Syahadat

syahadat islami

Secara harfiah, syahadat berarti kesaksian. Ini khas istilah agama, berarti pengakuan beriman atas agama tertentu. Dalam Islam, kalimat syahadat hanya ada dua yang dirangkai menjadi satu. Pertama, pengakuan iman atas satu-satunya Tuhan yang disembah. Kedua, pengakuan atas kebenaran utusan Tuhan sebagai pewarta pesan agama. Di Indonesia, dalam kerangka kontekstualisasi, umat Nasrani/Kristiani pun mengadopsi kata “sahadat”. Meski kemudian ada yang menyebutnya “kesaksian iman”. Ini adalah sebuah kredo yang dirumuskan dalam Konsili Nicea 1 tahun 325 M dan Konsili Konstantinopel 1 tahun 381 M. Karena di Indonesia cuma ada 2 denominasi besar yang diakui negara yaitu “Katholik Roma” dan “Protestan”, kesaksian iman keduanya agak mirip. Walau sebenarnya awalnya hanya dipakai oleh Katholik Roma, karena saat itu kelompok reformis belum ada. Lebih panjang dari syahadat Islam karena terdiri dari 3 bagian dengan tak kurang dari 75 kata (panjangnya berbeda tergantung versinya).

Kalau dalam tataran lebih rendah, kita mengenal istilah “sumpah”. Nah, syahadat ini lebih tinggi derajatnya karena punya konsekuensi seumur hidup. Tapi, ada tapinya lho, hanya bagi mereka yang agamis. Dan, ini hanya dikenal di agama samawi atau yang dalam kajian agama disebut “Abrahamic religion”. Dalam agama non-samawi, tanda seseorang masuk atau pindah ke agama tersebut adalah berupa pemberkatan dari pemuka agamanya. Jadi yang bersangkutan pasif sifatnya.

Di dalam Islam, posisi syahadat ini amat penting. Ia menduduki urutan pertama dari “rukun iman”. Seseorang baru disebut Muslim saat sudah mengucapkan kalimat ini. Dalam 24 jam, Muslim yang baik setidaknya mengucapkan syahadat 9 kali dalam 17 raka’at shalat fardhu. Dalam azan dan iqomat, kalimat syahadat juga diperdengarkan 5 kali sehari. Saat bayi lahir dan jenazah hendak dikuburkan, juga dilantunkan azan dan iqomat di telinganya. Dan yang terpenting adalah saat hendak mati, ada ‘jaminan masuk surga’ bagi yang berhasil mengucapkan syahadat -atau bagian darinya- sebagai kalimat terakhirnya. Hal itu berdasarkan hadits berikut:

Dari Mu’adz bin Jabal r.a. dia berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:”Barangsiapa yang ucapan terakhirnya (sebelum meninggal dunia) kalimat “Laa Ilaaha illallah”, maka dia akan masuk surga.” {Hadits riwayat Abu Dawud no. 3116, Ahmad 5/247 dan al-Hakim 1/503. Dishahihkan oleh al-Hakim dan adz-Dzahabi, hasan oleh al-Albani.}

Karena itulah, maka seolah mudah saja mengucapkannya. Sampai-sampai di sinetron atau FTV kita digambarkan orang mudah saja mengucapkan kalimat suci ini. Saya pernah menyaksikan FTV yang mengisahkan seorang yang menggunakan pesugihan saat hidup dan bertobat di akhir hayat lantas mengucapkan dua kalimat syahadat dan mati dengan tesenyum bahagia. Ini sama saja dengan penggambaran di film seorang yang sakit keras lantas berlama-lama mengucapkan nasehat dan wasiat panjang saat akan mati.

Dalam kenyataan hidup, kita tahu tidak begitu. Mustahil orang yang sudah koma lantas bangun cuma untuk mengucapkan ‘pesan-pesan sponsor’ lantas blek, mati. Eaaaa…

Faktanya, di saat manusia hidup dan dalam kondisi sadar dan tidak sakit saja sulit mengucapkan dua kalimat pendek ini. Mereka yang sudah Islam sejak lahir saja sulit, terutama jika mereka tidak beriman. Islam membedakan muslim -orang yang tercatat beragama Islam- dengan mukmin -orang beriman-, dengan yang kedua lebih tinggi derajatnya. Seorang mukmin minimal melaksanakan seluruh ibadah wajib. Di atas mukmin masih ada beberapa tingkatan lagi yang bisa dicapai.

Mengucapkan -apalagi melaksanakan- dua kalimat ini beratnya minta ampun. Di abad pertengahan orang sampai mati karena mempertahankan dua kalimat syahadat. Karena inilah benteng terakhir keimanan. Di masa Reconquista, jutaan muslim Spanyol dibunuh karena tak mau menanggalkan iman Islam mereka untuk kembali menjadi Kristen. Bahkan di awal masa kenabian, seorang sahabat Nabi yaitu Bilal wafat dibunuh setelah disiksa dengan mempertahankan iman sambil berteriak “ahad” artinya “satu”. Ini sama dengan pengakuan ketauhidan. Rasulullah SAW pun bersabda bahwa Bilal dijamin masuk surga. Karena itu ulama berpendapat seseorang yang berhasil mengucapkan kalimat setara dengan kalimat syahadat saat nafas terakhirnya -seperti “Laa ilaha illallah” atau “Allah” saja- sudah dijamin “lulus ujian”. Ini karena orang yang sedang sakit dan nafasnya tersengal-sengal hendak ajal atau malah seperti Bilal yang sedang disiksa, tentu sulit mengucapkan kalimat panjang.

Jadi, bagi muslim, kita harus menyadari mahalnya harga kalimat ini. Meski terkesan ringan, mudah dan gampang, namun perlu keberanian, tekad dan yang terpenting hidayah Tuhan Sejati untuk mengucapkannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s