Awas, Orangtua Galak!

RT Islam Itu Indah

Pagi tadi, saat menyaksikan televisi saya memilih menyetel Trans TV untuk mendengarkan acara tausiah atau ceramah agama dari ustadz Maulana. Saya lalu menuliskan Twit dari @BhayuMH kepada account resmi acara “Islam Itu Indah”. Bunyinya sederhana: “Topik @islamitu_indah di @TRANSTV_CORP pag ini “Awas,orangtua galak!” sangat bagus bagi banyak orangtua di @Indonesia yg kurang peduli anak.”

Tak dinyana, sekitar jam 12 siang, admin account tersebut me-Re-Tweet. Dan ini tentu menyenangkan bagi saya. Karena account itu punya follower lumayan, yang berefek cuitan saya dibaca lebih banyak orang. Lumayan ada beberapa favorit dan retweet dari account lain kemudian mengikuti.

Alhamdulillahirabbil’alamiin. Itu satu berkah bagi saya.

Tapi di sini, saya hendak membahas isi atau content dari acara itu sendiri. Tajuknya adalah seperti judul tulisan ini: “Awas, Orangtua Galak!”

Intinya, orangtua haruslah memberikan semua hak anak. Ia harus mampu memenuhi kebutuhan anak bukan saja dari hal material atau fisik, tetapi juga psikologis seperti kasih sayang dan rasa aman. Bila tidak, maka di akherat kelak bisa jadi si anak akan menuntut orangtuanya di “pengadilan hari akhir”.

Seringkali, orangtua merasa “paling benar sendiri” dan tak mau mendengarkan pendapat anak. Dalam konteks itulah, ustadz Maulana mengingatkan bahwa sikap seperti itu keliru. Kenapa? Karena semua manusia pada dasarnya sama. Mereka bisa alpa dan keliru. Termasuk orangtua. Bila sudah begitu, bukanlah tabu bila orangtua meminta maaf kepada anaknya.

Di Indonesia, sayangnya pengaruh adat dan budaya tradisional lama yang tak jarang diwarnai pula oleh pemahaman agama keliru membuat orangtua merasa berhak seratus persen atas anaknya. Anak dianggap property atau “hak milik”, sehingga boleh diperlakukan apa saja.

Padahal, anak adalah amanah dan titipan Tuhan yang harus dipelihara dan diperlakukan dengan baik. Karena apabila keliru dalam membesarkan anak, bisa berakibat fatal, bukan hanya di akherat kelak, tetapi juga di dunia. Contohnya ya seperti kasus yang mencuat di media massa akhir-akhir ini. Itu akibat pemahaman keliru mengenai konsep orangtua dan pengasuhan anak.

Sumber foto ilustrasi: kaskushootthreads.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s