Evaluasi Akhir Tahun Pribadi

etc_review46__01__630x420

Di tiap institusi, sudah lazim dilakukan evaluasi secara periodik. Secara tahunan, ini bisa dilakukan menuruti tahun kalender atau tahun buku atau menurut kebiasaan lain seperti di tanggal pendirian perusahaan.

Evaluasi kinerja tahunan bagi individu pegawai pun biasanya dilakukan bagian sumber daya manusia atau kepegawaian. Seseorang dinilai oleh orang lain.

Tetapi secara pribadi, jarang ada individu yang melakukan evaluasi kepada diri sendiri secara serius. Paling-paling, cuma menuliskan di buku agenda belaka. Ini sebenarnya berhulu pada kemalasan dan berhilir pada keengganan menghukum diri sendiri. Ketidakmauan berubah dan keluar dari zona aman-nyaman itu membuat banyak orang terjebak pada situasi stagnan. Hidup berjalan begitu-begitu saja tanpa perubahan ke arah yang lebih baik.

Terus-terang, saya pribadi juga selama ini sangat cuek soal ini. Apalagi, saya sebenarnya sulit keluar dari “jebakan badman” berupa “mind trap” yang diinisiasi justru oleh dan dari lingkungan terdekat saya: keluarga. Bahkan, khusus di saya, halangan itu bukan berupa “pola pikir” saja, tetapi juga tindakan aktif dari mereka.

Pembelajaran saya di tahun ini justru pahit. Namun, justru karena itu jadi mahal. Saya coba ringkaskan sebagai pointers semata untuk memudahkan saya sendiri untuk mengingatnya.

  • Tujuan: Tak ada tujuan bersama yang bisa dicapai kecuali ada pengorbanan. Dan pengorbanan tak akan mau dilakukan orang apabila mereka melihat tidak ada keuntungannya.
  • Teman: Tak ada teman yang abadi. Bahkan mereka yang sudah diberikan “hutang budi” lebih dulu pun enggan membalasnya dengan tulus. Alhamdulillah karena dengan begitu mereka justru memberikan “tabungan” dan “investasi” bagi akherat saya.
  • Rasa Aman: Tak ada tempat aman di dunia. Benteng paling kuat sekali pun bisa ditembus. Apalagi bagi orang biasa, kejahatan selalu mengintai setiap saat.
  • Rasa Cinta: Tak ada cinta sejati dan tulus di dunia fana. Karena dalam konteks cinta antar manusia sebagai pasangan, sebenarnya semua itu diatur oleh Tuhan. Dan mencintai manusia pun sangat mengecewakan. Karena itu, cinta terbaik memang hanya kepada Tuhan saja. Karena Ia Maha Pencemburu.
  • Harta: Tak ada harta (dalam bentuk apa pun) yang bisa membuat bahagia. Semua isyu kepemilikan cuma semu belaka karena sejatinya semua milik Tuhan yang bisa diambilnya sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  • Hidup: Tak ada hidup yang berarti tanpa cinta dan penerimaan. Dan sayangnya, berharap pada manusia sebenarnya sia-sia belaka. Karena cinta paling tulus hanya dari Tuhan dan penerimaan terbaik adalah keikhlasan.

Dengan evaluasi itu, saya sadar telah salah. Sejak 2012, sebenarnya Tuhan terus-menerus memberikan pelajaran hidup secara langsung kepada saya. Bukan saja berupa kejayaan, tapi justru banyak yang berupa ujian dan cobaan termasuk fitnah termasuk yang berupa iri dan dengki. Maka, sebagai konklusinya, di tahun 2016 saya memutuskan untuk “hijrah akbar”. Insya ALLAH.

Ilustrasi: bloomberg.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s