Jangan Pakaikan Kacamatamu Di Mata Orang Lain!

kaca-mata

Dalam peribahasa barat, ada adagium “don’t put your shoes on the other foot”. Jangan taruh sepatumu di kaki orang lain. Sama saja artinya dengan judul di atas.

Kita seringkali tidak sadar. Kalau kita hidup hanya memakai apa yang diberikan Tuhan pada kita. Mata cuma dua, telinga cuma dua, tangan cuma dua, mulut dan bibir satu. Sementara orang lain juga punya masing-masing.

Demikian pula pengalaman hidup kita. Tak mungkin kita memaksakan orang lain mengalami yang kita alami. 

Kalau misalnya kita jatuh atau dipukul, rasa sakitnya ya hanya kita yang menerima dan mengalami. Ini sebenarnya realitas sederhana yang kita sudah tahu sejak masih “orok”.

Sayangnya, saat dewasa, kita seringkali melupakan hal itu. Kita malah memaksakan sudut pandang kita kepada orang lain. 

Dan itu ‘mengerikan’ kalau orang yang melakukan itu adalah yang dianggap panutan. Atau setidaknya, punya posisi pendapatnya kemungkinan didengarkan orang lain. 

Meski diejek beberapa orang yang justru tidak kenal saya di dunia nyata seperti di forum atau blog -terserah-, tapi saya juga begitu. Saya amat hati-hati dalam berpendapat. Termasuk dalam menulis. Karena ternyata pendapat saya juga jadi rujukan orang lain. Dan itu bisa dicari dengan mudah di google. Beberapa tulisan saya dikutip oleh pelajar dan mahasiswa dalam karya ilmiahnya.

Pengalaman itu khas kita. Diberikan Tuhan hanya untuk kita. Orangtua, kakak, adik, pasangan hidup, tidak ada yang mengalami. Apalagi sekedar tetangga, teman atau kenalan. Hanya kita. 

Saya amat hati-hati memasukkan sudut pandang “pengalaman” dalam setiap tulisan, terutama dalam bidang saya. Kewirausahaan adalah salah satunya. 

Pengalaman orang untuk bisa jadi pengusaha itu berbeda-beda. Makanya, saya heran sekali di beberapa komunitas seperti Tangan Di Atas (TDA), Entrepreneur University (EU), atau komunitas pengusaha berbasis milis, pola ini masih saja berlaku. 

Terutama sekali memaksakan pendapat “buat apa sekolah kalau mau kaya?” dan “kehebatan otak kanan”. Padahal, data ilmiah dan justru pengalaman lebih banyak orang membuktikan semua itu salah. 

Baru saja semalam saya membalas pendapat seseorang di TDA Bekasi yang ‘ngotot’ mengatakan “sekolah bikin miskin”. Saya tuliskan pendapat panjang, yang tidak dibantahnya. Tetapi saya tahu ia dan teman-temannya tetap tidak mau terima. Walau argumen pembantah saya jelas sangat bagus karena mereka terdiam. 

Yah… sudahlah. Jalani saja hidup kita masing-masing. Merasa benar itu tidak penting. Yang penting adalah bagaimana hidup kita bermanfaat bagi sebanyak mungkin manusia dan alam. Betul?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s