Memahami Filosofi Ksatria Jawa

Meskipun cerita epik Mahabharata dan kisah pewayangan lain awalnya berasal dari India yang diwarnai ajaran Hindu, di Jawa kisah ini mengalami naturalisasi dan asimilasi. Termasuk pula pasca kehadiran “Wali Songo” yang melakukan banyak modifikasi.

Bagi yang sempat mempelajari sedikit saja soal budaya atau sosiologi-antropologi, akan tahu bahwa pewayangan juga mempengaruhi banyak aspek dalam sendi kehidupan masyarakat Jawa. Termasuk pula pola kepemimpinan dan pranata ketatanegaraan.

Dalam pemahaman itu, kita diajarkan bahwa seorang superhero sejati bukanlah yang semata gagah perkasa, sakti mandraguna, kebal senjata dan bisa terbang seperti Gatotkaca. Namun ksatria Jawa sejati dan paripurna sehingga disebut sebagai “lananging jagat” justru Arjuna.  

Padahal, Arjuna itu digambarkan berbudi pekerti luhur dan bertutur bahasa halus, sehingga terkesan kemayu. Maka tak heran dalam pentas wayang orang karakternya kerap diperankan wanita yang disebut “bambangan”. Tapi jangan salah, Arjuna ini jagoan bingitz. Dia adalah pemanah ulung sekaligus petarung handal. Ia tak pernah kalah saat bertempur dan menjadi tokoh kunci dalam Bharatayudha sehingga bahkan Prabu Kresna sang titisan Bhatara Wisnu rela menjadi saisnya.

Keris sebagai senjata tajam genggam ksatria Jawa pun unik. Tidak seperti samurai untuk menebas leher atau sabre untuk menusuk jantung yang bisa menyebabkan kematian seketika, keris menyiksa korbannya dengan lebih sadis. Ia ditusukkan ke perut dengan tujuan untuk mengoyak isinya. Diuyel-uyel nganti dedel duwel. 

Keampuhan keris ini tergambar dalam kisah legenda klasik saat Panembahan Senopati menghabisi Arya Penangsang. Korban bahkan tidak sadar ususnya sudah terburai dan masih hidup selama beberapa jam hingga tewas justru oleh kerisnya sendiri. Musababnya? Ia mengira ususnya adalah untaian melati sehingga malah dikalungkan ke keris. Tak ayal ususnya sontak putus saat ia mencabut keris untuk bertarung. Sadiz kan?

Dalam konteks inilah saya melihat sosok Jokowi yang memang piyantun Solo. Ia benar-benar mencerminkan Arjuna, sang ksatria Jawa sejati. Penampilannya seolah klemar-klemer sehingga membuat lawan cenderung meremehkannya. Padahal terbukti ia mampu menang tanpo ngasorake. Dan memang seperti itulah gaya bertarung seorang ksatria Jawa: Arjuna Tinandhing.

Kredit foto: Wayang orang Sriwedari, Solo​

[Tulisan ini semula diunggah sebagai status di account FB utama penulis dan disebarkan ke beberapa group FB]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s