Dendam Positif

tiket Premiere Tenggelamnya Kapal van der Wijk

Kemarin, saya menyaksikan dua film berturut-turut di bioskop. Keduanya film Indonesia berkualitas. Film pertama adalah “Laskar Pelangi 2: Edensor“, sementara film kedua adalah “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk“. Khusus untuk film kedua, saya sengaja menontonnya di kelas Premiere yang lebih mahal, karena film ini memang layak disaksikan secara khusus. Saya membaca, film ini berbiaya tinggi. Ram Soraya selaku produsernya mengatakan inilah film termahal yang pernah mereka buat. Resensi akan segera saya tuliskan di Resensi-Film.com.

Apa yang saya dapat sebagai “benang merah” dari kedua film itu? Satu hal: dendam positif.

Dari film “Laskar Pelangi 2: Edensor”, saya melihat dendam Ikal dan Arai sebagai bagian dari Laskar Pelangi terhadap masa kanak-kanak mereka yang sulit secara ekonomi. Salah satu cara yang efektif adalah dengan menggapai pendidikan setinggi mungkin, hingga ke luar negeri. Usaha keras ini membutuhkan konsistensi dan ketekunan, karena seringkali ada halangan tak terduga muncul. Dalam kasus Ikal, ada godaan untuk menjalin asmara dengan wanita asing yang jadi idola di kampusnya. Hal ini membuat nilai-nilai akademisnya menurun dan nyaris gagal dalam ujian. Justru ingatan pada masa lalu yaitu kondisi keluarganya yang melarat membuat Ikal kembali teringat pada dendam positifnya dan kembali fokus pada tujuan.

Dari film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk“, saya malah melihat kemiripan dengan kisah hidup saya sendiri. Dikhianati pasangan hidup yang berjanji ‘sehidup-semati’ untuk lari dengan lelaki lain yang lebih kaya. Dan kebetulan, ketrampilan Zainuddin yaitu menulis sangat serupa dengan saya. Maka, saya pun terinspirasi untuk ‘membalas dendam’ seperti halnya yang dilakukan Zainuddin kepada Hayati. Tapi jujur, saya rasanya belum bisa sampai pada kondisi seperti ending di film itu yang pada akhirnya ishlah. 

Satu hal yang tampak sederhana itu perlu proses panjang. Mewujudkan ‘dendam positif’ itu sangat sulit. Dalam amarah karena merasa dikhianati atau kecewa pada hidup, biasanya yang terjadi adalah ‘dendam negatif’. Kalau sudah begini, efeknya bisa destruktif. Dan justru percaya pada kuasa Tuhan-lah yang mencegah itu semua. Semoga saya dimampukan Tuhan untuk mewujudkan ‘dendam positif’ ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s