini mampu melihat dunia gaib walau kadarnya tergantung beberapa hal lain. Itu sama saja dengan kecerdasan intelektual tiap orang yang berbeda-beda, walau tiap orang dianugerahi otak oleh Tuhan.

Satu yang berbeda dari ilmu pengetahuan di dunia fisik, ilmu laduni berbahaya karena di sana ada ilmu hitam yang diajarkan setan. Sebenarnya cirinya cukup mudah, ilmu yang mengharuskan menyetorkan sesuatu kepada guru atau melakukan tindakan yang bertentangan dengan syariat agama –seperti menggali kuburan atau berpuasa tanpa berbuka siang-malam berhari-hari (disebut puasa ngebleng)- adalah ilmu hitam. Sama saja dengan ilmu ekonomi yang bisa digunakan memajukan bangsa atau malah untuk memperkaya diri sendiri, ilmu laduni pun bisa dipakai untuk tujuan putih (baik) atau hitam (buruk). Bedanya, di ilmu laduni sumber ilmunya pun harus diperhatikan. Ini sama saja dengan lulusan Fakultas Ekonomi universitas ternama pasti beda kualitasnya dengan Sarjana Ekonomi dari STIE yang kampusnya di ruko. Salah pilih dan salah belajar akan berakibat fatal: kehancuran di dunia dan akherat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s