Legenda & Kenyataan

dwayne_johnsons_hercules_2014-2560x1440

Hercules ternyata memiliki dua sisi. Sisi legenda dan sisi kenyataan. Itulah yang diungkap dalam film Hercules (2014) yang sedang tayang di bioskop.

Tema film ini juga mengingatkan saya pada film I Am Legend (2009) yang menceritakan mengenai sosok Letnan Kolonel Doktor Robert Neville saat umat manusia terancam kepunahan. Ia saat itu memilih bertahan di New York yang sudah dikosongkan karena warganya terkena wabah virus aneh. Virus yang semula justru dikembangkan sebagai vaksin anti kanker oleh penemunya Doktor Alice Krippin itu memutasi genetika manusia, hingga berubah jadi semacam zombie.

Sementara dalam film Hercules, dikisahkan versi lain dari legenda Hercules yang dalam mitologi Yunani Kuno disebut sebagai anak Zeus. Dalam kepercayaan polytheisme Yunani Kuno, Zeus adalah bapak segala dewa dan penguasa dunia sebagai raja dewa atau dewa tertinggi. Hercules adalah manusia setengah dewa (demigod), karena Zeus membuahi Alcmene -istri Amphitryon- yang manusia. Tapi dalam film ini, legenda itu didekonstruksi. Ia disebutkan sebagai manusia biasa yang sebenarnya adalah tentara bayaran raja Yunani. Karena kuatir terancam reputasinya, sang raja lantas membunuh istri dan tiga anak Hercules serta memfitnahnya sebagai pembunuh keluarganya sendiri. Hercules lantas lari dari Yunani dan berkelana dari satu kerajaan ke kerajaan lain. Ia melakukan tugas sulit memerangi musuh para raja yang menyewanya dan berani membayar mahal atas jasanya.

Penciptaan legenda sendiri merupakan kelanjutan dari pencitraan, satu istilah lain dari branding. Dan sejarah kemudian mencatatkan pemenang sebagai pahlawan, sementara pihak yang kalah sebagai pecundang. Ini berlaku dalam segala lini kehidupan. Baik itu politik kenegaraan maupun pemasaran produk. Artinya, legenda selalu merupakan kisah pertarungan antara pahlawan melawan pecundang. Maka, tak ada yang mau kalah di sini. Karena kalah berarti dilupakan.

Saya sendiri lebih condong pada pengertian yang digambarkan dengan apik oleh Paulo Coelho dalam The Alchemist (1988), tentang penciptaan “legenda pribadi”. Di sini, tiap orang harus menemukan “jiwa buana” dan tujuan hidup masing-masing. Apabila itu tercapai, maka dalam catatan kehidupannya, orang itu telah menjadi legenda bagi dirinya sendiri. Dan legenda itu bukanlah dongeng, melainkan kenyataan.

 

Ilustrasi: ihdwallpapers.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s