Mencari Ilham

Taman MentengKebalikan dengan posting hari Senin (6/1) lalu, saya menuliskan posting ini di ‘siang hari bolong’, dari Taman Menteng-Jakarta Pusat. Ngapain? Sesuai judul posting ini, ceritanya saya sedang “mencari ilham”. Lho, memangnya “si Ilham” ke mana? Kok pakai dicari segala? Iya nih, “si Ilham” memang sedang main “petak umpet” dengan saya, makanya saya harus mencarinya.

Hari-hari belakangan ini agak dilematis bagi saya. Ada sejumlah problema kehidupan di luar pekerjaan yang harus dicari solusinya. Dan saya ‘berpacu dengan waktu’ untuk menyelesaikannya. Masalahnya, pekerjaan juga tak bisa menunggu. Sehingga saya terpaksa harus ‘mencuri waktu’ seperti sekarang.

Sebagai seorang berkepribadian “introvert”, saya sangat tahu bahwa untuk mendapatkan recharge energi saya musti menyendiri dan menyepi. Malam tahun baru kemarin tidak terlalu sukses sebenarnya, walau saya menikmatinya. Kenapa? Karena tentu dikarenakan adanya pesta kembang api yang riuh. Mana bisa sepi? Sedangkan “si Ilham” maunya ditemui di tempat sepi. Dan di sinilah saya sekarang. Selain mencari ‘sepi’ juga suasana baru. Karena di rumah walaupun sepi tapi malah ‘sumpek’.

Berbeda dengan di luar negeri terutama negara berekonomi maju, di Indonesia agak sulit menemukan taman yang cukup nyaman, terutama bagi orang seusia saya. Tapi berkali-kali mengamati, saya akhirnya tahu bahwa penyiasatan ada di waktu berkunjung. Saat pagi atau siang menjelang sore di hari kerja adalah saat terbaik untuk ‘mencari ilham’.

Di saat seperti inilah saya bisa mengamati realitas kehidupan. Sesulit apa pun keadaan saya, selalu ada orang lain yang lebih sulit. Itu mengingatkan saya agar selalu bersyukur. Hanya saja, kadar kesulitan itu memang berbeda-beda pada diri tiap orang. Apa yang dianggap masalah bagi seseorang, bisa jadi ‘bukan apa-apa’ bagi orang lain. Bahkan, apa yang dulunya masalah bagi kita, bisa jadi bukan lagi masalah saat ini. Sebaliknya kita bisa jadi menghadapi masalah yang belum pernah dihadapi sebelumnya sehingga membingungkan.

Saya sedang mencari ilham bagaimana mencari jalan yang tak ada tembok penghalangnya. Saya mencoba menghindari tembok yang ada di depan jalan kehidupan yang saya lalui. Karena melewatinya sungguh sulit -kalau tak mau dibilang nyaris mustahil-, dan kalau saya menabraknya resikonya saya bisa ‘terluka’. Dalam hal ini, saya sangat sadar pada ‘keterbatasan’ saya sendiri. Baru saja kemarin, Rabu (8/1), ada sebuah peluang senilai ratusan juta rupiah terpaksa saya ‘buang’ karena keterbatasan itu. Lebih baik bilang tak sanggup mengerjakan daripada sudah menyanggupi tapi malah tak maksimal sesuai harapan. Sudah mengecewakan, mendapatkan ‘nama buruk’, dan bisa diganjar penalti material pula. Lebih baik bagi saya mengambil langkah itu, walaupun saya sangat menyesalinya.

Karena saya sangat sadar tindakan itu seperti ‘menolak rezeki’, maka saya harus membuat penyiasatan. Untuk itulah saya sampai memerlukan diri ‘mencari ilham’ di sini. Do’akan saya semoga ALLAH SWT memberikan jalan keluar dan solusi ya. Tidak hanya bagi saya, tapi juga bagi kita semua yang sedang menghadapi problema kehidupan. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s