Baik vs Buruk

stitch_good_by_avril626-d4hc4xkRasanya tak ada orang yang dengan sadar memilih menjadi buruk. Semuanya ingin ada di sisi yang baik. Bahkan dalam sebuah simulasi atau role play sekali pun, kalau bisa semua maunya jadi hero, bukan villain. Mungkin, pengecualian ada di para penggemar komik apalagi yang hobi costume play. Karena memang ada ‘penjahat’ berkostum keren, sebutlah seperti Darth Vader dari serial Star Wars.

Dalam hal ini, semua orang pun tak mau dibilang buruk. Bahkan, apabila secara fisik yang bersangkutan memang kurang menarik, tetap saja tidak mau dihujat atau dihina. Seringkali yang terjadi malah pembalikan keyakinan konsep diri. Alih-alih rendah diri, malah jadi “over pe-de”. Terlepas dari pro-kontra soal hipnotis dan pengungkapan aib, acara semacam “Suka-Suka Uya” membuat saya belajar banyak tentang manusia. Di sana, seringkali terungkap sisi hati yang lebih dalam daripada pencitraan yang dilakukan yang bersangkutan ke hadapan publik. Orang yang jeleknya minta ampun malah mengaku mirip artis terkenal. Aneh bagi orang lain. Tidak bagi yang bersangkutan.

Itulah konsep diri yang dilandasi kepribadian (personality) bawaan. Di balik itu ada sistem keyakinan (belief) dan tata nilai (value) yang dianut. Kemudian di luar, membentuk performa (performance) dan penampilan (appearance). Secara performa, seseorang akan terlihat memiliki karakter (character), kebiasaan (habit), sifat (temper),  perasaaan emosional (emotional feeling), tingkah-laku (behaviour), dan sikap (attitude) tertentu. Penampilan berkaitan dengan cara berdandan, cara berpakaian, cara berbicara, dan semua yang bersifat bahasa tubuh (gesture). Semua berpadu pada sisi diri yang ditampilkan ke luar, ke hadapan publik, baik atau buruk.

Di dalam filsafat, baik atau buruk tidak melekat pada manusia. Ia melekat pada nilai. Karenanya menjadi kajian etika. Nilai melandasi tindakan. Seperti tindakan membunuh, bisa jadi dinilai buruk. Tapi, bagaimana bila membunuh musuh? Atau misalnya kita membunuh perampok yang mengancam keluarga kita? Tentu nilainya seolah berubah menjadi baik. Padahal tidak. Menghilangkan nyawa orang lain tetap bernilai negatif secara etika, hanya kondisi situasional yang mempersepsikan nilainya berubah.

Secara pribadi, semua orang berupaya melakukan tindakan baik. Tapi ternyata, tindakan baik itu seringkali merupakan klaim semata. Saya misalnya, selalu rumongso sudah melakukan hal baik. Padahal, kebaikan saya itu cuma khayalan belaka. Omong-kosong. Banyak orang yang sudah melakukan hal lebih baik daripada saya. Kebaikan yang saya lakukan jadi tidak terasa nilainya. Dan… belum tentu juga itu baik menurut orang lain.

Saya ambil contoh tindakan bakti sosial oleh para caleg. Apakah tindakan itu baik? Secara faktual ya. Karena memberikan bantuan bagi orang lain yang kurang beruntung. Tapi, motivasi caleg sebagai sarana kampanye tentu mengurangi nilai kebaikan di dalamnya. Apalagi kalau waktu dan caranya tidak tepat.

Karena itu, sekarang saya memilih menganggap diri saya bukan orang baik. Saya ini buruk. Rajanya keburukan malah. Semua untuk mencambuk diri saya agar menjadi pribadi yang lebih baik. Karena saya merasa diri saya ini aslinya adalah alien. Persis seperti Stitch dalam film Lilo & Stitch 2: Stitch Has a Glitch (2005) yang sedang berupaya menghapus sisi buruk agar menjadi baik, agar sepenuhnya menjadi berwarna biru dalam gambarnya.

Ilustrasi: fluttershy626.deviantart.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s