Menjadi Pembicara Soal Film

Dari kiri-ke-kanan: Saya-Hanum-Arul (Foto: Aida MA)

Dari kiri-ke-kanan: Saya-Hanum-Arul (Foto: Aida MA)

Meski sudah ratusan kali jadi pembicara, tetapi baru kali ini saya jadi pembicara di bidang perfilman. Atas undangan inisiator KOPI Ir. Fachrul Muchsen yang akrab dipanggil Arul, hari Senin (7/12) pekan lalu saya diminta menjadi pembicara pembanding. Sementara pembicara utamanya adalah Hanum Salsabiela Rais. Beliau selain putri dari Prof. Dr. H.M. Amien Rais, juga adalah penulis novel Bulan Terbelah di Langit Amerika (selanjutnya disingkat BTdLA). Sehari sebelumnya, tulisan pratinjau (preview) saya dijadikan HeadLine sore di Kompasiana (dapat dibaca di sini). Tulisan itu juga di-endorse langsung oleh kedua penulis novelnya yaitu Hanum dan suaminya Rangga Almahendra di Twitter.

Saya sendiri tidak sempat bicara banyak, karena para peserta Diskusi Panel Terbatas tentu lebih tertarik mendengarkan Hanum daripada penuturan saya. Meski diminta membahas mengenai artikel saya yang jadi semacam official preview dari film BTdLA terkait dengan “content capacity”-nya, waktunya tak cukup. Sehingga saya sepintas cuma membahas trik kecil bagaimana agar tulisan kita menjadi HeadLine di situs yang dikunjungi tak kurang dari 4 juta pengunjung per hari nya itu. Tidak mudah, karena artikel kita harus mengalahkan tak kurang dari 1.000 artikel lain untuk terpilih menjadi kepala berita.

Dalam kesempatan itu, Hanum hanya membahas singkat mengenai prosesnya menuliskan novel. Bermula dari kegalauannya saat menemani sang suami yang sedang mengambil studi di luar negeri, ia yang tidak bisa bersekolah atau bekerja -karena visanya turis- pun iseng-iseng menulis. Sembari menghabiskan waktu di perpustakaan, ia membawa laptop dan mengetik. Ide ceritanya yang bermula dari penulisan 99 Cahaya di Langit Eropa (selanjutnya disingkat 99 CdLE) adalah mempelajari sekaligus memperkenalkan peninggalan budaya Islam di Eropa. Bila 99 CdLE adalah rekaman pengalamannya di Eropa, BTdLA sebenarnya merupakan fiksi yang dibumbui fakta.

Sebagai mantan reporter televisi, Hanum tidak mengalami kesulitan dalam penulisan. Bahkan, meskipun ia yang dokter gigi merasa sangat dimudahkan Tuhan saat menyelesaikan bukunya. Ketika saya menanyakan apakah sejak semula buku itu memang dimaksudkan sebagai semacam sarana dakwah, Hanum secara eksplisit mengiyakan. Ia mengatakan bahwa setiap penulis memang punya ego tersendiri. Dan buku itu adalah cara dia menuangkan pikirannya yang ingin memberitahukan kepada pembaca Indonesia tentang budaya Islam di Eropa. Menurut Hanum, masih banyak orang yang tidak tahu kalau Islam pernah menguasai Eropa di abad pertengahan. Di abad di mana Eropa justru sedang berada dalam “dark ages” atau masa kegelapan.

Sebagai seorang yang S-1-nya filsafat dan S-2-nya filsafat Islam, saya tentu sangat tahu apa yang dimaksud oleh Hanum. Bahkan dalam kajian filsafat di Universitas Indonesia dimana saya menamatkan studi S-1, masa kejayaan Islam selama 10 abad seakan disembunyikan. Kajian hanya soal filsuf Yunani di masa abad ke-4 Sebelum Masehi, lantas meloncat ke filsuf Eropa abad ke-17. Nah, tak banyak yang tahu bahwa selama abad ke-7 hingga abad ke-17, itulah masa kekhalifahan Islam menguasai dunia. Dan di masa itu, banyak sekali penemuan ilmiah oleh ilmuwan Muslim yang terus digunakan hingga kini.

Tentu saja, sebagai sebuah novel, baik 99 CdLE maupun BTdLA tidak boleh dibebani misi ilmiah. Kalau pun ia memberikan informasi ilmu pengetahuan, semata harus diperlakukan sebagai informasi awal belaka. Kita sebagai pembaca justru diharapkan mencari tahu lebih jauh, tentu agar misi “dakwah” dan “pencerahan” yang diharapkan penulisnya bisa lebih terelaborasi. Dalam hal ini, pembaca -dan juga penonton filmnya nanti- diharapkan menyadari bahwa kondisi di negara lain bisa berbeda. Dan bagi saya pribadi, memahami heterogenitas serta menghargai pluralitas atau kemajemukan merupakan sebuah harapan tambahan setelah membaca buku novel dan menonton film BTdLA.

Catatan: Sejak 10 Desember 2015 saya bukan lagi anggota KOPI. Sehingga segala hal terkaitnya bukan urusan saya lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s