Bahagia Itu Sederhana?

9846b8862a584f1d14f01d3bf907d203

Kita seringkali mendapati status seperti ini di Facebook atau media sosial lain. Misalnya, “Bahagia itu sederhana. Waktu pulang kantor ternyata istri sudah memasak enak.” Lucunya, saya ingat yang bersangkutan beberapa waktu sebelumnya menulis status “Duh, istri gue belajar masak. Boleh aja sih. Tapi mbok ya gue jangan dipaksa makan dong!” Dan status itu pun “diperkuat” dengan foto masakan sang istri segala. Inilah yang saya sebut sebagai “munafik” dalam tulisan saya berjudul Pencitraan & Kemunafikan pada 31 Agustus 2015 lalu.

Seorang yang saya sangat kenal dekat malah lebih parah lagi “munafik”-nya. Maaf ya saya berkata keras (kalau kamu baca ini, ini karena saya sayang kamu). Dia justru menulis status di FaceBook untuk suaminya (redaksinya tidak tepat seperti ini, tapi intinya sama): “Aku cinta kamu suamiku.” Tahukah Anda, status itu ditulis tepat saat yang bersangkutan dihajar oleh suaminya. Dipukuli dan dibenturkan ke tembok hingga berdarah dan masuk ke Rumah Sakit dengan sekian belas jahitan, diopname beberapa hari tanpa ada kerabat yang tahu (kecuali saya dan ibunya).

Kenapa sih musti mencitrakan diri “hebat”, “fine”, apalagi “bahagia?” Anda pikir, malaikat bakal tertipu oleh itu? Padahal, malaikat juga tahu siapa juaranya, kan?

Bukankah akan lebih baik diam, bila tak mampu berkata baik? Bukankah agama Islam yang saya –dan dia- anut mengajarkan itu? Sebagaimana sabda Baginda Rasul berikut:

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Kalau kita mau jujur, bahagia adalah hal tersulit dalam hidup. Ia tidaklah sederhana. Justru mereka yang menempuh jalan sufisme tahu ini. Mereka baru bisa “Bahagia Paripurna” setelah menempuh begitu banyak anak tangga “maqom” yang dilalui dengan perjuangan berat sekali. Ujian hidupnya “mengerikan”, karena selain tak terduga waktunya, juga bentuknya. Ia bisa berupa kerampokan, dikhianati rekan bisnis, ditinggalkan pasangan, bahkan tsunami. Jadi, bodoh dan idiot mengatakan “bahagia itu sederhana”. Itu seperti mengatakan: “jadi profesor itu gampang”. Atau ucapan Prabowo Subianto: “menguasai Indonesia itu mudah”.

Bahagia adalah kondisi menetap. Ia tidak lagi turun. Sementara senang, bisa berganti-ganti dengan sedih. Perhatikan, menjadi bahagia bukan berarti selalu senang. Tetapi ia mampu mencapai kondisi muttaqin (orang bertakwa), tingkatan keimanan tertinggi bagi seorang muslim. Ia sudah melalui tingkatan mukhlis (orang ikhlas) dan muhsin (orang baik) sekaligus. Ini berarti jauh di atas mukmin (orang beriman) apalagi sekedar muslim (orang Islam) yang paling rendah. Memaknai kehidupan sebagai bakti kepada Tuhan, yang bukan cuma omdo (omong doang) atau sekedar “mind set” belaka, tapi dilakoni.

Contoh konkret, kalau Anda dokter, dan tiap hari menolong orang sakit, apakah itu mulia? Tidak. Kenapa? Karena Anda menerima bayaran atas jasa Anda itu. Anda baru mulia kalau mau meluangkan waktu ikut tim relawan bencana, ekspedisi ke tempat-tempat terpencil, tanpa bayaran. Demikian pula kalau Anda cuma mengurus suami yang sakit, apa itu mulia? Tidak. Karena itu kewajiban Anda. Anda baru mulia kalau di waktu luang mengurus para gelandangan dan orang miskin yang sama sekali tidak anda kenal. Seperti hukum beribadah, wajib itu semua orang seharusnya melakukan. Tetapi sunnah dan mubah itulah yang jadi ujian pahala sesungguhnya.

Jadi, kalau Anda bahagia, hal terpenting untuk ditanyakan adalah: Apakah Anda sudah mampu membahagiakan orang lain? Meski hidup dalam kesederhanaan dan mungkin terlihat jarang tertawa senang, orang-orang seperti Mother Theresa dan Mahatma Gandhi bisa dibilang bahagia. Karena hidup mereka adalah mentari bagi banyak orang. So, kalau bahagia itu sesederhana dibelikan cincin oleh suami, dihadiahi pakaian oleh teman, dicium anak, itu sebenarnya sekedar senang yang egosentris. Senang untuk diri sendiri. Apa manfaatnya itu bagi orang lain? Nol besar bukan?

3 responses to “Bahagia Itu Sederhana?

  1. Ping-balik: Semua Akan Indah Pada Waktunya | LifeSchool by Bhayu M.H.·

  2. Terimakasih sudah membaca artikel saya di kompasiana, mas Bayu. Artikel itu juga saya tulis di blog pribadi saya di http://rickybrahmana.com/6-tanda-anda-harusnya-sudah-berbahagia/
    Untuk berbahagia, orang tidak akan bisa membagi kebahagiaan dengan orang lain kalau mereka belum merasa bahagia. Ingat kata BELUM dan bagaimana kita mudah menilai kebahagiaan orang tapi sulit menilai kebahagiaan sendiri. Orang yang belum merasa bahagia akan sulit berbagi kebahagiaan, karena kebahagiaan itu harus dimulai dari diri sendiri dan mengalir ke orang lain di sekitar kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s