Investasi Sang Pencinta

shalatBerapa yang Anda investasikan untuk sebuah rumah atau mobil? Berapa uang yang dihabiskan untuk biaya pendidikan? Berapa banyak yang dikeluarkan untuk menjaga kesehatan?

Semua itu tak ada artinya dibandingkan pengabdian, kesetiaan dan cinta. Karena itulah justru yang sangat mahal. Tentara elite mengabdikan hidupnya bagi bangsa dan negara hingga ia rela mengorbankan hidupnya. Seorang penganut teguh (true believer) akan mempertahankan kesetiaan pada yang diyakininya walau harus meregang nyawa. Dan seorang pencinta, akan melakukan apa saja untuk membuktikan cintanya.

Saya salah selama ini mencari cinta dari manusia. Saya salah mencari pujian dari manusia. Saya salah membuktikan mampu mencapai langit yang diilusikan manusia. Saya salah mencari cinta dari yang tak kekal cintanya.

Padahal, di atas itu semua, ada Yang Jauh Lebih Tinggi, Yang Tak Terjangkau namun sekaligus Yang Teramat Dekat, Yang Maha Terpuji Pemilik Langit: Tuhan. Saya tercekat saat menyaksikan fakta seorang mantan personel band favorit saya memilih jalan tarekat. Padahal, ketenaran, kemasyhuran, kegemilangan, yang telah diusahakannya sekian lama telah dipegang. Justru itu semua ditinggalkannya.

Saya pun sedang mempertimbangkan hal yang sama. Dulu, seorang teman dekat mantan saya mengambil jalan ini. Dia seorang Katholik, dan memutuskan untuk mengabdi sebagai seorang suster atau biarawati. Proses pentahbisannya langsung dilakukan di Vatikan. Padahal, yang bersangkutan pernah bekerja kantoran dan otaknya sangat cemerlang. Saya ikut menjadi saksi proses pergumulannya, bahkan saya masih menyimpan file foto pentahbisan kesusterannya. Dan keputusan itu membuat kecewa orangtuanya. Bukan apa-apa, dalam tradisi Katholik, itu berarti hidup selibat dan berarti pula tak bakal punya keturunan.

Tapi itulah saat seorang pencinta menanamkan investasinya. Meski saya jelas tak mengakui kebenaran agama selain Islam, tapi saya amat mengerti nilai-nilai di baliknya. Saya berusaha tidak menghakimi orang lain salah, tapi saya meyakini kebenaran agama yang saya anut. Dan itu sungguh sulit.

Karena cinta itu dibuktikan dengan cara berbeda-beda. Dalam segala agama ada tradisi seperti itu. Tradisi untuk membuktikan cinta, sekaligus membalas cinta, dari Yang Maha Pencinta.

Banyak orang suci menggapai surgawi dengan cara menyepi. Tapi haruskah saya? Karena saya tahu tugas tiap orang berbeda. Dan saya saat ini sedang mempertanyakan kembali apa sebenarnya tugas saya. Karena kita justru bisa menjadi terang saat berada di tempat gelap. Dan saya berupaya menemukan kembali cara berinvestasi paling tepat bagi diri saya. Semata untuk membuktikan bahwa saya adalah seorang pencinta.

Foto seni karya Oddy Widyantoro di www.pixoto.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s