Perang Dunia Maya

Report to FB

Sejak Pilpres, saya terlibat aktif dalam tim kampanye Jokowi-JK. Di social media, saya juga menggalang opini dan dukungan. Tentunya juga sekaligus menangkis serangan lawan. Ini semua memberikan pengalaman baru bagi saya. Memimpin tim relawan jelas beda dengan memimpin karyawan. Mereka sangat sulit diperintah dalam konteks diberikan tugas. Tapi, sangat loyal dan “berani mati”. Tinggal caranya saja, bukan memerintah, tapi mengajak. Sebagai pemimpin bertipe A dan berkepribadian koleris-dominan, saya sangat belajar untuk merubah gaya saya.

Mengatakan “ya” bahkan “siap” di dunia maya -yang seringkali disingkat “dumay” oleh para alay- bukan berarti akan dikerjakan segera. Itu cuma semata agar tidak berdebat saja.

Selain menghadapi musuh yang nyata dari kubu lawan, teman-teman di dalam kubu sendiri juga harus dikelola dengan baik agar tidak buyar. Karena relawan itu pelesetannya adalah “rela sih… tapi sering ngelawan”. Hahaha.

Saya juga aktif menggasak lawan terutama yang berasal dari golongan berpendidikan. Anehnya, para admin account anonim yang dikelola “cyber ghostmingkem dan mlipir saat berhadapan dengan saya. Mereka inilah yang dijuluki “panasbung” alias “pasukan nasi bungkus”. Ini agak beda dengan perilaku komentator negatif di blog ini yang “hit & run“. Maka, saya tidak ambil pusing karena biasanya setelah mengejek atau mencela mereka kabur seribu langkah. Sementara di Twitter atau FB, perdebatan bisa berjam-jam. Aneh juga di Twitter admin-admin account  yang terkenal gahar tidak berkoar kalau saya hajar. Bahkan @TrioMacan2000 dan @TM2000Back pun mingkem. Senior saya saat kuliah @FadliZon juga tidak menjawab saat saya serang soal Ahmad Dhani, tapi selang dua jam kemudian ia membuat konferensi pers yang kira-kira isinya membenarkan cuitan saya di Twitter.

Sebagai pribadi beragama yang menjunjung tinggi kebebasan dalam kerangka Bhinneka Tunggal Ika, saya juga mengawasi account-account profile maupun fanpage yang menerobos rambu-rambu ini. Ada yang saya ingatkan dan adminnya mau mengubah, tapi yang bandel saya hajar. Saya laporkan ke FB. Dan seperti Anda lihat, hasilnya ada yang ditutup total fanpage-nya. Tentu ini merugikan yang bersangkutan apalagi kalau “likers”-nya sudah banyak.

Perilaku netizen Indonesia memang unik. Banyak admin ternyata cuma “anak kampung” dan “ngekos” belaka. Tapi status, comment, dan cuitannya galak minta ampun. Itu terlihat dari tiga admin @TM2000Back yang sudah ditangkap polisi ternyata ‘cuma segitu doang’. Ibaratnya, saya mencoba membantu tugas divisi cyber crime Polri yang tampaknya belum efektif dengan menjadi “polisi dunia maya”. Satu hal sederhana yang saya herankan -dan saya sudah sampaikan- adalah kenapa divisi ujung tombak kepolisian di dunia maya itu sama sekali belum punya account Twitter resmi hingga sekarang.

Semoga saja dunia cyber Indonesia makin maju, sehat, dan aman bagi penggunanya. Tidak hanya dari segi content tapi juga dari transaksi elektronik. Karena Indonesia adalah “capital of social media in the world”, sampai-sampai Mark Zuckerberg sang pendiri dan CEO Facebook memerlukan datang sendiri ke sini. Jangan sampai justru kitanya yang tidak siap sehingga jadi ‘makanan’ asing belaka.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s