Agen Rahasia, Intel dan Reserse

Judul di atas adalah terjemahan dari istilah berbahasa Inggrisnya secret agent, spy dan detective. Agak rancu memang karena kelembagaannya tidak sama di tiap negara. Reserse di kita beda struktur jabatan dan kepangkatannya dengan detektif di kepolisian A.S. Di sana polisi saja ada beberapa macam, mulai dari federal police, state police, sheriff dan di beberapa negara bagian ada lagi satuan khusus seperti troopers. Di sana Secret Service atau Dinas Rahasia bukan semacam B.I.N. di sini. Karena tugas utamanya justru melakukan pengawalan VVIP seperti tugas Paspampres di sini. Spy di intelligence agency pun tersebar di sejumlah badan. Tidak hanya di C.I.A. yang terkenal, tapi ada badan lain seperti N.S.A.

Di negara itu, Privacy Act dan sejumlah ketentuan lain melarang badan pemerintah melakukan kegiatan intelijen di dalam negeri terhadap warga negaranya sendiri. Tapi laporan Wikileaks yang sedang heboh itu menunjukkan sebaliknya. (Klik tautan ke artikel ini bila berminat).

Ternyata, badan intelijen A.S. memang memiliki kemampuan seperti sering digambarkan di film Hollywood. Saya paling teringat pada film “Enemy of the State” (1998) yang dengan bagus memberikan gambaran bahwa A.S. sejak Perang Dunia 2 sudah mengembangkan teknologi intelijen begitu rupa. Sekedar tahu saja, kemenangan Sekutu di PD 2 antara lain karena peran intelijen. Salah satunya dengan keberhasilan tim saintis yang dipimpin matematikawan Alan Turing memecahkan sandi “Enigma”, mesin penyandi komunikasi Nazi Jerman. Kisahnya bisa disaksikan di film “The Imitation Game” (2014).

Nah, itulah sebenarnya fungsi intelijen. Pengumpulan dan pemasokan data, peretasan, menjalin hubungan dengan pihak terkait, pengintaian, penyusupan, penggalangan, menganalisa, meramalkan, hingga mempengaruhi kebijakan pemerintah. Serupa dengan tugas ilmuwan. Karena itulah namanya “intelligence”. Ya. Artinya “kecerdasan”. Tak heran, para lulusan dengan nilai tertinggi dari kampus terbaik atau mereka yang punya kemampuan intelejensia tinggi di sana kerap direkrut jadi intel. Ini tergambar di film “The Recruit” (2003). 

Jadi, tugas intel sejati itu bukan seperti James Bond atau Jason Bourne. Tapi lebih membutuhkan ketekunan seperti ilmuwan di laboratorium. Dan dari situ mereka menghasilkan pengabdian bagi negaranya.
 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s