Pertemanan Sehat

Ini adalah motto dari reuni perak S.M.P. saya. Tahun ini adalah perayaan 25 tahun sejak kami lulus pada 1991. Di masa saya, S.M.P. saya adalah S.L.T.P. dengan N.E.M. tertinggi se-Indonesia, baik saat akan mendaftar maupun kelulusan. Saya bangga menjadi bagian dari alumninya.
Namun, apakah saya punya kenangan indah saat di sana? Tunggu dulu.

Ternyata lebih dari 80 % adalah kenangan buruk. Kenangan terbaik saya di masa itu adalah saat sebagai peserta Diklat P.K.S. se-Jakarta, saya terpilih melalui seleksi ketat sebagai 1 dari 3 Teladan. Tidak mudah karena pesertanya ada 3.000 orang. Medali penghargaan disematkan langsung oleh Kapolda Metro Jaya -saat itu- Mayjen Pol. M.H. Ritonga.

Tapi, saat kembali di sekolah, kemenangan sulit ini tidak dianggap. Padahal, biasanya setiap siswa atau ekskul yang berprestasi akan diumumkan di upacara bendera hari Senin dan diberikan penghargaan oleh Kepala Sekolah. Tapi, karena saya berasal dari P.K.S., maka itu tidak terjadi.

Kenapa? Karena di S.M.P. kami, ada ekskul lain yang jadi “anak emas”. Dan selama saya jadi Ketua P.K.S. hingga lulus, kami selalu berseteru dengan ekskul itu. 

Saya sebenarnya sudah tidak peduli dengan hal itu. Hingga saat ada rencana reuni, awalnya saya menyambut antusias. Apalagi Ketua Panitia-nya adalah salah satu sahabat saya semasa S.M.A. 

Namun, apa lacur. Di W.A.G. saya masih dirisak oleh sekumpulan orang untuk kasus yang lain. Kasus yang seharusnya sudah bisa dilewati dengan dewasa. Tapi, 25 tahun rupanya tidak ada artinya. Ada beberapa orang yang meski tubuhnya menua, tapi psikis dan mentalnya masih “inner child”. Mereka mencoba merisak saya lagi. Dan, kali ini saya menolak kembali jadi korban. I am standing tall! Saya marah!

Karena orang-orang yang merisak saya lebih banyak dan mustahil tidak hadir dalam reuni dan kegiatan penyertanya, maka saya yang mengalah dan bersikap dewasa. Lebih baik saya yang tidak hadir. Saya kasihan pada sahabat-sahabat saya yang menjadi panitia bila di lokasi reuni sampai terjadi perkelahian fisik. Karena pihak perisak jelas memposisikan dirinya lebih tinggi daripada saya. Padahal, “posisi dalam hidup”-nya belum tentu. Dan tentu saya menolak direndahkan seperti itu. 

Saya bukan anak “cupu” sewaktu sekolah. Saya ketua organisasi ekstra-kurikuler dan pengurus O.S.I.S. Mulai dari kepala sekolah sampai tukang kebun mengenal saya. Tapi saya tak disukai dan malah dibenci sejumlah teman karena satu hal: saya punya prinsip keras dan menjalankannya dengan tegas.

Begitu tidak disukainya saya di S.M.P., hingga saat saya diopname di R.S. karena luka bakar stadium 3 dengan L.P.B. 10 % selama sekitar 1 bulan, yang menjenguk hanya 2 orang: Eko Setiansyah dan Gregorius Sigit Setyo Nugroho (thank you guys, I will always remember those kindness). Padahal, saat ada teman lain yang mengalami kecelakaan lalu-lintas, cewek-cewek di sekolah sampai menangis berjama’ah. See?

Jadi, sebagian besar kenangan saya di S.M.P. adalah kenangan buruk atau negatif. Dan apa yang saya tulis di atas belum semua lho. Satu hal yang membuat lebih berat, saya menghadapinya sendirian. Tak ada tempat berbagi beban. Bahkan tak ada keluarga yang hadir di sisi saya. Mereka ada, tapi tak hadir. Ingat, saat itu usia saya masih 11-14 tahun. Usia yang seharusnya tugas hidupnya cuma belajar dan bermain (dalam arti luas), bukan berkonflik ala politik. 

Karena itu, sewaktu S.M.A. saya mengubah taktik. I had leading from the beginning. Sehingga tak ada lagi yang berani merisak saya. Selain memang sebagian besar perisak tidak bersekolah di S.M.A. saya. Apalagi saat kuliah, saya adalah Ketua Angkatan Jurusan dan Fakultas yang dihormati sejak awal. Ditambah lagi kemudian jadi aktivis dan ketua macam-macam.

Apa sebab saya dirisak? Mungkin akan saya jelaskan di tulisan lain. Tetapi wajah saya memang mirip etnis Tionghoa, sehingga seringkali saya dikira orang China atau Jepang (saat kuliah hingga bekerja untuk media asing). Karena itu, saat makin dewasa dan matang, saya tak mau merisak orang lain. Sementara sejumlah teman S.M.P. saya masih tak berkembang kedewasaannya, padahal usia sudah kepala 4.

Well, saya menulis ini karena semalam ada dokter lain lagi yang menelepon saya. Dalam perbincangan selama 1,5 jam itu, mantan teman S.M.P. tersebut awalnya mencoba membujuk saya untuk ikut “class meeting” pagi tadi dan reuni bulan depan. Tetapi setelah saya jelaskan beberapa hal termasuk yang tidak bisa saya tuliskan di sini, ia memahami dan mendukung. Toh, secara pribadi saya tetap menjalin interaksi dan komunikasi dengan sejumlah teman S.M.P. tertentu.

Ini hidup saya. Saya yang menjalani setiap langkahnya, setiap pahit-getirnya. Saya tidak mau menyenangkan orang lain kalau saya sendiri tak senang. Kenyamanan diri sendiri adalah kata kuncinya.

In my world, I am the ruler using my rules. I am standing tall now, and I have achieved high. I need to secure my self especially from negative peoples. Because my happiness in life worth much more than any relationship in the world.

{“It’s easy to stand with the crowd, but it takes courage to stand alone”. – Rumi}

———–
Ilustrasi gambar meme saya ambil dari Pak Budi Satria Isman. Terima kasih.

[Tulisan ini semula diunggah sebagai statua di account FB utama saya pada tanggal yang sama.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s