Jangan Curhat Sembarangan!

tempat_curhat

Dalam acara Islam Itu Indah di Trans TV yang jadi favorit tontonan dakwah saya setiap pagi, seringkali saya mendapati hikmah yang “gue banget”. Saya malah merasa, dari sekian pendakwah, hanya ustadz Maulana yang mampu mengangkat permasalahan secara adil. Ia tidak menghakimi, tetapi memberikan perspektif dan alternatif solusi.

Seperti dari tayangan hari Sabtu (26/9) lalu, saya mendapatkan satu hal lagi yang “kena” dalam kasus hidup yang saya hadapi. Meski temanya “#temankokmesra”, tetapi justru yang saya dapatkan berupa “insight” lain. Dalam tanya-jawab, ustadz Maulana menyarankan agar “jangan curhat sembarangan”. Bila perlu curhat, carilah tempat yang bisa memberikan solusi. Contohnya kepada psikolog, psikiater, ustadz atau pemuka agama. Justru jangan kepada teman. Karena teman berpotensi membocorkan rahasia kita. Apalagi bila ia kemudian berbalik jadi musuh kita.

Sebagai seorang yang super-introvert, saya pribadi sebenarnya sangat hati-hati saat akan curhat. Selama ini, saya hanya curhat kepada dua orang pasangan terpilih saja. Mereka yang mendampingi saya paling lama selama masing-masing 7 tahun. Tetapi, kondisi “muak” yang saya rasakan, membuat saya “kelepasan curhat” kepada empat orang: 1 sepupu, 2 teman SMP, dan 1 teman kuliah. Sial!

Dan ternyata, ustadz Maulana benar. Mereka pada akhirnya tak peduli pada saya. Karena hidup sudah begitu menyenangkan bagi mereka. Tentu tak ingin “dunia aman dan nyaman” mereka diganggu oleh saya dan masalah saya. Itu wajar dan manusiawi. Karena itu, alih-alih merutuki mereka, saya malah menyalahkan diri sendiri yang begitu mudah “bobol”. Padahal, selama 36 tahun, saya tak pernah seperti itu.

Toh, saya juga harus memaafkan diri sendiri. Karena kasus hidup tahun 2012 begitu memukul saya. Seperti halnya Baginda Rasul yang berturut-turut ditimpa musibah, tahun itu saya juga berturut-turut ditimpa musibah. Kalau orang lain yang menerimanya, belum tentu bisa setegak saya. Karena itulah, saya masih mengucapkan syukur walau bagaimana pun.

Jadi, dengan menuliskan “curhat terakhir” di salah satu account FaceBook saya, saya berketetapan dan memutuskan untuk berhenti curhat dalam segala bentuk, baik lisan maupun tulisan. Dan itu termasuk pula berhenti mengeluh kepada sesama manusia, bahkan meskipun dia ahli. Tetapi tentu saja saya –sesuai anjuran ustadz Maulana juga- tidak berhenti curhat kepada Tuhan. Karena hanya Ia-lah tempat saya bersandar dan meminta pertolongan.

Ilustrasi: voa-islam.com

One response to “Jangan Curhat Sembarangan!

  1. Ping-balik: Aktivitas Saya | LifeSchool by Bhayu M.H.·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s