Tujuan Hidup

FB FanPage BMH-Walter Mitty

Apa sih tujuan hidup kita sebagai manusia? Pertanyaan filosofis ini bisa dijawab secara agamis. Contohnya dalam Al-Qur’an disebutkan “tujuan penciptaan manusia” yang bisa dibilang serupa dengan “tujuan hidup” manusia. Hal ini tercantum dalam Al-Quran surat Adz-Dzariyat ayat 56 berikut:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.

Banyak pendakwah Islam dengan mudah merujuk pada ayat tersebut. Sehingga seolah tugas manusia di dunia ini hanya beribadah saja. Padahal, ALLAH SWT juga berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Qashash ayat 77 berikut:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Tanpa perlu berpanjang lebar, Islam menganjurkan manusia “zuhud” (berlepas diri) dari dunia, tetapi tidak melupakannya. Tujuan manusia diciptakan adalah untuk mencari “kebahagiaan akherat”, tetapi tidak lantas melupakan dunia. Artinya, kalau bisa seimbang antara dunia dan akherat itu bagus. Tapi lebih bagus lagi bila akherat sudah lebih banyak, sementara dunia sudah otomatis berjalan. Kalau istilah yang populer, kita sudah meraih “kemerdekaan finansial”. Orang yang sudah mencapai posisi ini, bila memang hati dan akhlaknya baik, akan tergerak menjadi “filantropis” dan berbuat lebih banyak bagi manusia dan alam.

Maka kali ini, saya mengambil kutipan dari film The Secret Life of Walter Mitty (2013). Dikisahkan, seorang pegawai majalah LIFE yang bertugas sebagai “negative assets manager” (manajer aset film negatif/klise) ditugasi mengurus foto yang akan ditampilkan di edisi cetak terakhir majalah itu. Karena adanya pengambilalihan kepemilikan sehingga edisi cetak dihentikan dan dialihkan ke daring (online). Dan sang pegawai yang terbiasa hanya hidup “begitu-begitu saja” dari hari ke hari, bekerja nine-to-five di balik meja, lantas berubah seketika menjadi petualang. Karena ia harus memburu fotografer yang mengirimkan klise yang ternyata terselip. Padahal, sang fotografer alam liar itu tak punya alamat tetap dan jadwal pasti. Maka, berpetualanglah ia ke Iceland dan Afghanistan.

Petualangan hidup inilah yang jadi semboyan majalah LIFE yang saya kutip di sini. Saya tahu, tidak semua orang berani melakukan hal itu. Karena mayoritas manusia memang lebih suka hidup bak katak dalam tempurung, berlindung di balik zona aman dan nyaman. Meski seolah tahu informasi dunia, tapi cuma dari menjentikkan jari saja di gawai. Sederhana saja, bermain game sepakbola tidak sama dengan bermain sepakbola betulan di lapangan bukan?

Sebenarnya, slogan atau motto itu mengajak manusia untuk “hidup lebih hidup”. Mengisi hidup tidak sekedar dengan rutinitas “bangun-mandi-sarapan-berangkat aktivitas-makan siang-aktivitas lagi-pulang ke rumah-mandi-makan-tidur” saja setiap hari. Karena bila begitu, tanpa terasa kita juga menjalani siklus hidup “bayi-anak-remaja-dewasa-tua-mati” saja. Dan usia kita habis cuma di situ-situ saja. Coba deh, bercermin. Anda selama ini ngapain sih?

Saya saja baru saja “bangun”, bak baru “siuman dari pingsan panjang”. Selama belasan tahun, saya mengabdikan hidup pada orang lain. Orang yang pada akhirnya tak peduli lagi pada saya. Orang yang menikam saya dari belakang. Orang yang justru menganggap saya bak sepah, yang setelah habis manis lantas dibuang. Orang yang setelah saya besarkan justru membuang saya. Bodohnya saya!

Padahal, saya pernah mengalami hidup seperti Sean O’Connell yang penuh gairah. Dan kini posisi saya memang seperti Walter Mitty. Dari tadinya “tergoblokkan” oleh rutinitas kosong dan ambisi semu, menjadi begitu ingin mereguk dunia. Sekali lagi, bukan dengan “wisata pamer kekayaan”, tapi dengan “petualangan seru”. Karena itulah “TUJUAN HIDUP”:

“Untuk melihat dunia, merasakan bahaya yang datang, melihat ada apa di balik dinding, mendekatinya, untuk menemukan satu sama lain dan merasakan.”

 

4 responses to “Tujuan Hidup

  1. Ping-balik: Target, Tujuan & Makna Hidup | LifeSchool by Bhayu M.H.·

  2. Ping-balik: Target, Tujuan & Makna Hidup | LifeSchool by Bhayu M.H.·

  3. Ping-balik: Makna Hidup | LifeSchool by Bhayu M.H.·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s