Logika Hukum

Private_Law

Banyak orang sulit mengartikan dan membedakan antara keadilan dan hukum. Seringkali, kita merasa sesuatu itu adil kalau kita yang menang. Sementara kalau kita kalah, maka kita merasa diperlakukan tidak adil. Itulah yang terjadi di pentas politik nasional dengan tindakan Prabowo Subianto yang menolak hasil Pilpres 2014.

Padahal adil itu bukanlah “perasaan ingin dimenangkan”, tetapi justru diperlakukan sesuai kaidah hukum positif yang berlaku. Hukum positif ini bisa konstitusi, undang-undang, atau aneka jenis peraturan lainnya bahkan sekedar peraturan sekolah misalnya.

Sebagai gambaran sederhana, kalau kita sedang antre tiket bioskop, maka adil adalah bila antrean dilayani dengan sistem FIFO (First In First Out-ini istilah teknis IT). Siapa yang datang lebih dulu, maka dia pula yang dapat membeli tiket lebih dulu. Kalau ada yang ‘diistimewakan’, misalnya datang lebih lambat tapi dapat tiket lebih cepat, atau malah bisa membeli tiket tanpa mengantre, maka itulah yang dinamakan tidak adil.

Maka, “justice for all” harus dimaknai sebagai persamaan di muka hukum. Semua warga negara sama kedudukannya saat berperkara atau menghadapi aturan.

Ada pula masalah “logika hukum” yang berbeda dengan logika awam. Dalam hukum positif, hanya ada dua cara untuk menang, yaitu menyajikan bukti valid dan saksi terpercaya. Tanpa itu, seberapa pun yakinnya kita, maka sudah pasti akan kalah. Bahkan, sedihnya, karena rekayasa tertentu, bisa jadi pihak yang salah tidak dihukum seperti dalam kasus AQJ anak Ahmad Dhani. Malah yang lebih parah, pihak yang tidak salah malah dihukum, seperti dalam kasus salah vonis legendaris Lingah dan Pacah.

Logika hukum hanya bisa dimengerti kalau kita memahami hukum. Dan celakanya, justru karena begitu pahamnya pada hukum, seringkali para ahli hukumlah yang mengangkangi hukum itu sendiri. Semoga saja, hal itu tidak terjadi hari ini. Dimana kita mengharapkan kepastian hukum dari MK dalam soal Pilpres. Dan semoga di masa depan kekisruhan semacam ini bisa dicegah dengan perbaikan hukum itu sendiri menjadi tanpa celah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s