Makar Stauffenberg

Di Indonesia, nama Claus Philipp Maria Schenk Graf von Stauffenberg (lahir 15 November 1907 – meninggal 21 Juli 1944) tak begitu dikenal. Bahkan meski sebagian kisah hidupnya sudah diangkat ke layar perak oleh Hollywood melalui film Valkyrie (2008). Aktor pemeran prianya pun tak main-main: Tom Cruise. Rabu (14/12) malam kemarin, Trans TV menyiarkannya.

Stauffenberg tewas karena ditembak mati. Sebabnya, ia melakukan makar kepada penguasa. Gagal tentu saja. Karena bila berhasil tentu ia justru berjaya dan mendapatkan jabatan tinggi. Ia dipandang pecundang dan dicap pengkhianat. Padahal, ia adalah Kolonel AD Jerman yang memiliki banyak penghargaan sebelumnya. 

Walau begitu, ia sejatinya pahlawan dari perspektif lain. Karena penguasa yang dilawannya adalah tokoh paling sadis di abad ke-20: Adolf Hitler. Ya, dialah sang Fuhrer pemimpin Nazi yang memerintah Jerman saat itu. Karena ambisinya mendirikan “kerajaan ketiga” ras Arya-lah, Perang Dunia 2 berkobar. Separuh planet ini terlibat perang besar. Hindia Belanda pun terkena imbasnya dalam front Pasifik yang disebut pula Perang Asia Timur Raya. Sebagai efek samping, mengambil momentum kekalahan penjajah Jepang yang merupakan aliansi Poros-nya Nazi, Indonesia lantas bisa merdeka.

Andai Stauffenberg berhasil, PD 2 bisa selesai lebih awal. Kudeta atau makar gagalnya berlangsung pada 20 Juli 1944. Caranya dengan meledakkan bom di dalam ruangan rapat para petinggi militer Nazi di markas rahasia berjulukan “Sarang Serigala”. Tujuan utamanya tentu membunuh Hitler yang memimpin rapat tingkat tinggi itu.

Plot makarnya gagal walau bom meledak. Meski akhirnya diketahui Hitler selamat, namun sebenarnya sempat ada kesempatan kudeta militer tak berdarah itu bakal berhasil. Operasi Valkyrie -diambil dari konsep Wagner- meski terlambat direspon sudah berhasil menguasai ibukota dan banyak wilayah lain. 

Waktu yang sangat krusial itu gagal dimanfaatkan dengan baik oleh para pelaku kudeta yang sebenarnya terorganisir rapi. Keraguan beberapa orang terutama Jenderal Friedrich Olbricht karena menerima informasi tak lengkap dari Jenderal Erich Fellgiebel membuat pelaksanaan aksi melambat. 

Akhirnya Hitler berhasil mengkonsolidasikan pihak yang setia padanya. Namun, terutama sekali makar gagal berkat peran Dr. Joseph Goebbels selaku Menteri Penerangan Publik dan Propaganda Nazi, yang dengan tipu daya meyakinkan komandan Tentara Cadangan untuk tidak menangkapnya. Malah pasukan ini lantas berbalik kembali memihak Hitler dan melawan makar.

Dalam serangan baliknya, Gestapo kemudian menangkap tak kurang dari 7.000 orang. Termasuk para jenderal dan ketua parlemen yang mendukung makar. Dan akhirnya 4.980 orang di antaranya dihukum mati. Termasuk Stauffenberg.

[Tulisan ini semula dimuat di account FB utama penulis.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s