Nasehat & Penilaian

Advice

Kemarin, saya sempat menyinggung sepintas mengenai nasehat. Dalam budaya kita, terkesan orang begitu mudah ‘mengumbar nasehat’. Hampir tiap kali saya bertemu teman lama, hampir pasti ada nasehat yang diberikannya. Sebenarnya, hal itu tidak tepat. Karena nasehat semacam itu adalah “nasehat yang tidak diinginkan” atau dalam bahasa Inggris “unsolicited advice”.

Dalam budaya masyarakat Indonesia, rupanya menjadi patron atau panutan adalah idaman banyak orang. Bisa jadi ini juga sekaligus meniru kebiasaan orangtua kita dulu.

Sebagai contoh sederhana, saya beberapa kali terpaksa marah dan ada yang harus memutuskan hubungan pertemanan karena mereka seenaknya memberikan nasehat kepada saya.

Contohnya adalah saat ada seorang yang “merasa kenal” dengan saya tiba-tiba menuliskan komentar bernada nasehat di cerpen saya “Semoga Masih Ada Waktu” yang saya posting di Kompasiana. Ia “merasa berhak” memberikan nasehat entah dengan alasan apa. Tidak ada hujan, tidak ada angin, tiba-tiba saja ia menuliskan komentar bernada nasehat itu.

Padahal menurut Jude Bijou, seorang terapis dan konselor di A.S., memberikan nasehat yang tidak diinginkan justru kontraproduktif. Jelas sekali, hanya berikan nasehat apabila Anda diminta dan menerima izin untuk memberikannya. Karena nasehat itu menerobos zona privat seseorang, terutama batas emosional. Efeknya akan lebih besar apabila orang tersebut berkepribadian introvert. Dan secara psikologi jelas salah besar karena bisa melukai orang tersebut yang merasa direndahkan.

Dan jelas sekali saya tidak akan menaruh perhatian dan mengabaikan nasehat oleh orang yang tidak ahli. Dalam komentar di atas misalnya, saya jelas lebih mengerti soal agama dibandingkan dia. Saya ini punya gelar S-2 di bidang agama dan insya ALLAH akan mengambil S-3, mampu berbahasa Arab, Parsi, dan Latin. Kurang apa? Saya yakin dia yang “sok tua” itu memberikan nasehat atas dasar “rumongso ngerti”, ini adalah bahasa Jawa yang arti harfiahnya “merasa tahu” atau lebih tepatnya “sok tahu”.

Pemberi nasehat juga memposisikan diri lebih tinggi daripada orang yang dinasehati, itu sudah pasti. Dan itu berarti merendahkan orang lain. Ini jelas tindakan tidak bagus. Ini tentu beda bila si penanya yang meminta, seperti contoh para komentator yang bertanya soal “memilih nama usaha” yang terus-menerus menjadi “artikel terbanyak dibaca hari ini”. Karena dengan bertanya, berarti mengharapkan jawaban. Sama saja bila kita bertanya pada guru atau bertanya petunjuk jalan. Berarti kita sudah siap “diberi nasehat”.

Jadi, intinya adalah: jangan memberi nasehat tanpa diminta dan tanpa izin orang bersangkutan. Tidak sulit kan?

 

Foto: http://attitudereconstruction.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s