Supersemar & Tsunami

japan-earthquake-tsunami-nuclear-unforgettable-pictures-wave_33291_600x450

Bangsa kita yang tengah bersiap menghadapi Pemilu tampaknya memang mudah sekali lupa. Selain sejarah bangsanya sendiri, juga sejarah dunia. Sebenarnya, saya pun termasuk pula. Kalau sejarah bangsa, mungkin masih ingat. Karena sepanjang saya sekolah di masa kekuasaan Orde Baru, hari sakral ini selalu diperingati. Namanya Supersemar, alias kepanjangan dari Surat Perintah Sebelas Maret 1966. Ini dianggap Soeharto sebagai pelimpahan kekuasaan kepada dirinya dari Presiden Soekarno. Dan akhirnya digunakannya untuk mengakhiri kekuasaan presiden pertama Indonesia itu. Sepanjang Orde Baru, hampir tak ada orang yang berani mempersoalkan hal ini. Padahal, kalau dibaca baik-baik, Supersemar itu adalah mandat untuk memulihkan keamanan dan ketertiban belaka, bukan pengalihan kekuasaan. Tapi itulah manusia. Pandai memutar-balikkan fakta.

Satu peristiwa bersejarah lagi di hari ini berasal dari masa yang dekat, tahun 2011. Itu adalah bencana alam yang terjadi di Jepang, tepatnya di Tōhoku, pantai Pasifik timur Jepang.  Dalam aksara Jepangnya, gempa-tsunami dahsyat ini disebut 東北地方太平洋沖地震 (Tōhoku-chihō Taiheiyō Oki Jishin). Gempa laut dalam berkekuatan maksimal  9.0 (Mw) ini menimbulkan tsunami dan merupakan gempa terdahsyat yang pernah melanda Jepang. Korban jiwa yang dicatat oleh Kepolisian Nasional Jepang pada 2014 mencapai  15.884  jiwa meninggal dunia, 6.148 terluka, 2.633 orang hilang di area seluas 20 prefektur (setara kabupaten/kota). Sementara kerugian bangunan adalah 127.290 bangunan hancur, 272.788 setengah-hancur dan 747.989 mengalami kerusakan. Nilai kerugiannya mencapai US$ 34,6 milyar.

Bhayu & Duta Besar Jepang

Foto berdua Duta Besar Jepang H.E. Yoshinori Katori

Andaikata hari ini saya tidak diundang oleh KADIN yang bersama Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat dan Kedutaan Besar Jepang mengadakan acara seminar terbatas dalam rangka “disaster management”, saya pun tidak ingat. Sebenarnya, dari skala magnitudo, gempa Jepang lebih dahsyat daripada gempa di Samudra Hindia yang mengakibatkan tsunami Aceh. Akan tetapi, karena persiapannya lebih cermat, maka jumlah korban lebih sedikit.

Banyak fakta menakjubkan dalam seminar hari ini. Para ahli dari Jepang dan Indonesia memamparkan mengenai gempa khususnya yang menimbulkan tsunami. Karena sangat teknis, saya tidak akan bahas di sini. Saya cuma mengambil contoh, salah satu persiapan Jepang adalah membangun “giant sea wall” untuk mencegah tsunami. Proyek hebat ini dijalankan dari tahun 1976 dan baru selesai tahun 2009. Akan tetapi apa nyana, ternyata tembok raksasa setinggi 17 meter itu tak mampu menahan tsunami dan hancur dalam hitungan detik di tahun 2011. Saya lantas teringat film Pacific Rim (2013) saat menyaksikan rekaman video dokumenter ambruknya tembok raksasa itu dihajar tsunami.

Apa yang hendak saya bagi adalah keprihatinan. Kita ternyata tidak pernah belajar dari sejarah. Ini persis seperti yang dikatakan Winston Churcill, Perdana Menteri Inggris di masa Perang Dunia II. Pasca tsunami Aceh, kita tidak mempersiapkan mitigasi dengan baik. Masyarakat kita cuma sibuk sendiri mencari uang, tanpa peduli bahwa kita hidup di negara “cincin api” yang amat sangat rawan bencana. Ibaratnya, setiap saat peradaban kita bisa tersapu oleh bencana alam dalam beberapa detik. Seperti di masa purba pernah terjadi pada Gunung Tambora dan Gunung Krakatau.

Semoga saja di masa depan kita bisa lebih waspada terhadap ancaman alam ini. Bukan sekedar menerimanya sebagai ‘takdir’ belaka, karena justru persiapan menghadapinya lebih penting. Saya pun melihat peluang medan “jihad” baru, sehingga insya ALLAH akan berperan serta untuk mengedukasi masyarakat semampu saya. Karena para ahli bergelar profesor dan doktor itu jauh lebih hebat daripada saya. Mereka juga telah bekerja bersama pemerintah dan badan-badan internasional untuk terus meningkatkan kesiapan Indonesia menghadapi bencana. Semoga kita bisa belajar dari sejarah.

Foto: news.nationalgeographic.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s