Ibu… Oh, Ibu…

hari-ibu-620x400

Bagi yang telah dewasa apalagi berkeluarga, kerapkali melupakan orangtua kita. Apalagi yang tinggal di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, di luar kota atau malah di luar negeri, dinamika hidup terasa begitu cepatnya. Padahal, saat kita tengah sibuk memperjuangkan hidup dan mengurus keluarga kita sendiri, orangtua secara harfiah juga menua. Mereka yang “tengah menanti mati” secara tak sadar kita abaikan. Padahal, saat kita baru lahir, kanak-kanak, remaja hingga dewasa muda, tak ada saat mereka “lupa mengurus anak”-nya.

Namun, semua itu adalah kondisi “ideal”. Dimana orangtua adalah orangtua yang baik, dan anaknya adalah anak yang berbakti.

Sementara, di sekitar kita, banyak sekali kondisi tidak ideal. Mulai dari orangtua yang mengabaikan anaknya, hingga anak yang malah membunuh orangtuanya.

Tetapi mari di Hari Ibu ini, kita anggap semuanya ideal.

Seorang Ibu, melalui rahimnya seorang manusia terlahir ke dunia. Peran Bapak tentu saja ada, baik secara biologis maupun sosial-ekonomi. Tetapi, dalam konteks reproduksi, masa normal kehamilan selama 9 bulan 10 hari itu tidak bisa digantikan oleh apa pun. Selama itu pula seorang wanita membawa beban seberat 3-4 kg ke mana-mana hingga masa kelahiran. Oleh karena itu, semua agama mengajarkan kasih dan bakti kepada Ibu.

Bahkan, di masa kuno, tuhan digambarkan adalah seorang perempuan. Pemujaan kepada para dewi pun begitu besar, sebelum agama monotheisme mengambil-alih dominasi keagaamaan. (Baca novel Da Vinci Code untuk memahami sepintas soal ini).

Lepas dari soal figur tuhan, ibu memang punya peran luar biasa. Kita, sewaktu kecil, hampir pasti akan mencari ibu saat merasakan kondisi tidak nyaman. Jarang sekali anak yang lebih dekat kepada ayahnya bila keluarganya utuh, dalam konteks tidak bercerai. Karena ibu yang bertugas sebagai “ratu rumah tangga”, ia paling mengerti urusan di dalamnya. Tidak hanya sekedar urusan domestik seperti memasak atau membersihkan rumah, tetapi juga urusan pendidikan anak. Apalagi dalam masyarakat patriarki, umumnya bapak hanya berfungsi sebagai “bread winner”. Sementara di rumah, ia tinggal “ongkang-ongkang kaki” saja.

Maka, sudah selayaknya kita semua yang jelas punya ibu menghormati sosok wanita paling hebat dalam hidup kita itu. Cobalah untuk membalas jasanya, walau tidak harus dengan materi. Minimal, sayangi beliau seperti saat kita yang masih kecil disayanginya.

 

Ilustrasi: viaberita.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s