Parenting

parenting-styles_1

Sewaktu dahulu bekerja di majalah Men’s Health Indonesia, saya mengampu beberapa rubrik di antaranya “Parenting” dan “Fatherhood”. Dua kata bahasa Inggris ini sulit diterjemahkan dengan satu kata saja dalam bahasa Indonesia. Kalau mau taat asas, jelas terjemahannya terdengar aneh yaitu “Keorangtuaan” dan “Keayahan”. Akan lebih tepat kalau terjemahannya tidak satu kata yaitu “Pengasuhan Anak” atau “Pengetahuan Menjadi Orang Tua”, dan untuk “Fatherhood” bisa menjadi “Hal-Ihwal Menjadi Ayah”.

OK, biarlah penerjemahan itu menjadi PR Pusat Bahasa. Di sini, saya ingin melanjutkan perihal pedofilia dan kasus yang menimpa siswa TK di JIS.

Satu salah-kaprah besar saat yang saya amati saat saya menjadi pembicara saat seminar bertema ini adalah banyak orangtua yang semata belajar dari pengalaman belaka. Mereka menjadi orangtua berdasarkan “katanya”.

Padahal, di negara maju, ini pengetahuan yang malah sudah dibuat standarnya. Meski belum jadi cabang ilmu, namun ada orang yang memang ahli parenting. Dan tidak perlu orang yang ahli parenting sudah punya anak sendiri. Ini sama saja dengan dokter kandungan yang kebanyakan malah lelaki, jelas mereka tidak akan pernah mengandung bukan?

Parenting sebagai pengetahuan akan menawarkan perspektif obyektif. Dalam hal ini terlepas dari faktor emosional. Sebagai orangtua, kita seringkali “tidak tega” atau malah “terlalu tega” pada anak. Padahal, perlu keseimbangan di sana. Maka, perlu ditilik parenting dalam konteks pengetahuan yang sudah diterima umum sebagai sebuah kebenaran.

Contoh, ada metode dasar dalam mengajarkan kemandirian pada anak. Memang variannya bisa banyak, tapi dasarnya sama. Maka, terapkan itu seperti menerapkan resep masakan. Makin patuh pada petunjuk, makin besar kemungkinan berhasil.

Sayangnya, di Indonesia masih banyak yang bersikeras bahwa pola parenting merekalah yang terbaik. Padahal, jelas sekali ada parameter yang bisa digunakan. Contoh konkret, kalau mau anak Anda jadi juara olimpiade matematika, maka tirulah pola belajar anak asuh Profesor Yohanes Surya misalnya. Ini sudah jadi rumus baku.

Karena itu, sebagai orangtua, hendaklah rendah hati. Belajarlah pada ahli. Tukar pengalaman juga diperlukan kepada sesama orangtua. Namun ingatlah bahwa tujuan setiap orangtua satu: menjadikan anaknya lebih hebat daripada dirinya.

Ilustrasi: parentfurther.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s