Nabi & Umatnya (1)

b9Sebagai orang yang “taat azas” terus-terang saya bingung ketika membaca hadits bahwa saat wafatnya ucapan terakhir Nabi adalah “ummati” yang diulang sampai tiga kali. Artinya singkat: “umatku”. Pertama, saya bingung kenapa Nabi sebagai teladan tidak mengucapkan dua kalimat syahadat. Padahal, ada hadits lain yang intinya mengatakan kalau seorang yang mampu mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai ucapan terakhirnya saat menghembuskan nafas terakhir akan dimudahkan masuk surga. Karena itu, dalam FTV kita sering digambarkan orang begitu mudahnya mengucapkan itu. (Padahal sejatinya tidak. Saya akan bahas Jum’at pekan depan).

Jawaban untuk yang pertama ini lama sekali saya pendam. Saya tanyakan pada banyak orang, terutama ustadz dan guru mengaji di lingkungan saya, tidak ada yang bisa menjawab memuaskan. Bahkan ketua masjid pun –yang seorang pejabat di sebuah BUMN- tidak mampu. Saya baru bisa menjawabnya saat mencari-cari sendiri di pikiran, dengan membaca banyak buku saat kuliah S-2. Apa jawabannya?

Pengecualian. Untuk Nabi begitu banyak pengecualian yang hanya boleh dilakukan oleh-Nya. Salah satu yang umat awam tidak tahu adalah Nabi Muhammad SAW memiliki 9 orang istri. Inilah yang membuat Beliau difitnah oleh para orientalis dan anti Islam sebagai “gila cewek”. Padahal, beliau disucikan dari perbuatan semacam itu. Dari sekian banyak istri, kebanyakan adalah para janda tua yang ditinggal mati suaminya. Beberapa dinikahi sekaligus pasca Perang Uhud, dimana suami mereka yang sahabat Nabi syahid. Nabi menikahi mereka semata untuk melindungi kehormatan dan iman mereka. Dari 9 orang itu, hanya Aisyah r.a. yang dinikahi saat masih belia. Dan memang Beliau paling sayang kepada Aisyah r.a.

Nah, untuk soal kata atau kalimat terakhir sebelum nafas terakhir itu, saya mendapatkan rasionaliasinya begini. Nabi itu sudah ma’sum, bersih dari dosa. Ia dijamin masuk surga. Bahkan dari semua Nabi –yang jumlahnya lebih dari 10.000- dan Rasul –yang 25 orang- hanya Beliau SAW yang diberikan hak oleh Tuhan Sejati untuk memberikan syafa’at di hari kiamat. Maka, posisi beliau sebenarnya amat sangat tinggi, bahkan beliaulah satu-satunya manusia dengan derajat tertinggi di mata Tuhan Sejati. Annemarie Schimmel dalam bukunya And Muhammad is His Messenger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety (Studies in Religion) yang pertama kali diterbitkan The University of North Carolina Press pada tahun 1985 dengan jelas menggambarkan itu. Pendeknya, kalau Beliau mau –dan para sahabat serta penerus ajarannya khianat- tentu ia mampu mengklaim diri –dan diklaim- sebagai oknum tuhan. Tapi tidak. Beliau justru mengingatkan berkali-kali pada ketauhidan. Ia mengingatkan bagaimana Isa a.s. dikhianati para pengikutnya karena justru Sang Nabi dipertuhankan. Dan Nabi Suci SAW tidak mau terjadi seperti itu. Saat Nabi SAW wafat pun, banyak yang tak percaya karena mengira sebagai manusia suci beliau akan abadi. Justru saat itu Abubakar r.a. mengingatkan bahwa inilah bukti nyata kekuasaan ALLAH, bahwa Kekasih-Nya saja mati. Dan Yang Tak Bisa Mati dan Maha Kekal Abadi hanyalah ALLAH SWT.

Pengecualian tentang kata atau kalimat terakhir sebelum hembusan nafas terakhir itu adalah bahwa dengan posisi Nabi yang sedemikian tinggi, Ia tak perlu lagi “mencari keselamatan”. Ini juga membantah fitnah para orientalis dan anti-Islam, yang menganggap dengan memerintahkan umatnya mengucapkan shalawat berarti Nabi Muhammad SAW belum selamat. Mereka tidak tahu, bahwa seluruh isi alam semesta bahkan Tuhan Sejati sendiri bershalawat kepada Beliau SAW.

Beliau ‘tidak lagi perlu’ mengucapkan syahadat sebagai kalimat terakhir di ujung kehidupannya untuk “mencari keselamatan”, seperti dianjurkannya kepada umatnya. Dan bayangkan andaikata beliau mengucapkan, maka akan terdengar seperti ini: “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain ALLAH, dan saya bersaksi bahwasanya saya adalah benar utusan ALLAH.” Dengan begitu jelas, kalimat syahadat justru lebih diperuntukkan bagi umatnya, bukan untuk beliau.

(Bersambung Kamis depan)

Ilustrasi: http://s337.photobucket.com/user/fayzun/media/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s