Mengubah Dunia

change_the_world

Bisakah kita mengubah dunia?

Tergantung siapa yang menjawab.

Para motivator Indonesia mungkin akan bilang bisa. Tapi kenyataannya, hanya orang-orang tertentu yang bisa. Beberapa nama terkemuka di zaman ini niscaya akan tercatat sejarah sebagai ‘orang-orang langka’ ini. Sebutlah seperti Barack Obama, Steve Jobs, Bill Gates bahkan Julian Assange.

Meski terkesan ‘sendirian’ saat di-blow up media massa sehingga jadi pujaan massa, sebenarnya mereka tak pernah sendirian. Mereka didukung tim kerja di belakangnya. Bahkan, meski tim itu cuma satu orang saja seperti dalam kasus Wikileaks.org.

Faktanya, banyak yang menyarankan agar kita mengubah diri sendiri saja, alih-alih mengubah dunia. Sepintas memang bagus, dan dalam beberapa hal betul, tapi ini seperti pesimistis.

Karena sebenarnya siapa pun kita, asalkan tekun dan konsisten pada tujuan, niscaya bisa mengubah dunia. Mungkin tidak akah seheboh nama-nama tadi, tapi cukup “dunia kecil” di sekitar kita.

Banyak orang yang bisa jadi teladan. Harian Kompas sering mengangkat orang-orang semacam ini di rubrik “Sosok” yang terletak di halaman 12-nya. Mereka bisa penggagas taman bacaan untuk masyarakat, pelestari lingkungan, usahawan mikro, pokoknya, mereka orang biasa yang bertindak luar biasa. Mereka orang-orang “mulia” yang mungkin tidak “sukses”, tapi tidak mau menghinakan diri dengan meminta-minta. Ini berbeda dengan ‘sindiran’ seorang motivator bahwa seorang yang ‘mulia’ kerapkali harus menjadi ‘pengemis’ untuk mewujudkan niatnya.

Saya terhenyak pada orang-orang yang ‘berani’ hidup zuhud dalam konteks riil. Benar-benar meninggalkan dunia. Salah satu orang yang berani melakukannya adalah Muhammad Sukemi. Dia orang biasa dan sudah almarhum pula. Saya membaca informasinya dari majalah Daqu edisi no. 06/Maret 2011. Beliau ini sudah berusia lebih dari 100 tahun saat diberangkatkan dalam Program Sedekah Umroh untuk Penghafal Qur’an oleh PPPA Darul Qur’an. Apa yang menakjubkan? Beliau tidak pernah meminta siapa pun, tapi malah membantu orang lain dengan ikhlas. Padahal, beliau sendiri kekurangan. Sebagai contoh, pondoknya yang reyot malah diberikan untuk menampung gelandangan kurang waras. Beliau juga kerap bersedekah tanpa memikirkan diri sendiri. Saat diberi uang saku yang dikumpulkan penduduk desa untuk bekal umrohnya, ia malah menyedekahkan lagi uang itu pada orang lain. Sementara Mbah Kemi sendiri malah cuma membawa uang Rp 50.000,- saja ke Jakarta. Tindakannya itu membuat ‘dunia kecil’-nya berubah. Orang-orang sedesanya sering menjadikannya contoh.

Mbah Kemi memang bukan Steve Jobs, Bill Gates atau Julian Assange. Tapi tindakannya telah mampu ‘mengubah dunia’. Insya ALLAH.

Foto ilustrasi: sharetwenty.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s