Peran Tuhan & Manusia (2)

Salahuddin dan Guy d' Lusignan saat penaklukan Yerusalem

Salahuddin menerima penyerahan diri Guy d’ Lusignan dan pasukannya saat penaklukan Yerusalem

Menyambung tulisan kemarin, dalam kehidupan di dunia ini, seringkali kita manusia lupa bahwasanya ada Tuhan yang Maha Kuasa. Meski seolah Tuhan ‘diam saja’ menyaksikan berbagai kejadian di dunia, tapi sebenarnya tidak. Adanya anggapan Tuhan ‘diam’ itu karena memposisikan Tuhan sebagai ‘semua yang baik’, berhadapan dengan ‘semua yang jahat’ yang biasanya dinisbahkan pada setan. Kita melihat, dunia ini memang tidak ideal. Di dalamnya ada kejahatan, kemunafikan, kebejatan, ketidakseimbangan, kemiskinan, kebodohan, dan semua keburukan lainnya. Karena itulah lantas muncul kajian “theodesi” yang menganggap Tuhan berjarak dari alam semesta yang diciptakan-Nya. Maka, teori penciptaan alam ini pun disebut “watchmaker theory”, dimana Tuhan diibaratkan seperti pembuat jam. Setelah diciptakan lengkap, maka ditinggalkan untuk berjalan atau berfungsi sendiri sesuai mekanisme yang sudah ditetapkan.

Padahal, Tuhan sebenarnya terus-menerus berperan dalam kehidupan manusia dan segala bentuk kegiatan di alam raya ini. Apalagi dalam keyakinan agama saya -Islam- Tuhan tidaklah ‘menyejarah’. Ia di atas sejarah, ia ada sebelum sejarah ada, ia berada di balik (beyond) sejarah. Karena Tuhan bebas dari ruang, waktu dan dimensi. Ini beda dengan personifikasi Tuhan dalam agama lainnya. Karena itu, Tuhan Islam itu impersonal, tidak berbentuk, tidak berwujud materi, tetapi Maha Ada.

Sebenarnya, kalau kita kaji sejarah peradaban manusia itu sendiri, bukti-bukti kehadiran Tuhan terasa di banyak tempat. Karena kita ambil contoh dari Salahuddin al-Ayyubi kemarin, maka kehadirannya sendiri adalah sebuah contoh ‘keajaiban’. Yerusalem, kota suci tiga agama, berhasil direbutnya dengan cukup mulus. Bahkan, setelah menaklukkan kota, ia sama sekali tidak membunuh dan memperkosa satu orang pun serta tidak merusak atau membakar satu bangunan pun. Padahal, di masa abad pertengahan, tindakan itu adalah sebuah kelaziman. Dan setelah Yerusalem dan Palestina berhasil direbutnya, tak pernah lagi pasukan Kristen berhasil mengambil alih hingga 1948 melalui pemaksaan pendirian negara Israel.

Tetapi kita belajar juga dari Salahuddin, bahwa kita sebagai manusia haruslah membuat persiapan duniawi untuk hal-hal dan tujuan duniawi. Karena perang berlangsung di dunia, maka unsur-unsur seperti pasukan terlatih dan lengkap persenjataannya, perbekalan memadai, kesehatan prima dan strategi cerdik jelas berpengaruh.

Demikian pula dalam segala hal lain di dunia. Persiapan adalah hal utama. Bila dengan persiapan saja kita masih bisa gagal, apalagi tanpa persiapan, sudah pasti hampir mustahil berhasil.

Bila dalam sekolah ada ujian, sebenarnya di tiap langkah kehidupan pun sama saja. Hanya saja, ujiannya seringkali tidak begitu kentara karena tersembunyi dalam “pillihan hidup” yang berujung pada “keputusan”.

Karena itu, meski jelas peran Tuhan ada, tapi persiapan jangan dilupakan. Jangan cuma mengandalkan Tuhan seperti cuma berdo’a tanpa berusaha. Karena Tuhan pun menghargai setiap ikhtiar manusia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s