Iri Hati & Dengki

Iri hati2Sewaktu SMA, saya meninggalkan legacy bagi Paskibra sekolah saya. Saya menciptakan seragam harian khusus untuk pengurus, berupa seragam putih lengan pendek dengan atribut lengkap di bahu dan lengan, dilengkapi topi dinas. Kalau Anda sekarang melihat banyak Paskibra SMA memakainya, ketahuilah bahwa di Jakarta, SMA saya adalah yang pertama menggunakannya. Dan saya yang menciptakannya. Kami menyebutnya Pakaian Dinas Harian (PDH). Ini melengkapi dua Pakaian Dinas Upacara (PDU) yang sudah ada.

Dalam berkontribusi apa pun, Insya ALLAH saya ikhlas, namun terus-terang tidak mudah. Kenapa? Karena banyaknya mereka yang iri hati dan dengki. Kalau bahasa Betawinya, “sirik”. Tapi saya enggan memakai kata ini karena dalam Islam kata “syirik” memiliki makna lebih dalam: mempersekutukan Tuhan.

Nah, iri hati dan dengki orang lain itu menyebabkan saat menerapkan kebijakan itu, saya dihalangi. Bahkan salah satu legacy saya yaitu lagu “Mars Paskibra” berhasil disabot. Tidak diajarkan dan kini menjadi tidak dikenal lagi di SMA saya. Seragam tadi saja sempat ditentang para senior, bahkan dari Purna Paskibraka Indonesia (PPI). Karena secara struktural Paskibra SMA menginduk kepada PPI. Sebagai anggota PPI, saya lantas memperjuangkan ide itu dan berhasil, walau diiringi tatapan mata iri hati dan dengki tadi.

Sulit memang menghilangkan ini. Saya akui saya juga sering iri pada orang lain, terutama dalam konteks kesuksesan dan ibadah. Bedanya, saya menjadikannya cambuk bagi diri sendiri, dan bukan untuk bergunjing atau memfitnah orang itu. Saya bertekad harus mengejarnya. “Kalau dia saja bisa, kenapa saya tidak?” begitu pikir saya.

Iri hati dan dengki itu negatif karena merusak diri dan orang lain. Kita menjadi tidak adil pada orang yang kita tuju. Apa pun yang ada padanya kita tidak sukai. Bahkan, kita berupaya menjatuhkannya. Misalnya dengan cara menjelek-jelekkan, bergunjing (ghibah) bahkan memfitnah. Hati juga terasa ‘panas’ melulu. Padahal, lebih baik mengurusi perbaikan diri sendiri daripada menentang orang lain. Kalau orang lain punya inisiatif, tanyakan pada diri sendiri manfaatnya. Karena tidak mungkin orang lain berbuat sesuatu kalau tak ada manfaatnya. Dan si pencipta yang meninggalkan legacy jelas berhak atas “hak cipta”-nya. Jangan cuma bisa iri hati dan dengki. Buatlah yang lebih baik. Kalau tidak, habis pahala Anda dihadiahkan kepada orang yang sudah “do something” tadi.

 

Ilustrasi: al-adiyaatsoul-art.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s