Pengemis Profesional

pengemis

Tadi saya sempat mampir ke sebuah mini-market. Tumben masih jam 10-an sudah ada pengemis yang menukarkan uang. Biasanya, saya melihat mereka menukar di malam hari. Paling tidak jam 21 ke atas. Pengemis itu  menukarkan uang hasil mengemis mereka yang recehan ke uang kertas yang nominalnya lebih besar. Ini karena mereka perlu kepraktisan, sementara mini-market perlu uang receh untuk kembalian.

Saya pun sempat menyapa si pengemis dan mengobrol sepintas. Menurutnya, itu hasil sepagi itu saja. Kira-kira sudah ada Rp 30.000,- an. Saya bandingkan dengan penuturan supir taksi saat saya sedang menaikinya. Rata-rata pendapatan supir taksi adalah Rp 50.000,- dalam 8 jam kerja. Tentu saja itu adalah daily take home pay karena penghasilannya harus menutup setoran dan biaya bahan bakar. Bayangkan kalau pengemis itu ‘bekerja’ 8 jam sehari, saya pikir pendapatannya bisa lebih daripada si supir taksi. Dan memang dari mengobrol pula, sewaktu saya iseng nongkrong di terminal dan halte, seorang pengemis dan sebangsanya -termasuk pengamen dan peminta sumbangan- bisa mendapatkan Rp 300.000,- sehari! Kalau mereka bekerja 7 hari seminggu dengan sebulan ada 30 hari, berarti penghasilan mereka Rp 9.000.000,- sebulan! Wow! Ini setara dengan gaji manager di perusahaan kelas menengah yang minimal lulusan S-1 dengan masa kerja paling tidak 6-8 tahun. Kalau dihitung median-nya, kira-kira ‘gaji’ pengemis 3 X lipat UMR.

Tahukah Anda, kalau sebagian besar pengemis di Jakarta dan kota-kota besar lainnya adalah “pengemis profesional”? Awalnya mereka ada yang diayomi oleh semacam “bapak asuh”. Tapi setelah ‘tahu medan’, mereka biasa akan ‘bersolo karir’. Tentu lebih menguntungkan karena tak perlua menyetor ke boss. Ini ibarat taksi gelap yang di dekade tahun 1980-an marak.

Malah, menurut buku Pengemis Undercover (2013) karya Dimas, pendapatan seorang pengemis bisa mencapai Rp 1,5 juta sehari! Tapi tentu saja itu di tempat-tempat tertentu dan di masa-masa tertentu. ‘Masa panen’ tentunya adalah saat Ramadhan dan hari raya Idul Fitri atau Natal. Dan tempat yang banyak ‘menghasilkan’ adalah di rumah ibadah atau pemakaman. Saat saya berziarah ke makam Wali Songo, pengemis yang ‘bekerja’ di sana luar biasa banyaknya. Sampai-sampai peziarah yang datang ‘dikeroyok’ hingga sulit sekali untuk berjalan. Terutama kalau kita datang di ‘waktu sepi’ seperti hari Selasa-Rabu yang tidak libur dan bukan hari besar agama. Saya yang waktu itu sudah ‘dikawal’ juru kunci saja tetap dicegat, padahal sudah lewat ‘jalur khusus’. Mereka seperti semut merubungi gula. Astaghfirullah.

Apa yang salah dari itu? Kita mendidik orang jadi malas. Pengemis di negeri ini sudah jadi profesi. Karena mereka adalah pengemis profesional. Lihat saja foto di atas. Capingnya seragam dan sudah didandani.

Lalu bagaimana dengan anjuran sedekah? Tentu saja itn masih sunnah muakkad. Akan tetapi, sebaiknya pilih-pilih. Lebih baik menyumbang melalui lembaga resmi atau kotak amal masjid. Tapi kalau merasa lebih mudah memberi mereka, niatkan ikhlas lillahi ta’ala.  Kalau kemudian uangnya dipakai untuk membangun rumah di kampung yang bisa jadi lebih megah daripada rumah Anda, percaya saja ALLAH SWT melihat segalanya.

Foto ilustrasi: jiwasedekah.blogspot.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s