Sombong vs Percaya Diri

Développez-votre-potentiel

Dalam Islam, kesombongan adalah hal yang tidak boleh dimiliki umatnya. Mengerikan, karena ia terkait dengan dosa besar yaitu syirik atau mempertuhankan selain Tuhan. Dari 99 nama Tuhan yang dikenal sebagai “Asma’ul Husna”, hanya Al-Mutakabbirun yang tidak boleh disematkan pada manusia. Jubah kesombongan hanya boleh dikenakan Tuhan.

Coba saja pikirkan, apa sih yang tidak dimiliki Tuhan? Ia Maha Kaya, Maha Kuasa dan Maha Segala.

Sombong berarti menganggap diri lebih daripada orang lain dan pada tingkatan “megalomania” malah menganggap diri setara atau malah melebihi Tuhan. Dalam Islam, sombong sendiri ada tiga jenis: takabbur, ujub dan riya’.

Bila takabbur terlihat jelas karena tampak dalam sikap, tingkah-laku dan ucapan, ujub dan riya’ lebih tersembunyi. Ujub itu mengagumi diri sendiri berlebihan, dalam konteks narcissisme akut. Ia selalu menganggap segala hal yang melekat di dirinya lebih baik daripada orang lain. Sedangkan riya’ terkait perbuatan, yaitu memamerkan perbuatan yang secara umum dianggap baik oleh masyarakat seperti bersedekah.

Asal tahu saja, setan justru senang menggoda orang-orang yang merasa dirinya suci agar terjatuh ke dalam perangkap kesombongan. Ini pernah dialami justru oleh orang sekelas nabi, yaitu Nabi Musa a.s. Seperti diriwayatkan oleh Imam Al-Ghazali, beliau pernah digoda setan untuk tidak lagi beribadah kepada ALLAH SWT karena sudah dalam tataran luar biasa ibadahnya. Tetapi karena dilindungi Tuhan, Musa menolak bujukan setan itu.

Kita yang manusia biasa kerapkali tergoda malah pada tataran yang lebih rendah daripada itu. Belum apa-apa, tapi sudah merasa hebat. Dan saya sendiri seringkali merasakannya begitu kuat. Apalagi saat bertemu orang “kurang ajar” yang merendahkan dan meremehkan saya. Ingin sekali saya menunjukkan “siapa saya”. Tetapi saya tahu, itu sombong namanya. Maka, saya memilih dalam banyak kesempatan untuk menahan diri. Seperti kata pepatah, “diam itu emas”. Saya memilih menyerahkan pada Tuhan untuk membalas segala kezaliman yang saya alami daripada membalasnya sendiri.

Tetapi, ada bedanya antara sombong dan percaya diri.

Kalau kita memang kompeten dan cakap, maka kita harus percaya diri. Kita harus mampu menghargai diri sedemikian rupa. Seringkali, kita harus menunjukkan hal itu kepada orang lain yang tidak tahu apalagi tidak menganggapnya. Percaya diri berarti tahu “posisi dalam hidup” kita ada di mana, dan itu berarti bisa menempatkan diri sesuai hal itu.

Sikap seperti di foto ilustrasi dalam beberapa adat-budaya termasuk di Indonesia terkadang diartikan sombong. Tetapi bagi saya pribadi, sikap itu justru menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi. Tergantung pada diri kita sendiri saja untuk memaknainya.

 

Foto: bookbon.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s