Tanggal & Peringatan

shutterstock_8857512-630x310-650x300

Saya memutuskan untuk selalu melakukan ritual tertentu di tanggal-tanggal penting dalam sejarah hidup saya. Meskipun orang yang terkait dengannya sudah tiada. Hari ini adalah salah satunya.

Ada yang saya peringati di hari ini. Tapi biarlah itu menjadi rahasia hidup saya. Apa yang hendak saya bagi adalah bagaimana menjaga kenangan itu tetap hidup.

Tidak ada yang sempurna di dunia. Akan tetapi kita bisa membuat kenangan sesempurna mungkin.

Sama saja dengan pemitosan para pahlawan. Apakah kemudian ada manusia sempurna seperti di cerita komik? Tentu tidak ada. Tapi kita tidak pernah mendengar cerita cacat dari para pahlawan. Umumnya, cacat-cacat itu dianggap kecil dibandingkan pengorbanan dan kepahlawanan mereka. Sehingga, semuanya seperti dihapus atau tidak dianggap. Maka, kenangan tentang pahlawan seolah “sempurna”.

Dulu, saya berpikir untuk meninggalkan legacy bagi hidup saya. Sehingga, saya selalu mengupayakan agar cita-cita itu terwujud. Saya ingin dikenang oleh orang-orang jauh melampaui masa hidup saya. Saya ingin mereka yang memperingati kematian saya bukan saja keluarga dan orang dekat saja.

Tapi, semua itu berubah beberapa waktu terakhir. Terutama karena beberapa kejadian istimewa selama 2 pekan terakhir, dimana seorang sahabat yang saya tunggu-tunggu selama 38 tahun hidup saya akhirnya dikirim ALLAH SWT kepada saya. Alhamdulillah.

Salah satunya adalah saat mendengar khutbah Jum’at pekan lalu. Kisahnya menceritakan mengenai seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang bernama Tsa’labah bin Abdurrahman r.a. (ada yang melafalkan Tha’labah, berbeda pribadi dengan Tsa’labah bin Hatib r.a.) . Riwayatnya panjang, intinya, beliau begitu takut pada dosanya yang sering diremehkan bagi ukuran kita sekarang, yaitu tak sengaja melihat wanita mandi di sebuah rumah kosong yang dilongoknya. Takut pada dosanya itu membuatnya pergi menyepi ke bukit selama 40 hari. Malaikat Jibril a.s. memberitahu Rasulullah tentang kondisinya. Rasulullah SAW menyuruh dua sahabat yaitu Umar r.a. dan Salman r.a. untuk menjemputnya, tapi ia baru mau turun dengan syarat menghadap Rasulullah SAW saat beliau sedang memimpin shalat. Saat dihadapkan kepada Rasulullah seusai shalat, Tsa’labah mengadukan dosanya. Lalu Rasulullah SAW menerangkan ayat tentang diampuninya dosa sebesar apa pun asal bertobat, yaitu do’a: “…Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka”. (Al-Qur’an surat al-Baqarah : 201). Mendengar ada kata-kata neraka, Tsa’labah pingsan dan sakit keras karena ketakutan. Rasulullah menungguinya saat sekarat, dimana Tsa’labah menolak karena merasa tak pantas saat Rasulullah menawarkan memangku kepalanya di paha Beliau SAW yang mulia. Saat Tsa’labah wafat, terjadi kejadian aneh. Rasulullah datang  ke pemakamannya dengan merangkak. Para sahabat bertanya apa sebabnya, dan Beliau SAW menjawab: “Demi Allah yang telah mengutusku sebagai Nabi dengan haq, aku tidak bisa meletakkan kakiku di atas bumi, karena banyaknya malaikat yang turun mengantarkan jenazah Tsa’labah”.

Masya Allah. Cuma itu yang saya inginkan sekarang. Penghormatan manusia tak lagi penting. Sambutan seperti itulah yang saya harapkan di saat kematian saya. Bahkan andaikata tak ada pelayat manusia sekali pun, saya cuma ingin agar para malaikat berkenan melayat pemakaman saya. Semoga ALLAH SWT mendengar pinta saya. aamiin.

Ilustrasi: shutterstock, taken from www.orthodoxchurchnj.org

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s