Memulai Kebiasaan Baru

habit-three-r

(klik pada gambar untuk memperbesar)

Kemarin, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo memulai kampanye pelarangan penggunaan kendaraan pribadi bagi PNS di lingkungan pemerintah DKI Jakarta. Baik di kantornya sendiri maupun di kantor walikota di lima wilayah Jakarta. Kebiasaan baru ini dituangkan dalam sebuah surat instruksi yang berarti mengikat bagi pegawai di lingkungan Pemda DKI Jakarta. Jokowi sendiri memilih naik sepeda bersama komunitas “Bike To Work” untuk berangkat dan pulang kerja. Sementara, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok malah masih menggunakan mobilnya dengan alasan ia harus tiga kali ganti angkutan umum bila tidak begitu.

Saya tidak mempersoalkan kebijakan sang gubernur, karena efektivitas aturan itu yang katanya untuk mengurangi kemacetan juga patut dipertanyakan. Mengingat penerapannya yang hanya di hari Jum’at pertama setiap bulan alias satu bulan sekali saja.

Dalam tulisan ini, saya justru menyoroti mengenai cara memulai kebiasaan (dalam bahasa Inggris: habit) baru. Seperti halnya instruksi Gubernur Jokowi itu, banyak pegawai yang tidak siap, termasuk sang WaGub sendiri. Demikian pula halnya dengan kita. Seringkali, perubahan akan memicu resistensi. Tak ada yang tidak. Di mana pun, para pembaru -termasuk Nabi- menghadapi tantangan dari mereka yang tidak suka perubahan. Mereka ini adalah yang “pro status-quo” atau sekedar ingin tinggal di “zona nyaman”.

Dalam tabel yang jadi ilustrasi di atas, James Clear memformulasikan “3-R” yang disusun dari “Habit Loop” dalam buku The Power of Habit karya Charles Duhigg. Kalau kita terjemahkan ke bahasa Indonesia, mungkin tidak bisa jadi “3-R”, lagi karena itu saya pertahankan singkatannya. Hanya saja saya berikan keterangan seperti di bawah ini:

  1. Reminder alias Pengingat. Anda harus membuat catatan pengingat, bisa di smartphone atau di sticky notes. Bisa juga meminta teman, keluarga atau pasangan hidup untuk membantu.
  2. Routine. Rutinitas. Sebuah kebiasaan harus dilakukan secara rutin agar masuk ke bawah sadar. Saya pernah membaca ada yang menyarankan agar sebuah kebiasaan dirutinkan lebih dulu minimal selama 2 minggu sebelum bisa menjadi habit.
  3. Reward. Ini adalah hadiah bagi diri sendiri sebagai pemicu apabila berhasil menjalankan kebiasaan baru. Tidak perlu mahal dan sulit, cukup misalnya beri waktu kepada diri sendiri untuk relaksasi setelah rutin menjalankan kebiasaan baru. Karena memulai kebiasaan baru ini awalnya bisa jadi melelahkan.

Kebiasaan baru ini terkait dengan target dan tujuan yang hendak dicapai. Apalagi bila ini merupakan resolusi pribadi, dimana tak ada sanksi nyata dari pihak lain, kecuali rasa bersalah dari hati. Disiplin sangat diperlukan untuk memulai kebiasaan baru. Ini tentu agar kita memperoleh hasil nyata dan bukan cuma angan-angan kosong belaka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s