Untung Saya Bukan Motivator #3

mario-teguh-kaos-cocote

 

Argumentum ad hominem.

Itu adalah salah satu jenis logical fallacy. Logika adalah satu sub cabang filsafat tersulit. Karena inilah fundamental dalam membangun penalaran logis dalam teori. Dalam perkembangannya, dari filsafat yang merupakan induk segala ilmu, prinsip dalam logika ini diturunkan menjadi metode ilmiah.

Mudahnya, kesalahan yang biasa disebut “ad hominem” itu terjadi karena pihak yang membantah tesis pihak lain tidak mengkritisi argumennya, melainkan subyek yang melontarkannya. Bukan pendapatnya, tapi orangnya.

Inilah pula yang terjadi dengan Jokowi dan Ahok. Lebih dari 90 % hujatan kepada keduanya adalah serangan kepada pribadi. Para penghujat ini lantas dikenal sebagai pembenci (haters) karena memang tidak menyukai orangnya. “Pokoknya gue gak suka orang itu. Titik!” adalah pedoman dasarnya.

Data dan fakta tak penting bagi mereka. Apalagi sekedar argumentasi. Karena kebencian sudah menutupi mata hati nurani mereka.

Di sinilah saya mengajak untuk berlaku adil. Di dalam Islam agama saya ada perintah Tuhan sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa, bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 8).

Saya tidak suka kepada sikap, ucapan dan tindakan Ahmad Dhani. Tetapi saya tetap menghargai dia sebagai musisi jenius. Dan tentu saja saya tetap menyukai karyanya terutama saat bersama Dewa 19. Kalau sekarang dia jadi Cawabup Bekasi, itu hak politiknya sebagai WNI. Seingat saya, di status FB ini tak sekali pun saya menghujat (mem-bully) dia.

Lalu bagaimana dengan MT? Apakah dia lantas ma’shum seperti Nabi SAW? Jelas tidak. Setara saja tidak. Justru sebuah penghinaan menyamakan sekedar MT yang cuma orang biasa dengan Kekasih Tuhan Yang Mulia.

Saya beberapa kali membuat tulisan di blog https://lifeschool.wordpress.com yang mengkritisi isi pelatihan MT. Materinya yang saya kritisi, bukan orangnya. Dan itu pun kasus per kasus, tidak seluruhnya sekaligus.

Saya mengerti mengapa banyak orang tak suka motivator. Serupa dengan alasan mereka tak suka tingkah-polah para petinggi partai tertentu. Karena positioning-nya yang “sok suci” bak malaikat. Seakan, dirinyalah orang paling mulia di muka Bumi.

Masalahnya, ada paradoks di sini. Kalau kita malah mencela orang seperti itu, kita malah lebih buruk daripadanya. Karena saat mencela orang lain, kita memposisikan diri lebih mulia daripada yang dicela. Jadi, ada orang sok suci yang dicela oleh orang yang merasa lebih suci daripada si orang sok suci. Si pencela jadi sosok sok super suci plus jadinya.

Di sinilah saya juga merasa sedih. Saya pun kerap begitu. Terutama kepada golongan Wahabi dan teman-temannya. Maka, justru dengan membuat tulisan ini saya juga menyadari kekeliruan saya dalam mengkritisi mereka.

Lalu bagaimana sebaiknya? Tempatkan masalah secara proporsional, nilai secara adil. Jauhi urusan yang bukan urusan kita secara langsung. Saya menulis ini karena ada beberapa FB friends yang mengira saya motivator. Padahal bukan sama sekali. Jadi, keterkaitan saya dengan MT adalah dalam konteks profesi “motivator”-nya. Dia motivator, saya dikira motivator.

Jadi motivator itu berat karena publik menuntut kesempurnaan pribadinya. Sebab, dalam materi pelatihannya pun ia selalu mengajarkan konsep yang cenderung utopis.

Maka, bila ada motivator yang dianggap tak mampu melaksanakan isi ajarannya sendiri, sontak publik terutama haters akan mencelanya. Komentar semacam “gue juga bisa” disertai serangan ad hominem seperti screenshot yang saya unggah kemarin menjadi sebuah santapan yang harus dihadapi.

Bila memang anda menganggap “hidup tak semudah cocote Mario Teguh” seperti tulisan di kaos yang fotonya saya unggah ini, ya berikhtiarlah lebih keras dan cerdas. Bila memang tak setuju dengan isi pelatihan MT, buat tulisan dan publikasikan dengan identitas asli. Bila memang “gitu doang mah gue juga bisa”, buatlah tandingannya. Buat acara TV sendiri dan lihat adakah yang mau menonton atau justru orang malah berkomentar “eh, siapa elu?”

Kalau memang tak mampu, daripada nyapekin hati, pindah saluran atau non-aktifkan TV-nya saat acaranya MT tayang. Atau main video game. Atau nonton DVD. Atau main ke mall.

Banyak pilihan bukan? Daripada ngurusin hidup orang yang nggak kenal, bukankah lebih baik memberdayakan potensi diri sendiri?

(Selesai)

 

Catatan: Tulisan ini semula diunggah sebagai status di account Facebook utama penulis pada hari Kamis (22/9).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s