Life is…

Funny-Life-Quotes-9Kalau suatu saat saya berkesempatan menuangkan hidup saya menjadi sebuah film, saya akan memberinya judul “Life is funny” atau bisa juga “Tuhan itu lucu”.  Kenapa begitu? Karena justru Tuhan Sang Pemilik Hidup senang ‘bercanda’ dengan para kekasih-Nya. Tuhan itu nggak kereng-mengkereng lho. Beliau itu Maha Lucu bagi yang sudah maqom-nya sampai. Lho, lha iya. Kalau Tuhan tidak senang melucu, mustahil Ia menciptakan respons bernama “tawa” bagi manusia. Kalau Tuhan tidak senang yang lucu-lucu menggemaskan –unyu kalau kata alay zaman sekarang- mustahil Ia menciptakan kucing, kelinci bahkan bayi segala makhluk yang dengan melihatnya saja kita bisa tertawa. Kalau Tuhan tidak senang lelucon iseng -sori ini guyonan sufi, agak berat- mustahil Ia ngerjain Siti Hajar r.a. bolak-balik Shafa-Marwa 7 kali atau ‘menggoda’ Kekasih tersayangnya Muhammad SAW sehingga beliau ‘ketakutan’ dan meringkuk di balik selimut.

Itulah cara Tuhan memperlakukan para Kekasih-Nya. Lucu? Bagi yang tahu. Tapi jujur, mengesalkan bagi yang memang ingin memandangnya ‘so serious’.

Sama saja dengan acara ‘jebakan betmen’ seperti “SuperTrap” atau “Ups, Salah” di Trans TV. Kalau ‘korban’-nya ikhlas, jadinya lucu. Tapi kalau tidak, wah, bisa berabe.

Itu namanya penyikapan. Respons kita atas suatu masalah. Saya sendiri masih terus belajar soal ini. Melihat segala masalah kehidupan sebagai “lelucon Tuhan”. Dalam hal ini, saya mengelakkan stigmatisasi musibah, ujian atau azab yang sering didakwahkan para ustadz.

Cara ini membuat saya lebih ‘santai’ dalam menghadapi masalah. Saya pribadi menolak cara “eufemisme” alias “penghalusan istilah” seperti tidak menyebut “masalah” dengan “masalah”. Itu sama saja menyebut “kucing” dengan “sejenis mamalia karnivora berkaki empat”. (Ada lho teman yang ngotot bersikap seperti ini, saya tahu ia meniru motivator tertentu). Ini salah. Karena cuma “memindahkan masalah”, bahkan “menutupi masalah”. Padahal, baik ilmu manajemen maupun psikologi atau kedokteran sama, kita akan bisa menyelesaikan masalah bila masalah itu bisa dipetakan (mapping) atau didiagnosa. Bukan disembunyikan dengan “eufemisme”. Dan untuk itu masalah harus dikenali dan diakui dulu, baru bisa diatasi.

Nah, memandang segala masalah hidup sebagai ‘lelucon Tuhan’ bagi saya membuat kita mampu mengambil jarak. Kita memisahkan diri sebagai subyek dari masalah sebagai predikat. Lebih jauh, kita mampu mentertawakan diri sendiri. Ini perlu karena setelah ditelaah, sebagian besar masalah terjadi karena kebodohan kita sendiri. Dan seperti “Mr.Bean” yang konyol, kita bisa melihat hidup ini lucu. Dengan demikian, kita akan mampu mencari solusi dengan kepala dingin dan hati tenang.

Catatan: Kalau Pak Mario Teguh baca, saya yakin dalam waktu tidak lama hal ini beliau angkat di MTGW, hehe. Karena saya mengamati beberapa kali tema yang beliau angkat serupa dengan blog ini. Kenapa saya Pe-De bilang begitu? Karena banyak istilah yang khas blog ini dan pemikirannya orisinal dari saya. Jadi, silahkan saja di-ATM Pak.. senang bisa menginspirasi walau sumbernya tak dipublikasi.🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s