Lebenswelt #2

Lebenswelt #2

Selera kita itu lantas menjadi “standar pribadi” masing-masing. Dan itulah “tempurung” yang kita diami dan pertahankan, kita bawa ke mana-mana bak kura-kura atau siput. Nah, bedanya, kedua binatang itu tahu mereka membawa “beban” di punggungnya, banyak manusia yang seringkali tidak. 
Maka dari itu, seringkali terjadi benturan nilai dan norma saat “standar” itu dipaksakan kepada orang lain.
Kumpulan “standar” itu sendiri bisa mengelompok menjadi “standar keluarga”, “standar kampung”, “standar suku”, “standar organisasi” hingga “standar bangsa”. Maka, skala “lebenswelt” sebagai “tempurung” itu pun membesar. Sebenarnya bukan cuma ukuran, tapi juga ketransparanan. Ini I.M.H.O. lho, bahwa makin toleran seseorang (atau suatu kelompok), tempurungnya makin transparan.

Apa artinya?

Seseorang bisa hidup dalam “lebenswelt”-nya sendiri dengan “standar” sesuai yang diyakininya, namun ia tahu ada “tempurung” lain yang didiami orang dan kelompok orang lain. Tahu dan memahami ini, berarti memahami “standar” orang atau pihak lain berbeda.

Kegagalan memahami hal ini bisa berakibat mulai dari pertengkaran pribadi hingga konflik sosial. Coba perhatikan apa yang terjadi di pentas nasional belakangan ini. Ada pihak yang memaksakan “standar kelompok”-nya kepada orang lain. Sudah begitu, mereka juga menolak “kontrak sosial” yang telah disepakati. Seraya menantang institusi penjaga “kontrak sosial” itu dan memaksakan alternatif lain versi mereka sendiri.

Harus dipahami, dalam kerangka berpikir ini “kontrak sosial” tertinggi kita adalah Pancasila. Sistem pranata hukum yang diturunkan berlandaskan ideologi tersebut terbukti menjaga keutuhan bangsa kita. Institusi penjaganya adalah ketiga cabang kekuasaan “trias politica” ditambah aparat penegak hukumnya. Demokrasi menjadi “alat”-nya. 

Maka, sangat layak apabila ada yang tak setuju padanya untuk “digebuk”. Bahkan dalam kasus ini pun kepada mereka masih diterapkan prinsip “justice for all”. Padahal dalam aksinya seperti terorisme, mereka tak peduli hal itu. 

(Bersambung)
[Tulisan ini semula diunggah di account FaceBook utama penulis]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s