Orde Omdo

Setting panggung saat pembukaan pentas.

Setting panggung saat pembukaan pentas.

Akronim “omdo” adalah bahasa gaul untuk “omong doang”. Dulu, ada akronim lain  dalam bahasa Inggris yaitu “NATO” alias “No Action Talk Only”. Keduanya menjelaskan situasi dimana seseorang dianggap hanya bicara tanpa tindakan. Banyak bicara, peribahasanya “tong kosong nyaring bunyinya”.

Di masyarakat kita, seringkali perilaku ini ditudingkan kepada para pejabat publik. Banyak di antara mereka yang berpidato ini dan itu namun kenyataannya tidak dilakukan.

Fenomena itulah yang ditangkap oleh kelompok teater Indonesia Kita yang diproduseri oleh Butet Kertaredjasa. Berkolaborasi dengan Kayan Production pimpinan Agus Noor dan Orkes Sinten Remen pimpinan G. Djaduk Ferianto, digelarlah pementasan teater berjudul “Orde Omdo”.

Pementasan yang hanya digelar selama dua hari, Jum’at-Sabtu (20-21 Desember 2013) ini kebetulan sempat saya saksikan semalam. Penonton penuh, sampai-sampai saya yang baru saja membeli tiketnya hari Kamis (19/12) harus puas duduk di bagian sayap baris ketiga dari depan panggung. Itu pun tiket tersisa pas tinggal dua yang saya beli. Wow! Tapi ini blessing in disguise bagi saya yang memotret hanya dengan pocket camera, karena jaraknya yang dekat panggung membuatnya mampu merekam dengan lebih baik.

Saya tidak tahu, mana yang jadi penyebab, apakah nama besar Butet dan Djaduk sebagai komedian dan musikus atau memang masyarakat kita yang haus hiburan berkualitas. Tapi yang jelas, menyaksikan pementasan semacam ini membuat saya merasa ‘segar’ dan ‘hidup’.

Meski tidak bermaksud riya’, saya cuma berharap semoga saya tidak termasuk orang yang disindir sebagai ‘omdo’. Karena memang di pementasan itu, yang disindir sebagai pelaku adalah para penguasa “Orde”. Kata “orde” sendiri merupakan penerapan dari bahasa Inggris “order” yang berarti perintah, bisa pula diterapkan sebagai “pemerintah”.

Tabloid Orde OmdoNama asli pemain tokoh utama kebetulan adalah Susilo Nugroho, dan karakter yang dimainkan sebenarnya juga tanpa nama. Di buku panduan berformat tabloid hanya disebutkan sebagai “Kepala Daerah”. Namun, di pementasan dilafalkan namanya sebagai Walikota Susilo Widodo. Kita mungkin segera mafhum bahwa ini merujuk pada penggabungan dua nama tokoh pejabat publik di negara kita.

Saya tidak akan terlalu dalam membahas mengenai pementasannya, karena resensi semacam itu bukan jatah blog harian ini. Akan tetapi, fenomena yang diangkat itulah yang memprihatinkan saya.

Bahkan dalam sambutannya, Butet Kertaredjasa menyebutkan bahwa berkumpulnya kami –pemain dan penonton- teater malam itu bukanlah sebagai acara syukuran atas ditahannya Gubernur Banten Ratu Atut Choisiyah oleh KPK. Memang, di “Jum’at Keramat” siang harinya, kebetulan kejadian faktual itu berlangsung. Ini seakan memberikan ‘pembenaran’ atas ‘analisis’ dan ‘penafsiran’ kelompok teater tersebut. Bahwasanya memang di republik ini kita tengah diperintah oleh suatu rezim bernama “Orde Omdo”. Oemji!

Keterangan:

–         KPK = Komisi Pemberantasan Korupsi.

–         Oemji! = (OMG=Oh My God).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s