Peningkatan Kapasitas Pribadi Dalam Komunitas

????????????????????????????????????????Sabtu bukan lagi hari untuk bersantai bagi saya. Karena ini justru hari untuk meningkatkan kapasitas pribadi. Hanya dalam konteks ini adalah yang terkait komunitas. Baik sebagai panitia maupun sebagai peserta. Biasanya bentuk acaranya pelatihan atau pertemuan (gathering) yang tidak berbayar. Sementara pelatihan berbayar biasanya diadakan di hari kerja.

Dalam hal ini, saya berusaha seikhlas mungkin karena hampir tidak ada imbal-balik materi. Apalagi dalam konteks pengalaman dan kompetensi, anggota komunitas beragam. Mereka disatukan dalam satu kesamaan seperti kesukaan (hobby), latar belakang seperti asal sekolah, atau kegiatan seperti pengusaha. Namun, ketika berinteraksi baru terlihat adanya berbagai perbedaan tadi.

Agak sulit karena saya yang pada dasarnya sombong disebabkan merasa berkompetensi dan berpengalaman berhadapan dengan orang berego tinggi. Secara kasat mata sebenarnya orang ini ‘kalah kelas’ dibandingkan saya. Tapi rupanya yang bersangkutan gak nyadar sehingga memposisikan dirinya sama tinggi dengan saya. Jangan salah, ini semata permainan peran. Kalau sehari-hari Anda kenal saya, meski saya punya kecenderungan “megalomania”, namun saya ‘tahu diri’. Artinya kapan saya menjadi imam dan kapan menjadi makmum. Bahkan, saya seringkali tidak merasa layak ikut ‘bermain’. Ibaratnya, kalau teman sedang ‘naik panggung’, saya ‘tahu diri’ cukup sebagai ‘tukang kabel’ misalnya. Kalau misalnya ada yang sedang shalat berjamaah misalnya, saya cukup sebagai ‘tukang gelar sajadah’ saja. Sebenarnya, kalau kita pernah berorganisasi, tentu akan tahu soal permainan peran ini. Seperti saya di Paskibraka dahulu, tidak selamanya seseorang menjadi komandan terus. Bisa bergantian dengan anggota lain. Sama saja dengan shalat, imam bisa bergantian dengan yang lain.

Bagi saya, ini menambah latihan kesabaran saja. Namun, ada saatnya kita saya merasa “cukup ya cukup”. Dan sebagai orang Jawa yang relatif bertenggang rasa saya harus agak keras. Karena ada 1-2 orang yang kalau kita tidak tegas bersikap ndablek dan mau menang sendiri. Saya terkadang bingung kenapa orang seringkali nggak ngeh dengan isyarat, tapi saat kita tegas malah kaget. Tapi saya mencoba ingat, bahwa profiling yang bersangkutan ya emang segitu doang. Jadi, wajarlah kalau tingkahnya sro’ol.

Saya harus fokus kembali pada tujuan saya bergabung ke komunitas, yaitu meningkatkan kapasitas diri. Gangguan pada tujuan ini tidak boleh mengalihkan fokus. Apalagi saya sudah dalam posisi ‘memberi’, sementara yang bersangkutan masih ‘mencari’. Jadi, saya tetap berupaya memberi, memberi, dan memberi. Itu saja.

Ilustrasi: theartrium.org.uk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s