Social Personification a.k.a. Sope

1549405_10151907531314538_1569055682_n

Kalau kemarin kita bicara soal “Selfie”, sekarang kita bahas “kakak kandungnya” yang bernama Sope aliasi Social Personification. Tentu Sope ini istilah karangan saya sendiri agar memudahkan.

Sope adalah fenomena di era web 2.0 ini. Secara psikologis, ia adalah turunan dari real personality. Kalau di masa dua dekade lalu, bisa jadi para psikolog akan menggolongkannya sebagai double atau malah Multiple Personality Disorder (MPD). Tapi di dunia dimana teknologi informasi semaju ini, rasanya agak sulit langsung menghakimi seperti itu. Paling jauh adalah fenomena narcisstic saja.

Secara mudah, social personification  atau kalau dibahasa-Indonesiakan menjadi “identifikasi diri sosial” adalah satu gambaran seseorang yang dipublikasikan ke ruang publik secara sadar. Mudahnya, Sope adalah bagaimana kita ingin dilihat orang lain. Dan ini biasanya dilakukan dengan medium social media, sehingga menghasilkan pencitraan sosial atau social branding. Itu bisa berarti melalui website, blog, forum, FaceBook, Twitter, Instagram, Path, Youtube, Pinterest, Google+ atau aneka platform lainnya.

Caranya pun mudah, cukup mengetik update status atau memposting foto Selfie kita. Citra apa yang Anda inginkan? Apakah seorang yang begitu banyak teman dan dikagumi lawan jenis? Orang yang sering pergi ke luar negeri? Orang kaya atau orang sukses? Orang pintar yang sering jadi narasumber media? Orang yang dekat dengan keluarga? Atau malah ngartis atau nyeleb meskipun jelas bukan artis atau seleb?

Semua bisa dibentuk. Mudah diatur karena semudah klik di ujung jari.

Dalam buku Brand Gardener (2012), ahli merek dan pencitraan Handoko Hendroyono pun menuliskan banyak jurus untuk meng-upgrade Sope kita. Misalnya seperti isi #Kultwitt di account Twitter @BhayuMH hari Jum’at (21/2) malam. Selain mengoptimalkan penggunaan social media, yang terpenting adalah content. Kita harus memberikan muatan atau isi positif yang menarik dan kalau bisa juga berguna bagi orang lain. Dengan begitu, orang lain memandang Sope kita secara positif pula.

Ingat lho, ini bukan untuk menampilkan citra palsu. Karena justru yang harus diwaspadai adalah apabila kita sendiri sebagai pribadi menganggap Sope adalah kepribadian asli kita. Kita sendiri yakin bahwa Sope adalah kita yang benar-benar kita. Inilah yang diingatkan oleh Robert Hogan, seorang psikolog asal Amerika Serikat yang dikutip oleh Eileen Rachman dalam artikelnya di harian Kompas kemarin.

Contoh ekstrem adalah foto ilustrasi di atas. Atau saat saya menemukan adanya account FaceBook palsu seorang “teman dekat” saya sekarang yang bisa dibilang termasuk seleb. Pemilik account merasa bahwa dirinya copycat atau kembaran pribadi dari si persona yang ditiru. Dan lucunya, masih ada tersisa di album fotonya foto-foto asli si pemilik account. Ternyata, maaf-maaf, aslinya cupu banget. Saat saya katakan temuan ini kepada “teman dekat” saya, beliau hanya tertawa renyah. “Yah, itulah resiko jadi seleb,” jawabnya sro’ol. Saya langsung menoyer –eh, bahasa Indonesia-nya apa ya?- jidat-nya. Hehehe.

Sama saja dengan perilaku mencitrakan diri sebagai seorang pasangan yang baik, padahal di dunia nyata yang bersangkutan selingkuh. Atau mencitrakan diri sebagai figur publik yang shaleh, padahal aslinya gemar bermaksiat. Ini perilaku munafik. Dalam kajian psikologi, ini disebut Split Personality atau Kepribadian Terbelah. Seseorang merasa dirinya punya kepribadian lain selain dirinya yang asli. Dan ini sayangnya hanya bisa diobservasi oleh ahli atau dalam pengaruh hipnotis, karena yang bersangkutan sendiri tidak merasa atau malah menyangkal. Sederhananya, kalau Anda mencermati orang biasa yang dihipnotis Uya Kuya di televisi, ada yang merasa dirinya secantik Syahrini misalnya. Padahal semua yang melihat tahu, aslinya jelas tidak begitu. So, pastikan Sope Anda bukanlah sebagai awal dari sindrom penyakit psikologis. 😀

[Foto diposting di account FaceBook teman saya. Tapi ini bukan foto teman saya itu lho.]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s