Lebenswelt #4

Lebenswelt #4

Bila dalam konteks luas “benturan nilai” terjadi karena ketidakpahaman pada “standar” yang dianut masing-masing “lebenswelt”, kekonyolan serupa bisa pula terjadi pada satuan terkecil: perorangan. Dalam hal ini, ketika ada dua orang berbeda “standar” bertemu, langkah paling mudah adalah “kompromi” mencari solusi terbaik: win-win solution. Apabila ada perbedaan “standar” dan tidak ditemui titik temu, maka acuannya “standar” yang berlaku umum dalam “kontrak sosial” saja. 
Misalnya ada perbedaan soal “standar” mengenai arti “bohong”. Maka, kedua pihak harus sepakat definisi dan detailnya dulu. Karena ada jenis bohong yang bisa ditoleransi seperti “white lie” atau “bohong kecil”. Akan konyol menggeneralisasi semua kebohongan sama dan serupa. Bohong karena punya selingkuhan tentu beda dengan bohong tentang alasan terlambat datang ke janji pertemuan. Bohong karena korupsi tentu beda dengan bohong karena tidak etis menyebut masakan istri kurang enak. 
Masalahnya biasanya terletak pada ego dan zona aman. Meninggalkan “tempurung” adalah sebuah ancaman. Masing-masing orang punya “lebenswelt” yang sudah ditinggali dan dijalani bertahun-tahun. Adaptasi dan toleransi memang menjadi kunci. Namun, akan lebih mudah bila tak masuk ke wilayah privasi.
Karena ini konteksnya individual perorangan, maka jelas hal-hal personal seperti kepribadian dan karakter berpengaruh. Seorang berkepribadian “introvert” misalnya, akan punya ruang privasi lebih luas daripada “ekstrovert”. Lebih sulit melakukan penetrasi ke “lebenswelt”-nya dimana para “ekstrovert” harus hati-hati kalau tak ingin berkonflik.

 

Bahkan dalam konteks “kontrak sosial” yang dirujuk, pengaruh “peer group” dan pengalaman serta kondisi kehidupan juga berpengaruh. Orang Jawa yang tinggal di Jawa dan di Sumatra pasti berbeda pola pikir dan cara hidupnya. Ia akan menyesuaikan diri.
Penyesuaian diri antar pribadi untuk mengerti bahwa tiap orang punya “lebenswelt” memang perlu tak hanya kedewasaan, tapi juga kearifan. Karena cuma dengan itu kedamaian hidup dapat tercipta. Dengan memahami bahwa hak kita dibatasi hak orang lain. Demikian pula “lebenswelt” kita harus menghargai dan beradaptasi dengan “lebenswelt” pihak lain. 
(Selesai)
[Tulisan ini semula diunggah di account FaceBook utama penulis]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s