Dunia Orang Dewasa

iStock_000009244809Small

Bila kemarin kita membahas mengenai orangtua dan anak, kini saya membahas mengenai dunia orang dewasa. Secara psikologis, menurut Erik Eriksson dewasa adalah saat usia mencapai 18-35 tahun yang disebut dewasa muda, dan setelahnya 36-50 tahun disebut dewasa, hingga usia 50 tahun ke atas yang disebut “dewasa matang” alias tua. Namun, kematangan psikologis belum tentu terjadi seiring dengan menuanya usia. Karena itu, bila ada ketidakseimbangan ini, maka disebut mengalami gangguan kejiwaan/psikologis dengan penekanan pada gangguan perkembangan mental. Karena itu seringkali kita mendengar istilah: “Tua itu pasti, dewasa itu pilihan”.

Konteks “dewasa sebagai pilihan hidup” itulah yang hendak saya bagi saat ini. Terus-terang, saya seringkali terkejut dengan “dunia orang dewasa”. Ada banyak sekali benturan nilai dengan yang saya anut secara pribadi. Dan sebenarnya, “dunia orang dewasa” itu melelahkan, sama sekali tidak enak. Banyak kemunafikan dan terutama kita harus menjaga hubungan dengan orang lain. Bagi tipe saya, itu menyebalkan. Saya belajar untuk “berpura-pura” sekedar untuk “menjaga perasaan” orang lain. Masalahnya, seringkali orang seenaknya saja “menabrak perasaan” saya hingga membuat saya “terpaksa” marah. Meminjam istilah Stephen Covey: “menarik rekening bank emosi”.

Misalnya saat saya sibuk mengevakuasi kantor sekertariat organisasi yang merupakan kantor saya yang saya pinjamkan, tidak ada yang membantu sama sekali. Itu sih masih tidak masalah. Saya maklum karena Jakarta sedang banjir dan lalu-lintas macet di mana-mana. Tiba-tiba saja ada salah satu di antaranya yang lebih muda daripada saya “menyuruh” saya menyiapkan barang yang dititipkan di sekertariat. Saat mana barang tersebut sudah dievakuasi. Mendadak pula. Cuma satu hari sebelum acara yang dia adakan. Sementara, dia sendiri tidak pernah punya itikad baik kepada saya untuk membantu saat saya minta. Untuk pekerjaan yang saya orderkan, itu bukan bantuan. Karena saya bayar kan? Padahal sudah berkali-kali dia saya bantu, tapi tidak ada timbal-baliknya kepada saya. Secara organisasi, dia pun bukan atasan saya. Maka, saya pun terpaksa marah kepadanya yang bersikap bak tuan besar.

Benturan seperti inilah yang membuat “dunia orang dewasa” tidak nyaman. Bagi yang bekerja, benturan dengan rekan kerja apalagi atasan pasti akan sering. Bagi yang berusaha atau bekerja sendiri (self-employed) benturannya bisa dengan client atau supplier. Seringkali, itu bukan masalah teknis karena masing-masing sudah ahli di bidangnya. Melainkan justru masalah habit atau attitude saja. Karena itu, saya makin menyadari bahwa peran kecerdasan tipe Emotional Quotient (EQ) dan Adversity Quotient (AQ) jauh lebih penting daripada Intellectual Quotient (IQ).

Saya yang berkepribadian Choleric-Dominant pasti akan lebih sering mengalami benturan daripada yang berkepribadian Phlegmatic-Steadiness. Kenapa? Karena cara saya berinteraksi dengan orang lain seringkali membuat orang lain merasa tertekan dan terintimidasi. Saya sudah sering mengalami ini. Dan yang terbaru justru baru kemarin. Orang tidak senang dikejar-kejar dengan tugas. Padahal, bila dikerjakan tak sampai 5-10 menit karena cuma mengirim file melalui e-mail. Saya yang lagi-lagi harus mencari permakluman, ini sebenarnya eufemisme-nya adalah “positive thinking” (saya akan bahas soal ini besok, karena saya amati selama tiga pekan terakhir tulisan berjudul “Positive Thinking, Qona’ah, Istiqomah, Tawakal & Pasrah” masuk jajaran top-10 trending article di blog ini).

Dunia orang dewasa penuh basa-basi, penuh toleransi, penuh kehati-hatian, penuh menjaga jarak, penuh diplomasi, bahkan bisa dibilang penuh kepura-puraan dan kepalsuan. Karena itulah setiap orang perlu keluarga. Tempat pulang dimana kita bisa “telanjang” melepaskan semua itu. Masalahnya, tidak semua orang “punya rumah” dan “keluarga”  sebagai “tempat tujuan pulang”, karena itulah bagi orang-orang seperti ini perjuangan hidup terasa lebih berat. Satu-satunya cara mengatasinya adalah dengan terus belajar, mengembangkan diri begitu rupa. Karena di dunia, satu-satunya yang mampu kita ubah adalah diri sendiri. Bukan orang lain, apalagi dunia.

Foto ilustrasi: www.helpingpsychology.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s