Balas Dendam Terbaik (3)

happiness as biggest revenge

Setelah sempat mengambil “uang muka” tahun lalu, saya memutuskan tahun 2015 ini adalah “tahun balas dendam” bagi saya. Terutama saya tujukan kepada dua orang mantan pasangan hidup saya. Bukan ingin merendahkan atau bagaimana, tetapi justru menempatkan mereka secara proporsional. Bagaimanapun menyakitkannya cara mereka meninggalkan saya, tetapi mereka telah berjasa besar bagi hidup saya. Selama 14 tahun saya didampingi oleh 2 orang wanita berbeda, masing-masing 7 tahun. Jasa mereka bahkan dalam beberapa aspek jauh lebih besar dari orangtua saya sekali pun.

Nah, sasaran kedua justru orangtua saya. Maaf, terserah saja kalau menganggap saya durhaka atau bagaimana. Tetapi mereka telah membuat hidup saya menderita secara psikologis. Insya ALLAH akan ada 3 buku berbeda terbit untuk menjelaskan persoalan ini, lengkap dengan pandangan dan testimoni ahli psikologi dan psikiatri.

Saya tentu berterima kasih pada orangtua saya melebihi rasa terima kasih saya pada siapa pun manusia di dunia. Tetapi mereka berkali-kali membuat kesalahan yang membuat saya menderita. Mereka memasung kebebasan dan kemerdekaan saya, hingga kini. Dan itu membuat saya tidak bahagia.

Nah, itulah balas dendam terbaik kedua. Setelah kemarin saya menyebutkan bahwa balas dendam terbaik adalah prestasi dan kesuksesan luar biasa, itu kalau konteksnya disakiti orang yang “bersaing”, terutama mantan pasangan hidup. Tetapi kalau yang menyakiti kita adalah keluarga termasuk orangtua, maka tak ada yang lebih baik daripada “kebahagiaan”.

Bahagia tidak perlu menunggu. Itu adalah gabungan dari rasa syukur dan menerima apa adanya. Di sisi lain, bahagia bukan berarti diam di tempat, melainkan bergerak maju terus mencapai hidup yang lebih baik.

Materi, uang, harta, kekayaan, harus diakui memiliki kemampuan menyenangkan. Tetapi bukan membahagiakan. Ia mampu membeli banyak hal dalam hidup yang lebih baik. Dan adalah hak tiap orang untuk meraihnya. Hanya saja harus diingat, andaikata belum mencapainya, justru tidak boleh merasa sedih dan sengsara.

Optimis, seraya menikmati apa yang ada. Kalau adanya tempe, syukuri. Karena masih bagus daripada tidak makan sama sekali, Saya sering sekali sengaja jalan kaki keluar rumah tengah malam hanya untuk melihat orang-orang yang masih bekerja. Itu membuat saya bersyukur pada kondisi saya.

Mengabaikan komentar dan pendapat negatif juga sangat diperlukan. Kita tidak bisa melarang orang melakukannya, yang bisa kita kendalikan adalah diri sendiri. Reaksi kita, cara berpikir kita, cara bertutur kita, cara bertindak kita, itulah yang kita kendalikan. Ibarat kata pepatah: “anjing menggonggong kafilah berlalu”.

Maka, mengutip kalimat “sakti” Warkop DKI: “Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”.

Bahagialah. Balaskan dendammu dengan memperlihatkan bahwa hidup kita bahagia tanpa orang yang menyakiti kita.

Bahagialah dengan hidup yang berkepenuhan dan menakjubkan!

Ilustrasi: flickr.com

 

Iklan

2 responses to “Balas Dendam Terbaik (3)

  1. Mas Bhayu, saya menikmati sekali perjalanan benak yg anda bawa lewat tulisan. Menginspirasi dan begitu mudah dipahami. Tidak ada kesan menggurui, namun pas ada di tempatnya. Ditata dgn cermat, diletakkan dgn tepat..
    Wish i can reach you soon in life.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s