Surat Pembaca & Efeknya

10422093_10202302139543090_5311359136858061468_n

Saya baru tahu dari penelusuran di internet bahwa surat pembaca saya tentang penggunaan lambang negara di dada kanan pasangan Prabowo – Hatta Rajasa dimuat di 3 media. Sebagaimana saya tuliskan di posting terdahulu pada tanggal 1 Juni 2014 (baca kembali di tautan ini) bahwasanya saya mengirimkan surat pembaca ke 8 media. Namun, hanya 3 media yaitu Republika yang memuatnya pada 3 Juni 2014 (tautan di sini). Media Indonesia pada 4 Juni 2014 (tautan di sini), dan Suara Pembaruan pada 10 Juni 2014 (tautan di sini). Saya malah tidak sempat membaca versi cetaknya karena keburu terselip. Hingga saat ini, saya masih meminta ‘orang rumah’ untuk mencarikannya.

Sebenarnya, semua itu karena kecintaan saya pada negara ini. Saya tidak rela bila lambang negara kita ‘dikuasai’ oleh kelompok tertentu saja. Meskipun memang saat ini saya berada di pihak lawan dari kelompok itu, tapi andaikata pun hal yang sama dilakukan oleh pihak kami, saya pasti akan tetap mengkritisinya. Seperti saya cantumkan dalam ilustrasi, terdapat beberapa pelanggaran dari penggunaan lambang negara itu.

Akan tetapi, tampaknya KPU tidak mau repot. Apalagi surat suara sudah hampir selesai dicetak. Bayangkan berapa juta lembar lagi yang harus dicetak-ulang apabila protes ini diterima. Secara hukum, sudah ada kelompok pro-Jokowi yang mengadukannya.

Tapi paling konyol adalah komentar dari Mahfud M.D. yang kini jadi Ketua Tim Pemenangan Pemilu Prabowo-Hatta Rajasa. Ia mengatakan pemakaian lambang negara itu tidak masalah. Padahal, sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi, ia pernah melarang penggunaan lambang negara sembarangan. Tentu itu menjadi catatan kritis atas rekam jejaknya sendiri.

Sebagai warga negara, semestinya kita menghormati azas persamaan di hadapan hukum (equality before the law). Sementara ucapan dan tindakan Mahfud M.D. itu mencerminkan sebaliknya. Semua itu seperti menahbiskan tindakan “semau gue” dan “membela teman sendiri”. Kalau teman sendiri menumpahkan kopi, itu tidak apa-apa. Sementara kalau bukan teman, ia harus dipukuli sampai mati. Kira-kira begitu.

Tapi terserahlah. Dimuatnya surat pembaca itu mungkin tidak berefek signifikan. Tapi bagi saya, ini menegaskan rekam jejak saya untuk tidak sekedar menggerutu di social media. Bila melihat “kemunkaran”, saya bertindak. Tidak hanya “omdo”. Itu saja kok.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s