Drama

FB FanPage BMH-Rectoverso v3

Drama adalah sebuah produk kebudayaan. Sebagai bagian dari karya sastra, drama bersanding sebanding dengan prosa dan puisi serta turunan keduanya.

Tetapi, drama yang dijadikan karya sastra itu sebenarnya merupakan semacam potret dari drama kehidupan manusia sesungguhnya. Meski dalam drama yang karya sastra ada unsur fiksi dan dramatisasi dari drama kehidupan sesungguhnya. Di zaman modern, ada media lain seperti film yang bisa mengejawantahkan drama begitu rupa.

Drama membuat manusia kerap mengharu-biru.

Hidup sudah cukup sulit bahkan keras bagi banyak orang. Tetapi, seringkali drama-lah yang menyebabkannya begitu mengharu-biru. Karena itulah dibuat mulai dari cerita, novel, puisi, film dan tentunya juga drama itu sendiri. Nuansa emosional dalam drama itulah yang membuat seringkali manusia sulit membedakan dengan fakta. Agar bisa berdiri tegak dalam hidup, justru harus mampu menepikan drama itu sendiri agar tidak terlarut suasana hati.

Sebagai contoh, mari kita lihat satu fakta kecelakaan lalu-lintas. Faktanya adalah -misalnya- ada motor yang ditabrak mobil sehingga pengendaranya terjatuh dan ia terluka karenanya. Tetapi, drama akan membuat segalanya rumit. Contohnya bila si pengendara motor yang tidak pingsan kemudian jadi emosional. Dan lebih parah lagi bila si penabrak pun ikut emosional.

Dan, jangan dilupakan, dalam tiap drama, selalu ada unsur penonton. Inilah yang kemudian membuat para pemain bersemangat. Bayangkan saja sebuah panggung tanpa penonton, bukan saja sepi, tapi sia-sia.

Maka, dalam hidup, janganlah kita menciptakan drama begitu rupa bagi hidup kita sendiri. Apalagi semata “mencari panggung” demi mendapatkan “perhatian penonton”.

Karena tindakan “dramatisasi” hidup seperti itu akan menyebabkan kita “salah fokus”. Kita semata bertindak bila ada “penonton”, dan justru tidak berbuat apa-apa bila tanpanya. Kita harus membuat diri kita mengisi hidup tanpa banyak drama.

Nah, andaikata pun kita berhasil dalam hidup sehingga menjadikan karya kita monumental dan kita sendiri layak dikenang sebagai “orang besar”, bukan kita yang akan membuat drama. Melainkan justru orang lain terutama dari generasi penerus yang akan men-drama-kan kehidupan kita. Dan itu bisa berarti menjadikan diri kita sebagai pahlawan atau mungkin bukan sekedar membuat film tentang kita, tetapi bisa jadi juga patung dan menjadikan nama kita nama jalan.

So, hindari drama! Yuk, fokus kerja!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s