Dunia Penuh Manusia

Penggambaran kota tanpa manusia dalam film dokumenter "Life Without Us"

Penggambaran kota tanpa manusia dalam film dokumenter “Life Without Us”

Pernahkah Anda memikirkan betapa dunia ini begitu penuh manusia? Apalagi di kota-kota besar di jam sibuk pergi dan pulang kantor, rasanya manusia terlalu banyak memenuhi jalanan. Di hari libur, manusia perkotaan memenuhi tempat-tempat hiburan baik di pusat perbelanjaaan atau tempat rekreasi.

Tak heran, kita hidup bersama 7.000.000.000 manusia lain. Di Indonesia saja ada 250.000.000 jiwa dan 200.000.000-nya berdesakan di pulau Jawa. Di Jakarta, diperkirakan di siang hari tak kurang dari 25.000.000 orang mencari nafkah di sana, sementara di malam hari penduduknya hanya 10.000.000-an saja. Betapa sumpeknya!

Karena itu, entah mengapa, saya sangat senang menyaksikan film post-apocalypse. Dunia pasca kiamat. Tentu kiamat yang disebabkan oleh manusia sendiri, bukan kiamat total oleh Tuhan. Ada cukup banyak film masuk dalam genre ini seperti I Am Legend (2007) dan The Book of Eli (2010). Selain film, ada buku ilmiah karya Alan Weisman yang bersifat futurolog, yaitu The World Without Us (2007). Juga ada serial televisi bersifat ilmiah “Life After People” yang tayang di History Channel sejak 2009.

Semua itu menunjukkan, bagaimana dunia akan bertahan dan baik-baik saja tanpa manusia sama sekali. Tapi bila masih ada sisa populasi manusia yang hidup, jelas akan menjadi perjuangan berat bagi mereka untuk bertahan. Karena sistem kehidupan kita saat ini sudah sangat tergantung satu sama lain. Kita perlu makan, minum atau apa pun, tinggal beli. Padahal, itu kalau ada yang membuat dan menjual. Bagaimana kalau semua produsen dan penjual sudah tewas?

Saya tidak bisa menanam padi dan menunggunya tumbuh. Selama proses menunggu padi tumbuh itu, saya makan apa? Bukankah itu yang jadi pertanyaan? Kita manusia modern, sudah sangat jauh dari alam.

Tentu seperti digambarkan di film, apabila terjadi kiamat dan masih ada sisa populasi manusia, maka akan terjadi kanibalisme. Saling-bunuh demi bisa bertahan hidup. Bahkan memakan sesama manusia.

Begitu mengerikannya. Mana yang lebih baik dibandingkan kesumpekan dunia penuh manusia saat ini?

Ilustrasi: en.wikoniticia.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s