Longsor di Banjarnegara: Jangan Sekedar Menyalahkan

285045_evakuasi-longsor-banjarnegara-hari-ke-2_663_382

Saya menerima kabar adanya bencana longsor di Banjarnegara, Jawa Tengah justru dari teman di Facebook, lebih dulu daripada di media massa. Dari penggambarannya, sudah bisa diduga ada sekian puluh rumah tertimbun dan kemungkinan ada lebih dari seratus orang korban. Ketika kemudian muncul berita di media massa, bantuan cepat datang dari berbagai pihak. Saat ini, karena Indonesia telah memiliki BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), maka koordinasi lebih baik. Berbagai institusi seperti PMI, Basarnas, Tagana dan tentu saja TNI/Polri dengan cepat bisa didatangkan. Tak kurang dari Presiden Jokowi sendiri sudah meninjau sendiri lokasi bencana. Ini menyusul Gubernur Jawa Tengah dan Menteri Pekerjaan Umum yang juga cepat datang ke lokasi.

Sebagai orang yang punya pengalaman dan brevet SAR, saya tadinya juga ingin bergerak ke lokasi. Tetapi justru saya mengetahui banyak relawan sudah diterjunkan, maka tenaga satu orang saya rasanya tidak terlalu dibutuhkan. Lagipula, bencana tersebut skalanya bukanlah bencana nasional. Meskipun korban jiwa cukup banyak, tetapi kondisinya masih relatif tertangani. Secara kelembagaan, konsultan yang saya kelola juga pernah diminta membantu pelatihan untuk soal mitigasi bencana, sehingga meski sedikit, saya cukup tahu situasi dan kondisi lapangan saat terjadi bencana.

Satu hal terutama dalam misi SAR adalah mencari korban selamat. Dalam situasi longsor, apalagi tanahnya labil seperti di Banjarnegara, kemungkinan korban selamat tetap hidup kecil. Jendela waktunya rata-rata hanya 8 jam hingga 24 jam. Ini berbeda dengan gempa bumi di daerah kering seperti perkotaan. Di Jepang atau Korea Selatan, ada korban yang ditemukan masih hidup 3 hingga 7 hari setelah kejadian meski tertimbun puing reruntuhan.

Tim SAR di lapangan bekerja tanpa bicara. Tetapi yang saya sering terjadi di Indonesia, pejabat bicara dari balik meja. Apalagi di televisi ada orang yang dianggap ahli menyalahkan sana-sini. Saya bingung, ini sudah terjadi bencana, jatuh korban, kok masih saja mentalnya menyalahkan dan bukannya menolong? Ini ibarat ada pejalan kaki tertabrak mobil dan terluka, lantas dilarikan ke rumah sakit, sedangkan dokternya sibuk menyalahkan, “Kamu sih jalannya nggak ati-ati!” Halah!

Alangkah baiknya kita tidak asal komentar apalagi menyalahkan. Termasuk apabila kita belum mampu menyumbang atau membantu apa pun. Lebih baik kita diam dan mendo’akan dari jauh. Kasihan korban kalau masih disalahkan, bak sudah jatuh tapi masih ditimpakan tangga.

 

Foto: VivaNews/Ikhwan Yanuar

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s