Suara Terompet Dari Langit?

546b5729-9294-4af6-a88b-c76a43e03db5_169

Di media televisi dan internet kita, sedang ramai diberitakan tentang fenomena “suara terompet dari langit”. Fenomena ini didengar orang di berbagai negara, dimana di banyak negara maju kotanya memang tenang dan tidak bising seperti Jakarta. Sehingga suara seperti terompet itu terdengar lebih jelas dan lantang. Dan memang aneh bagi mereka karena tidak ada loudspeaker yang kalau di kita bisa disetel keras-keras semata untuk ndangdutan.

Menjadi bisa diakses siapa saja karena diunggah ke situs berbagi video Youtube. Karena di televisi kita sedang trending acara kolase atau kumpulan aneka video yang diunduh dari situs itu, maka kemudian jadilah topik itu ramai. Pada akhirnya, karena begitu ‘serius’-nya, sampai-sampai pakar dari LAPAN (Lembaga Penelitian Antariksa Nasional) ikut diwawancara. Yah, Anda sudah tahu lah seperti apa penjelasan ilmiahnya, sehingga tak perlu saya ulang lagi di sini.

Secara pribadi, saya tidak terlalu menanggapinya serius. Fenomena alam sebenarnya banyak sekali yang masih jadi misteri manusia. Ada yang malah sudah jadi semacam bahan bagi cerita dan film. Sebutlah seperti alien atau makhluk luar angkasa. Bahkan ada pula yang jadi legenda semacam monster Danau Loch Ness, crop-circle, deep tunnel, atau yeti. Tetapi ada pula yang ternyata fakta yang terungkap secara ilmiah seperti ikan Coelantherata atau komodo, dua binatang purba yang ternyata masih bertahan hidup hingga kini.

Walau begitu, ada yang menarik saat mengkaitkan fenomena ini dengan nubuat dalam agama Samawi atau Abrahamic religion. Sangkakala atau terompet akhir zaman pertanda kiamat konon akan terdengar bila kiamat akan tiba. Karena kiamat digambarkan memang penuh bencana alam, mulai dari gempa bumi, gunung meletus hingga tsunami di seluruh belahan dunia, maka sudah pasti akan mengerikan. Tetapi kalau dipikir secara logis, andai kiamat asli dari Tuhan terjadi, apa lagi yang bisa kita lakukan? Cuma bisa pasrah saja. Karena jangankan kiamat, andai terjadi bencana alam mendadak saja, kita tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Walau mitigasi bencana di banyak negara yang bagus mencegah jatuhnya korban jiwa lebih banyak. Sebutlah seperti Jepang yang sangat siap menghadapi bencana gempa Bumi dan tsunami.

Di sisi lain, andaikata takut menghadapi kiamat versi agama, berarti kita tahu diri kita tak pantas menghadap Tuhan atau merasa berdosa. Bukannya sok suci atau bagaimana, tetapi bagi orang beriman, justru pertemuan dengan Tuhan itulah yang dirindukan. Maka, dalam Islam, kematian itu dirindukan, tetapi tidak bisa didesakkan. Susah mengertinya? Ini seperti merindukan kenaikan gaji, yang semata hak dari atasan dan institusi yang mempekerjakan kita. Karena justru bila kita mendesakkannya, malah jadi salah di mata bos.

Toh, bagi saya fenomena alam itu suatu peringatan, agar kita manusia bukan hanya mendekat kepada Tuhan, tetapi juga makin menyayangi alam. Bukankah manusia memang seperti virus bagi Bumi, merusak sedemikian hebatnya selama beberapa ratus tahun terakhir, terutama pasca revolusi industri. Padahal, usia Bumi jauh lebih tua daripada usia keberadaan manusia di atasnya. Maka, kalau mau sedikit berimajinasi, suara terompet itu yang oleh para ilmuwan disebut karena pergesekan kerak Bumi, bolehlah dianggap sebagai “teriakan Bumi” atas deritanya karena ulah manusia.

Ilustrasi: cnnindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s