Saya & Wanita Pasangan Saya #01

muslim matrimony

Bismillahirrahmaanirrahiim,

Seumur hidup, hanya ada dua orang yang tidak mengikuti kehidupan saya sehari-hari dengan tepat menebak kondisi percintaan saya dengan wanita. Itu berarti mengecualikan kedua orangtua saya dan keluarga inti dua mantan pasangan saya. Pertama adalah paman saya, adik Ibu saya yang paling kecil, nomor 13 dari 13 bersaudara. Usianya kini 53 tahun, terpaut 15 tahun dari saya. Tetapi karena di masa mudanya ia ganteng dan cenderung playboy, maka ia tahu bahwa saya ‘menuruni bakatnya’. Istilah dia tentang saya adalah “Kamu itu bak pendekar silat, sudah level 40, tapi orang-orang mengira kamu baru level 1. Makanya sok menasehati”. Saya terpaksa menuliskan ini sebagai “hak jawab” karena tanggal 16 Agustus 2014 kemarin, seorang yang kira-kira seusia adik ibu saya, menyatakan saya “tidak mahir dengan wanita”. Salah besar!!! Saya justru sangat mahir soal wanita.

Ia berkomentar begitu karena melihat seolah saya begitu terpuruk karena ditinggalkan oleh pasangan kedua saya, YPP. Saya jelaskan dulu soal yang terakhir ini. Dia adalah seorang yang hebat. Selalu juara 1 dari kelas 1 SD hingga kelas 3 SMA di sekolah paling bagus di kotanya. Sewaktu tes masuk perguruan tinggi, ia diterima melalui PMDK dan UMPTN di dua PTN berbeda, plus juga diterima di STAN. Lancar berbahasa Inggris tanpa kursus di luar sekolah, hingga kemudian bisa bekerja dengan atasan orang asing. Pekerja keras tapi sayangnya kurang punya kualitas leadership. Saya menempanya ilmu kepemimpinan, organisasi hingga cara menangani musuh. Dari semula staf biasa yang kurang dikenal saat bekerja di sebuah perusahaan penerbitan terbesar di Indonesia, ia kemudian bahkan dikenal oleh CEO sendiri saat memenangkan kejuaraan Customer Service. Tidak mudah, karena perusahaan itu punya tak kurang dari 10.000 pegawai! Ia kemudian dinominasikan ikut S-2 manajemen, tapi karena intrik politik kantor, ia tersingkir. Maka, atas saran saya, dan saya juga yang mencarikan dan memasukkan lamaran, ia pindah ke perusahaan farmasi besar. Di sini, sejak awal, saya tempa ia metode untuk segera mendapatkan perhatian atasan. Kenapa? Karena itulah cara cepat naik pangkat. Apa efeknya? Ia berhasil! Dalam setahun, ia tiga kali naik pangkat! Itu membuatnya jadi idola semua orang di sana. Posisi terakhirnya di sana adalah kepala divisi, dua tingkat di bawah direktur perusahaan. Ia pun dinominasikan sebagai kandidat direktur. Di perusahaan ini, ia pun sempat meraih prestasi dengan menjadi juara tingkat nasional sebuah kompetisi yang diadakan oleh satu majalah terkemuka. Hadiahnya? Kuliah gratis S-2 manajemen yang uang kuliahnya sekitar 100 juta rupiah!

 

 

 

(Bersambung besok)

Catatan: Tulisan ini pertama kali diterbitkan dalam satu kesatuan sebagai note di FaceBook pada 17 Agustus 2014. Dengan memohon maaf terpaksa saya hapus dari sana karena pribadi kepada siapa saya tujukan tulisan ini telah meninggal dunia pada 29 Desember 2014. Akan terasa ‘sadis’ bila tetap saya cantumkan dengan ‘tag’ kepada account-nya. Di sini pun, nama beliau saya hapus demi menghindari “ghibbah”. Tetapi karena tulisan ini penting bagi saya, terutama sebagai penjelasan bagi “orang bodoh yang sok tahu”, maka sengaja dimuat kembali berdekatan dengan Valentine’s Day. 🙂 

 

 

Foto ilustrasi: onislam.net

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s